Gubernur Banten Andra Soni (tengah) didampingi istrinya, Tinawati Andra Soni (kiri), mengikuti doa bersama untuk jurnalis dan awak kapal yang hilang kontak di Carita, Pandeglang, Banten, Kamis (17/9/2026). Keluarga dan tim SAR gabungan menggelar doa bersam(. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/kye)
OPERASI pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal cepat Kapal Arupadatu I yang hilang kontak di Selat Sunda saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau secara resmi dihentikan setelah berlangsung selama 10 hari.
Penutupan operasi SAR gabungan tersebut diumumkan secara resmi oleh Gubernur Banten Andra Soni dalam konferensi pers di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, Kamis (17/9) petang.
Gubernur Banten Andra Soni menyampaikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten akan terus mendampingi keluarga delapan korban hilangnya Kapal Arupadhatu I di Selat Sunda.
"Pendampingan kami pastikan tetap berlanjut meskipun operasi pencarian aktif oleh Tim SAR Gabungan nantinya dihentikan," kata dia di Pandeglang, Jumat (18/9).
Delapan orang yang berada di dalam kapal tersebut, kata Andra, enam di antaranya merupakan warga Banten yang dikonfirmasi dengan identitas kartu tanda penduduk (KTP).
"Kami akan berkoordinasi dengan pihak keluarga, karena yang paling dibutuhkan keluarga hari ini adalah dukungan dan kepastian informasi," kata dia.
Pemprov Banten, ujar Andra, bertanggung jawab moral memberikan dukungan selama proses penanganan dan pemantauan berlangsung.
Ia menyakini keluarga jurnalis dan kru kapal yang hilang masih menaruh harapan besar agar kedelapan orang yang hingga kini belum ditemukan, dapat segera diketahui keberadaan mereka.
"Kita semua masih memelihara harapan bahwa kawan-kawan dan saudara-saudara kita ini masih bisa ditemukan. Kami akan terus membuka komunikasi untuk berkoordinasi dan menyampaikan setiap perkembangan dari berbagai pihak agar keluarga tidak kehilangan akses informasi," pungkasnya. (Ant/H-4)


















































