Ilustrasi(magnific)
SEBUAH video viral yang memperlihatkan burung merpati bebas berkeliaran di dalam kamar perawatan rumah sakit memicu kekhawatiran publik. Fenomena ini menjadi sorotan tajam terkait standar kebersihan dan protokol pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Aisyah Amanda Hanif, MSc, menegaskan bahwa keberadaan burung liar di ruang perawatan bukan sekadar masalah estetika atau kenyamanan, melainkan ancaman serius bagi kesehatan. Menurutnya, hewan liar dapat membawa mikroorganisme patogen yang membahayakan pasien dengan imunitas rendah.
"Masuknya burung liar ke dalam rumah sakit menunjukkan belum optimalnya pemenuhan standar kebersihan dan pencegahan infeksi. Hewan liar berpotensi membawa mikroorganisme yang dapat membahayakan pasien maupun tenaga kesehatan," ujar dr. Aisyah.
Risiko Kesehatan dari Burung Merpati
Burung merpati dikenal sebagai pembawa berbagai agen penyakit. Penularan dapat terjadi melalui kotoran, bulu, hingga kutu yang menempel pada tubuh burung.
Berikut adalah rincian mikroorganisme berbahaya yang dapat dibawa oleh burung merpati berdasarkan penjelasan dr. Aisyah:
| Jamur (Spora) | Cryptococcus sp., Histoplasma sp. | Infeksi saluran pernapasan serius dan meningitis. |
| Bakteri | Mycobacterium avium complex, Staphylococcus aureus | Infeksi bakteri sistemik dan infeksi kulit. |
| Parasit (Kutu) | Ektoparasit burung | Gatal-gatal dan iritasi kulit pada manusia. |
Selain risiko infeksi, keberadaan burung juga menurunkan kualitas lingkungan rumah sakit. Bulu dan debu burung dapat mencemari udara (airborne), memicu reaksi alergi, serta mengganggu kenyamanan pasien selama masa pemulihan.
Protokol Penanganan dan Pencegahan
Menanggapi insiden tersebut, dr. Aisyah menekankan pentingnya langkah mitigasi yang cepat dan tepat oleh pihak manajemen rumah sakit. Jika burung ditemukan masuk ke ruang perawatan, evakuasi harus dilakukan secara aman tanpa melukai hewan tersebut.
Namun, proses pembersihan pascaevakuasi menjadi poin yang paling krusial.
"Petugas sebaiknya menggunakan masker N95 dan tidak langsung menyapu kering kotoran burung. Hal ini dilakukan agar partikel yang mengandung mikroorganisme tidak beterbangan dan terhirup oleh orang di sekitar," jelasnya.
Sebagai langkah jangka panjang, rumah sakit disarankan untuk:
- Menutup seluruh celah atau akses fisik yang memungkinkan burung masuk ke gedung.
- Memasang imbauan tegas agar pengunjung tidak memberi makan burung di area rumah sakit.
- Melakukan pemantauan kesehatan terhadap pasien atau tenaga medis yang sempat terpapar langsung.
Langkah-langkah preventif ini dinilai vital untuk memastikan lingkungan fasilitas kesehatan tetap steril, aman, dan sepenuhnya mendukung keselamatan pasien. (Z-1)
















































