Belajar dari Iran, Begini Cara Bertahan di Tengah Darurat Ekonomi

5 hours ago 5

Seorang warga Iran berjalan di samping mural anti-AS dan Israel di sebuah jalan di Teheran, Iran, 8 Mei 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Ketimbang yang dialami Indonesia belakangan, kesulitan ekonomi yang mendera Iran jauh lebih dalam dan lebih lama. Bagaimana kemudian negara itu bertahan selama empat dekade terakhir?

“Kalau dibilang, kami sudah jadi doktornya sanksi,” kata Duta Besar Iran Mohammad Boroujerdi berkelakar saat berkunjung ke Republika beberapa waktu lalu.

Sanksi Barat terhadap Iran sedianya sudah dimulai sejak Revolusi Islam pada 1979. Namun, sanksi itu semakin intensif setelah gagalnya Rencana Aksi Komprehensif Bersama pada tahun 2018, ketika Amerika Serikat menerapkan kembali pembatasan besar-besaran terhadap sektor energi, sistem perbankan, dan perdagangan internasional Iran. 

Langkah-langkah ini dimaksudkan untuk secara signifikan mengurangi pendapatan minyak negara tersebut dan mengisolasinya dari sistem keuangan global. 

Indikator ekonomi setelah pemberlakuan kembali sanksi menunjukkan tanda-tanda ketegangan yang jelas. Inflasi meningkat tajam dan Rial Iran mengalami depresiasi tajam terhadap mata uang utama. Menurut penilaian ekonomi, perkembangan ini secara signifikan mengurangi daya beli rumah tangga dan membatasi investasi asing.

Terkait itu, kata Boroujerdi, bangsa Iran sudah sejak revolusi mengembangkan yang namanya ekonomi perlawanan. Ayatollah Khomenei sejak awal menanamkan agar negara itu merdeka dari dikte negara asing. 

Dilansir Atlas Institute for International Affairs, untuk menghindari sanksi, negara ini telah mengembangkan strategi logistik kompleks yang memungkinkan pengiriman minyak mencapai pasar internasional melalui jalur tidak langsung. Strategi ini seringkali melibatkan perpindahan antar kapal di laut, penggunaan perusahaan pelayaran perantara, dan penghentian sementara sistem pelacakan kapal tanker. 

Praktek-praktek seperti ini menyulitkan regulator untuk melacak asal muasal muatan minyak atau memantau tujuan akhir mereka. Sejumlah besar ekspor tidak langsung ini diyakini mencapai pasar di China, dan sering kali dijual dengan harga lebih murah melalui perusahaan perdagangan perantara. 

Penjualan dengan potongan harga ini menyebabkan hilangnya pendapatan secara signifikan bagi Iran, namun hal ini telah memfasilitasi perdagangan yang sedang berjalan, sehingga sektor energi Iran dapat bertahan meskipun ada sanksi.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |