Belajar dari EF Schumacher, Sistem Ekonomi untuk Alam dan Manusia

2 hours ago 3

Oleh: Buya Anwar Abbas*)

EF Schumacher adalah seorang ahli ekonomi berkebangsaan Jerman. Sesudah Perang Dunia II hingga tahun 1971, dia ditunjuk menjadi penasihat ekonomi British Control Comission di Jerman.

Schumacher menulis sebuah buku yang sangat terkenal: Small is Beautiful. Di dalamnya, ia banyak bercerita tentang ekonomi rakyat kecil.

Mengapa Schumacher tertarik dengan ekonomi rakyat kecil? Menurutnya, ukuran besar itu tidak baik dan merupakan kutukan.

Tidak peduli apakah yang besar itu birokrasi pemerintahan atau swasta. Sebab, hemat Schumacher, dari yang serba besar itulah akan timbul sikap tak peduli kepada pribadi. Yang besar-besar itu tidak lagi mempertimbangkan sisi-sisi yang terkait dengan perasaan.

Dalam hal seperti itu, kata Schumacher, yang lebih mengemuka adalah hawa nafsu dan keinginan untuk memusatkan kekuasaan pada satu tangan. Jika ingin melihat keindahan, itu akan bisa kita dapatkan dalam sesuatu yang kecil.

Sebab, di situlah kita akan bisa menemukan kebebasan, efisiensi, kreativitas, daya cipta, kenikmatan dan kelestarian.

Itulah mengapa, sebagai seorang ahli ekonomi Schumacher tidak tertarik dengan penanaman modal dan produksi besar-besaran. Pun tidak tertarik dengan perencanaan pembangunan yang terpusat dan penggunaan teknologi maju.

Schumacher lebih tertarik dengan cara Mahatma Gandhi yang bertolak dari perdesaan. Tokoh India ini lewat sikap dan tindakannya selalu berusaha untuk memperkaya cara hidup tradisional dengan mengembangkan kerajinan tangan dan kegiatan produksi padat karya.

Menurut Schumacher, yang perlu dikembangkan bukanlah ekonomi yang serba terpusat, melainkan ekonomi negara yang didasarkan pada desentralisasi walaupun hal tersebut disadari akan memperlambat pertumbuhan kota dan industri.

Schumacher sadar betul, ilmu ekonomi yang dimiliki Gandhi berbeda dengan ilmu ekonomi pada umumnya. Namun, menurut dia, pandangan ekonomi tokoh antikolonial itu merupakan hasil pemikiran seorang manusia yang arif, menekankan sikap hidup sederhana dan hemat, serta berusaha melakukan perubahan secara berangsur-angsur.

Menurutnya, mengejar kemajuan dengan cara melakukan perubahan sosial secara besar-besaran hanya akan membinasakan moral rakyat. Publik menjadi tak berdaya serta akan tergantung pada orang-orang kaya dan para ahli yang jumlahnya segelintir saja.

Gandhi, dalam pandangan Schumacher, ingin mengembangkan ekonomi yang dimulai oleh dan dari rakyat kecil. Ini ditujukan untuk kepentingan mengangkat harkat dan martabat mereka.

Cara pandang inilah, demikian Schumacher, yang tidak dipahami oleh cendekiawan kota. Mereka tidak paham tentang kehidupan desa.

Mereka melihat tanah sebagai salah satu faktor produksi sehingga dunia pertanian yang ada selama ini di tangan rakyat kecil ingin mereka ubah menjadi industri pertanian berpenghasilan tinggi.

Akibatnya, penduduk tersingkir dan pergi meninggalkan desanya untuk berpindah ke kota. Perkotaan akhirnya menjadi tempat tinggal yang padat dan terjadilah krisis sosial dan kemacetan yang hebat.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |