Bayi Kaget Seperti Mau Jatuh? Kenali Refleks Moro dan Cara Menanganinya

1 day ago 4

CNN Indonesia

Jumat, 29 Mei 2026 08:30 WIB

Refleks Moro normal terjadi pada bayi baru lahir, ditandai bayi terkejut seolah akan jatuh. Orang tua tak perlu panik menghadapinya. Ilustrasi. Refleks Moro normal terjadi pada bayi baru lahir, ditandai bayi terkejut seolah akan jatuh. Orang tua tak perlu panik menghadapinya. (iStock/damircudic)

Jakarta, CNN Indonesia --

Ada beberapa jenis refleks yang terjadi pada bayi yang baru lahir. Salah satunya refleks Moro. Ini merupakan salah satu refleks yang paling umum dan penting untuk dikenali oleh orang tua baru.

Refleks ini biasanya muncul saat bayi baru lahir dan merupakan bagian dari perkembangan normal sistem saraf bayi. Tak sedikit orang tua yang khawatir ketika mereka melihat bayi mereka tiba-tiba terkejut dan melakukan gerakan refleks ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal, refleks Moro adalah respons alami yang menunjukkan bahwa sistem saraf bayi berfungsi dengan baik. Memahami apa itu refleks Moro dan cara menanganinya dapat membantu Anda memberikan penanganan yang tepat.

Apa itu refleks Moro?

Mengutip Cleveland Clinic, refleks Moro adalah refleks bawaan yang dimiliki bayi sejak lahir. Ini adalah respons otomatis yang muncul ketika bayi merasa seperti sedang jatuh atau tiba-tiba terkejut.

Refleks ini juga yang membuat bayi mengambil napas pertama mereka saat lahir. Nama refleks ini diambil dari nama seorang dokter anak asal Jerman, Ernst Moro, yang pertama kali mendeskripsikan refleks ini pada 1918.

Orang tua mungkin dapat melihat refleks Moro, terutama saat meletakkan bayi tidur telentang. Saat itu terjadi, bayi akan melakukan beberapa gerakan khas, seperti meregangkan tangan, menegangkan jari-jari dan ibu jari, menengadahkan kepala ke belakang, dan menangis.

Tak perlu khawatir, reaksi ini adalah bagian dari proses alami yang menunjukkan bahwa sistem saraf bayi sedang bekerja dengan baik.

Bahkan dalam pemeriksaan kesehatan bayi, profesional medis biasanya memeriksa refleks Moro sebagai bagian dari penilaian standar setelah bayi lahir.

Menurut laman National Library of Medicine, refleks ini biasanya sudah muncul sejak usia kehamilan 25 minggu dan biasanya sudah terlihat penuh pada usia 30 minggu kehamilan.

Pada bayi yang sudah lahir, refleks Moro mulai menghilang sekitar usia 12 minggu dan biasanya hilang sepenuhnya saat bayi berusia 6 bulan.

Jika refleks ini tetap ada atau terjadi secara berlebihan, bisa menjadi tanda adanya gangguan perkembangan saraf.

Penanganan tepat dari orang tua saat bayi alami refleks Moro

Bagi orang tua, melihat refleks Moro untuk pertama kalinya bisa menimbulkan kekhawatiran. Namun, perlu diketahui bahwa ini adalah reaksi yang normal dan alami pada bayi.

Tidak ada yang perlu dilakukan saat bayi tiba-tiba terkejut dan melakukan gerakan refleks ini. Beberapa bayi bisa berhenti menangis dengan sendirinya setelah reaksi ini terjadi, sedangkan yang lain mungkin membutuhkan sedikit penghiburan.

Mengutip WebMD, refleks Moro sering muncul saat orang tua mencoba menidurkan bayi. Misalnya, saat Anda membungkuk untuk meletakkan bayi tidur di tempat tidur, bayi bisa tiba-tiba terkejut karena sensasi jatuh.

Begitu juga saat bayi sedang tidur nyenyak dan tiba-tiba terkejut oleh gerakan sendiri. Untuk membantu bayi tidur lebih nyenyak dan mengurangi reaksi ini, beberapa tips berikut ini bisa dicoba:

  • Turunkan secara horizontal: Saat menidurkan bayi, usahakan menurunkan mereka secara perlahan dan horizontal agar tidak menimbulkan sensasi kepala tertarik ke belakang.
  • Peluk dekat: Pegang bayi sedekat mungkin dengan tubuh Anda saat menurunkannya ke tempat tidur. Biarkan tubuh mereka menyentuh kasur sebelum melepaskan pegangan.
  • Pakai bedung: Membungkus bayi dengan kain bedung dapat membantu menenangkan dan mengurangi gerakan refleks Moro. Pastikan bayi selalu tidur telentang untuk mengurangi risiko sindrom kematian bayi mendadak.

Dengan memahami refleks Moro dan cara menanganinya, orang tua dapat memberikan kenyamanan sekaligus mendukung perkembangan neurologis bayi secara optimal.

Adapun reaksi ini adalah bagian dari proses alami. Jadi, tidak perlu khawatir berlebihan, asalkan refleks ini mulai berkurang sesuai usia dan tidak menimbulkan masalah lain.

(rti)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |