Teleskop Roman NASA Mulai 'Bangun', Instrumen Utama Resmi Dinyalakan

7 hours ago 8
Teleskop Roman NASA Mulai 'Bangun', Instrumen Utama Resmi Dinyalakan Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman milik NASA mulai mengaktifkan instrumen utamanya dalam perjalanan menuju titik orbit Lagrange 2 (L2).(NASA)

TELESKOP Luar Angkasa Nancy Grace Roman milik NASA mulai diaktifkan secara bertahap saat melanjutkan perjalanannya menuju lokasi orbit akhir di luar angkasa. Observatorium canggih ini sedang menempuh perjalanan selama tiga bulan menuju titik Lagrange 2 (L2), sebuah wilayah orbit stabil yang berjarak sekitar 1,6 juta kilometer dari Bumi.

Posisi di L2 memungkinkan Teleskop Roman berada di sisi malam Bumi dan membelakangi Matahari. Lokasi ini dinilai sangat ideal bagi teleskop untuk mengoperasikan dua instrumen utamanya, yaitu Wide Field Instrument (WFI) dan Coronagraph Instrument.

Meskipun instrumen tersebut belum siap mengumpulkan data ilmiah, pembacaan awal dari teleskop menunjukkan seluruh komponen berada dalam kondisi normal. Sebelum beroperasi penuh, perangkat ini masih harus menjalani kalibrasi dan pengujian selama kurang lebih satu bulan.

"Ini adalah pencapaian besar bagi tim di Goddard, tim industri kami di BAE Systems, Inc. dan Teledyne, serta pusat-pusat sains kami," kata Josh Schlieder, ilmuwan Wide Field Instrument di Goddard Space Flight Center NASA.

Pengujian Kamera Inframerah 300 Megapiksel

Instrumen WFI merupakan kamera inframerah berkapasitas 300 megapiksel yang dirancang untuk memetakan area langit yang sangat luas. Para ilmuwan berencana menggunakan kamera ini untuk mengambil citra alam semesta secara cepat, mempelajari energi gelap (dark energy), serta memetakan distribusi materi di seluruh kosmos.

Sebelum WFI dinyalakan, para insinyur mengondisikan instrumen tersebut selama 10 hari pada suhu sekitar -65 derajat Celsius untuk menghilangkan kontaminan seperti uap air. Selanjutnya, sistem pemanas dimatikan hingga suhunya turun ke -143 derajat Celsius, sehingga detektor inframerahnya siap diaktifkan. Suhu instrumen ini akan terus diturunkan hingga mencapai suhu operasional ideal di kisaran -183 derajat Celsius.

Setelah sensor inframerah berhasil diaktifkan, tim enginering melanjutkan pengujian komponen roda elemen (element wheel) dan memverifikasi komponen fokus yang berfungsi dengan baik.

Pengujian Instrumen Koronagraf

Di saat yang sama, instrumen Koronagraf milik Roman juga telah menyelesaikan langkah-langkah awal pengaktifannya. Instrumen ini dikendalikan dari Coronagraph Commanding Center di Caltech/IPAC, Pasadena, California. Koronagraf bekerja menggunakan rangkaian cermin, topeng, dan sensor untuk memblokir cahaya bintang yang terang agar cahaya planet yang lebih redup di sekitar bintang tersebut dapat terdeteksi.

Dalam pengujian awal, instrumen ini sempat dipanaskan hingga suhu 22 derajat Celsius untuk mensimulasikan kondisi laboratorium di Bumi. Langkah ini memudahkan para insinyur melakukan pengujian pada cermin yang dapat berubah bentuk (deformable mirrors).

"Setelah pengujian ini selesai, kami telah melakukan dekontaminasi: membiarkannya diam dengan detektor tetap hangat sehingga apa pun yang menempel pada permukaan, seperti air atau zat kimia jejak, dapat terlepas," kata Eric Cady, insinyur optik yang memimpin upaya komisioning Koronagraf Roman di Jet Propulsion Laboratory NASA.

Proses dekontaminasi Koronagraf ini akan berlangsung selama 30 hari bersamaan dengan kalibrasi rutin lainnya. Sisa perjalanan observatorium menuju titik L2 diperkirakan memakan waktu sekitar 12 minggu lagi.

NASA menargetkan Teleskop Roman dapat merilis gambar ilmiah pertamanya pada awal tahun 2027. Berkat akurasi roket peluncur SpaceX Falcon Heavy dan efisiensi bahan bakar selama koreksi jalur awal, teleskop ini diperkirakan memiliki cukup bahan bakar untuk beroperasi hingga 22 tahun ke depan. (Space/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |