Jakarta, CNN Indonesia --
Suasana Idulfitri di kawasan Timur Tengah tahun ini jauh dari gegap gempita. Dentuman bom, sirene serangan udara, hingga krisis ekonomi yang berkepanjangan membayangi perayaan hari kemenangan bagi jutaan umat Muslim.
Di Beirut, Lebanon, Aziza Ahmad (49) mengaku tak merencanakan apa pun untuk Idulfitri. Tak ada hidangan keluarga, tak pula hadiah untuk anak-anaknya. Di tengah perang dan lonjakan harga kebutuhan, ia merasa "tak ada yang bisa dirayakan".
Apartemen kecil dan sederhana yang ia tinggali bersama suami dan tiga anaknya kini dihuni hingga 12 orang, sebagian merupakan pengungsi. Kondisi ini mencerminkan tekanan yang dirasakan banyak keluarga di negara tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin bagi orang kaya berbeda, tapi kebahagiaan Idulfitri tidak terasa di sini. Kami tidak punya uang, dan para pengungsi bahkan tidak bisa pulang," ujarnya, mengutip AFP.
Krisis ekonomi di Lebanon yang telah berlangsung bertahun-tahun semakin diperparah oleh konflik. Harga kebutuhan pokok melonjak tajam, memaksa banyak keluarga mencari cara bertahan.
Menjelang Idulfitri, Ahmad membuka lapak kecil kue di depan rumahnya untuk menambah penghasilan suaminya yang bekerja sebagai pencuci mobil.
"Kami tidak akan makan satu pun. Semua untuk dijual," katanya.
Di lorong masuk gedung tempat tinggalnya, seluruh anggota keluarga sibuk menguleni adonan dan menghancurkan pistachio. Namun, suasana tetap diliputi kecemasan.
"Kami bahkan tidak akan keluar untuk bermain. Semua orang takut, serangan Israel terus terjadi, jadi kami di rumah saja," kata Yasmine (11), putri Ahmad.
Bayang ancaman di Negara Teluk
Ketegangan juga terasa di negara-negara Teluk yang selama ini dikenal relatif aman. Serangan balasan Iran terhadap target yang berkaitan dengan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari membuat kawasan ini turut dilanda ketakutan.
Hampir 30 orang dilaporkan tewas di negara-negara Teluk sejak konflik pecah.
Di Kuwait, pemerintah bahkan melarang sementara pertunjukan, konser, hingga pesta pernikahan selama Idulfitri guna membatasi kerumunan. Dampaknya terasa di sektor ritel, di mana jumlah pembeli pakaian baru menurun signifikan.
Sementara itu, Qatar menangguhkan seluruh acara publik hingga waktu yang belum ditentukan sejak konflik dimulai.
Di Uni Emirat Arab, salat Idulfitri hanya diperbolehkan di dalam masjid, tanpa kegiatan di ruang terbuka, demi alasan keamanan. Juhi Yasmeen Khan, pekerja sosial asal India yang telah lama tinggal di Dubai, mengatakan perayaan tahun ini terasa berbeda.
"Tidak terasa tepat untuk merayakan secara besar-besaran," ujarnya. Ia memilih merayakan Idulfitri secara sederhana bersama keluarga inti di rumah.
"Bersama-sama, kami akan tetap menjaga semangat Idulfitri," katanya.
Luka di Yerusalem
Bagi warga Palestina di Yerusalem Timur, Ramadan tahun ini terasa belum lengkap. Penutupan Masjid Al-Aqsa oleh otoritas Israel membuat mereka kehilangan salah satu pusat ibadah terpenting.
"Ada rasa sakit di hati kami karena tidak bisa ke Al-Aqsa," kata Ihab (30).
Biasanya, jalan-jalan kota tua dihiasi lampu dan lentera bernuansa Islami. Namun tahun ini, suasana itu menghilang. Gang-gang sempit yang biasanya ramai kini sepi sejak konflik pecah.
Di Bahrain, suara sirene peringatan serangan rudal dan drone menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di sebuah salon kecantikan di ibu kota Manama, seorang anak perempuan berusia lima tahun menunggu tangannya dihias henna menjelang Idulfitri. Ibunya, Maryam Abdullah, menegaskan bahwa perang tidak akan menghentikan keluarganya untuk merayakan.
"Ini pasti akan berlalu. Kami tetap akan menikmati suasana Idulfitri, meski hanya dengan mengunjungi keluarga di rumah," ujarnya.
Hal senada disampaikan Hessa Ahmed, seorang pekerja di Bahrain. Ia tetap berbelanja pakaian dan aksesori untuk menyambut Idulfitri bersama keluarga dan teman.
Di tengah ketidakpastian, sebagian warga memilih tetap merayakan, meski dengan cara yang lebih sederhana. Namun bagi banyak lainnya, Idulfitri tahun ini menjadi pengingat pahit bahwa damai masih jauh dari genggaman.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
2

















































