(MI/Seno)
BANK sentral menerbitkan uang, tetapi sesungguhnya hidup dari sesuatu yang lebih abstrak: kepercayaan. Uang memperoleh nilai karena masyarakat percaya ia akan tetap diterima. Kebijakan moneter bekerja karena pasar percaya bank sentral akan menjaga stabilitas. Karena itu, aset terpenting Bank Indonesia bukan hanya cadangan devisa, suku bunga kebijakan, atau instrumen intervensi, melainkan juga kredibilitas kelembagaan mereka.
Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia, yang diterima pemerintah pada 26 Juli 2026, segera menjadi perhatian pasar. Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti menjalankan tugas sebagai pejabat sementara gubernur sampai gubernur definitif ditetapkan menurut mekanisme perundang-undangan. Transisi ini sah dan konstitusional. Namun, pada bank sentral, pergantian kepemimpinan selalu membawa pertanyaan lebih besar: apakah kepercayaan terhadap institusi akan tetap terjaga ketika figur berganti?
Pertanyaan tersebut relevan karena Indonesia sedang menghadapi lingkungan moneter yang tidak ringan. Pada 21 Juli 2026, rupiah berada di sekitar 17.885 per US$ setelah tertekan oleh eskalasi konflik geopolitik, kenaikan harga energi, dan ekspektasi pengetatan kebijakan Amerika Serikat. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun berada di kisaran 7,37% pada 24 Juli, mencerminkan premi risiko dan biaya dana yang harus ditanggung perekonomian.
Bank Indonesia merespons dengan mempertahankan BI rate pada 5,75% dalam RDG 21-22 Juli 2026, setelah menaikkannya dari 4,75% pada awal tahun. Kebijakan itu disertai intervensi di pasar spot, DNDF, dan NDF luar negeri, peningkatan daya tarik instrumen moneter, serta insentif bagi arus portofolio asing. Itu menunjukkan bahwa pertahanan rupiah tidak lagi mengandalkan satu instrumen, tetapi bauran antara suku bunga, intervensi, pengelolaan likuiditas, dan komunikasi.
Fondasi eksternal Indonesia masih memadai. Cadangan devisa pada akhir Juni 2026 tercatat US$145,6 miliar, setara dengan pembiayaan sekitar 5,5 bulan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional. Inflasi Juni mencapai 3,34% secara tahunan, masih berada dalam sasaran 2,5±1% meskipun tekanan harga pangan dan energi perlu dicermati. Pada triwulan II, investasi portofolio asing juga membukukan arus masuk bersih US$8,5 miliar.
Angka-angka itu penting, tetapi belum cukup. Cadangan devisa dapat digunakan untuk meredam volatilitas, suku bunga dapat dinaikkan untuk memperkuat daya tarik aset rupiah, dan obligasi dapat menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Namun, apabila pasar meragukan konsistensi mandat, independensi pengambilan keputusan, atau kesinambungan arah kebijakan, biaya menjaga rupiah akan menjadi jauh lebih mahal.
Di sinilah kepercayaan menjadi mata uang bank sentral. Semakin kredibel sebuah bank sentral, semakin kecil kenaikan suku bunga yang diperlukan untuk memengaruhi ekspektasi. Sebaliknya, ketika kredibilitas melemah, kebijakan yang sama dapat menuntut bunga lebih tinggi, intervensi lebih besar, serta biaya pertumbuhan dan fiskal yang lebih berat. Kepercayaan menurunkan premi risiko; ketidakpastian menaikkannya.
INDEPENDENSI SEBAGAI KOMITMEN
Teori time inconsistency Finn Kydland dan Edward Prescott menjelaskan godaan pembuat kebijakan untuk mengejar keuntungan jangka pendek meskipun harus mengorbankan kestabilan jangka panjang. Robert Barro dan David Gordon kemudian menunjukkan bahwa apabila masyarakat memperkirakan pemerintah atau bank sentral akan menoleransi inflasi demi pertumbuhan sesaat, ekspektasi inflasi akan meningkat dan kebijakan kehilangan efektivitas.
Independensi bank sentral hadir untuk mengatasi problem komitmen tersebut. Independensi bukan berarti Bank Indonesia berada di luar demokrasi, tidak perlu berkoordinasi, atau bebas dari akuntabilitas. Independensi berarti keputusan mengenai suku bunga, likuiditas, dan stabilisasi nilai tukar dibuat berdasarkan mandat undang-undang, data, serta kepentingan ekonomi jangka menengah, bukan tekanan politik jangka pendek.
Karena itu, rumor mengenai pergantian kepemimpinan tidak perlu dihadapi dengan polemik berkepanjangan. Jawaban terbaik ialah proses seleksi yang kredibel, transparansi tata kelola, kesinambungan komunikasi, dan konsistensi keputusan. Rumor datang dan pergi; rekam jejak institusi menetap.
Douglass North menyebut institusi sebagai aturan main yang mengurangi ketidakpastian. Francis Fukuyama menempatkan kepercayaan sebagai modal sosial yang memungkinkan institusi bekerja efektif. Bagi bank sentral, keduanya bertemu: aturan yang kredibel melahirkan kepercayaan, sedangkan kepercayaan memperbesar daya pengaruh kebijakan.
BELAJAR DARI BANK SENTRAL DUNIA
Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, dan Bank of Japan memperlihatkan bahwa pendekatan kebijakan dapat berbeda, tetapi fondasinya sama: kredibilitas institusi. The Fed mempertahankan kisaran federal funds rate 3,50-3,75% pada Juni 2026 untuk menyeimbangkan stabilitas harga dan kesempatan kerja. ECB mengoperasikan suku bunga fasilitas deposit sekitar 2%, sedangkan Bank of Japan telah menaikkan suku bunga overnight ke sekitar 1% setelah bertahun-tahun menjalankan kebijakan sangat longgar.
Tidak ada satu resep yang berlaku universal. Amerika memiliki mandat ganda, ECB berpusat pada stabilitas harga, sedangkan Jepang masih menavigasi normalisasi kebijakan setelah era suku bunga ultrarendah. Namun, pasar tidak hanya membaca angka suku bunga mereka. Pasar membaca apakah keputusan konsisten dengan mandat, didukung proses kolektif, dan dijelaskan secara dapat dipercaya.
Transisi dari Ben Bernanke kepada Janet Yellen, lalu Jerome Powell, ataupun dari Mario Draghi kepada Christine Lagarde, tidak menghapus kredibilitas bank sentral mereka. Figur tetap penting, tetapi institusi menyediakan pagar agar arah kebijakan tidak berubah mengikuti preferensi personal atau siklus politik.
MELAMPAUI HAWKISH
Dalam tekanan nilai tukar, sikap hawkish mungkin diperlukan. Namun, suku bunga tinggi bukan obat tanpa biaya. Bergman, Born, Matsa, dan Weber dalam studi NBER (2024) mengenai kebijakan moneter inklusif menunjukkan bahwa kebijakan yang lebih hawkish cenderung memperburuk prospek kerja kelompok dengan keterikatan lebih lemah pada pasar tenaga kerja. Beban pengetatan tidak tersebar secara merata.
Implikasinya bagi Indonesia jelas. Menjaga rupiah merupakan kepentingan nasional karena depresiasi berlebihan dapat memicu inflasi impor, meningkatkan beban utang valuta asing, dan menggerus daya beli. Namun, kenaikan bunga juga dapat memperlambat kredit, investasi, perumahan, dan penciptaan kerja. Kebijakan moneter harus tegas tanpa menjadi tunggal: stabilitas dijaga melalui bauran instrumen, sementara dampak distribusionalnya ditangani melalui kebijakan fiskal, pangan, ketenagakerjaan, dan perlindungan sosial.
Koordinasi diperlukan, tetapi koordinasi tidak boleh berubah menjadi subordinasi. Pemerintah menjaga fiskal dan sisi penawaran; Bank Indonesia menjaga nilai rupiah sesuai dengan mandat mereka. Sinergi yang sehat lahir ketika kedua otoritas saling memperkuat tanpa mengaburkan batas kewenangan.
Pada akhirnya, pengunduran diri Perry Warjiyo bukan hanya peristiwa pergantian pejabat. Ia merupakan ujian apakah Indonesia telah memiliki bank sentral yang punya kredibilitas lebih besar daripada figur yang memimpin mereka. Gubernur dapat berganti, tekanan global dapat berubah, dan instrumen moneter dapat disesuaikan. Namun, satu hal tidak boleh mengalami diskon: kepercayaan. Bagi bank sentral, kepercayaan bukan sekadar reputasi. Kepercayaan ialah mata uang yang membuat seluruh kebijakan moneter bernilai.


















































