Jakarta, CNN Indonesia --
HIPMI Otomotif menilai gugurnya sejumlah dealer mobil merek Jepang, lalu diganti ke merek China, tak lain disebabkan oleh transisi kendaraan berbahan bakar konvensional menuju listrik berbasis baterai (BEV).
Jenderal HIPMI Otomotif Hasstriansyah mengakui merek China saat ini telah sangat agresif sebab hadir melalui mobil berlimpah fitur dan teknologi terkini, namun harga tetap terjangkau.
"Model, fitur modern, kualitas, dan harga yang ditawarkan jenama China saat ini sangat kompetitif. Ini yang membuat banyak diler mulai beralih atau menjadi multibrand," kata Hasstriansyah melansir Antara, Kamis (16/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia penggunaan kendaraan yang lebih berpihak kepada lingkungan dianggap memiliki tingkat efisiensi tinggi. Kondisi tersebut yang kemudian dirasa manfaatnya oleh masyarakat di perkotaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbagai aturan nonfiskal yang tidak didapat kendaraan konvensional juga memaksa masyarakat beralih ke kendaraan listrik, salah satunya dapat melintasi kawasan ganjil-genap di Jakarta.
"Tren ke depan teknologi EV semakin dirasakan manfaat nya oleh masyarakat. Kapasitas baterai sudah lebih bagus, jarak tempuh semakin jauh. Proses charging lebih cepat sekarang bisa hitungan menit, serta bebas ganjil genap khusus Jabodetabek membuat masyarakat jatuhkan pilihan beralih ke EV," ucap dia.
Ia menambahkan, ekspansi agresif jenama China di Indonesia juga didorong investasi jangka panjang, dukungan anggaran promosi besar, serta skema margin lebih menarik bagi deler. Hal ini diperkuat oleh kebijakan pemerintah yang mendorong target pengurangan emisi karbon.
Pendekatan value for money juga menjadi kunci, di mana konsumen ditawarkan fitur dan teknologi lebih lengkap tapi harga tetap kompetitif. Kondisi ini, menurutnya, perlu menjadi perhatian serius bagi pabrikan Jepang dan Korea.
"Prinsipal Jepang dan Korea harus menyadari perubahan ini. Mereka tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan jenama dan persepsi lama di pasar," kata Hasstriansyah.
Kekuatan merek Jepang
Meski demikian, ia mengakui merek Jepang masih mendominasi penjualan secara nasional. Namun begitu, tren menunjukkan penurunan pangsa pasar secara tahunan (year on year).
Keunggulan utama jenama Jepang saat ini masih terletak pada nilai jual kembali (resale value) serta kepercayaan konsumen yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
Sebaliknya, merek China dinilai masih menghadapi tantangan dalam hal pembuktian daya tahan produk jangka panjang, khususnya setelah lima hingga 10 tahun penggunaan.
"Ini masih menjadi celah yang dimiliki jenama Jepang. Tapi mereka tidak bisa bertahan hanya dengan itu," ujarnya.
Tidak heran, kesetiaan konsumen otomotif Tanah Air masih didominasi oleh produk-produk Jepang. Menurut data yang dibagikan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), dominasi penjualan terbanyak masih diraih produsen Jepang.
Hanya saja, produsen asal China mulai menduduki peringkat 10 besar. Ini menjadi bukti nyata bahwa pergeseran minat terhadap kendaraan lebih modern dengan harga terjangkau telah terjadi secara perlahan.
Berdasarkan data retail Gaikindo, total penjualan kendaraan dari Januari sampai Maret 2026 mencapai 211.905 unit.
Posisi teratas masih ditempati Toyota dengan total penjualan 64.416 unit dan pangsa pasar 30,4 persen. Penjualan bulanan Toyota tercatat 22.066 unit pada Januari, 22.812 unit di Februari, dan 19.538 unit pada Maret.
Di posisi kedua, saudara satu payung perusahaannya, Daihatsu, membukukan 34.653 unit dengan pangsa 16,4 persen, diikuti Suzuki di posisi ketiga dengan 19.026 unit (9 persen).
Sementara kontribusi penjualan asal China di pasar otomotif nasional menempati peringkat 6 dan 7 dari jenama BYD dan juga Jaecoo. Pabrikan BYD berhasil mendistribusikan kendaraan ke tangan konsumen sebanyak 10.265 unit dan pangsa 4,8 persen dan Jaecoo 7.927 unit (3,7 persen).
(ryh/fea)
Add
as a preferred source on Google

12 hours ago
3

















































