MBG (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Bantuan Hukum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (LBH PP GP Ansor) menerima pengaduan dari 13 pengasuh pondok pesantren di Jawa Barat terkait dugaan penipuan berkedok program Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Para kiai dan pengasuh pesantren itu mengaku menjadi korban pihak yang mengatasnamakan Koperasi Santri Nusantara atau Dapur Santri Nusantara (DSN).
Pengaduan tersebut disampaikan pekan ini saat para pengasuh pesantren mendatangi kantor LBH PP GP Ansor di Jakarta Pusat. Mereka melaporkan kerugian finansial yang nilainya mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per pesantren.
Kasus ini bermula ketika DSN menawarkan program pembangunan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan pesantren sebagai mitra Badan Gizi Nasional (BGN). Untuk mengikuti program tersebut, pihak pesantren diminta mengajukan proposal dengan syarat memiliki lahan seluas 400 meter persegi.
Selain itu, pesantren juga diwajibkan membayar biaya pendaftaran sekitar Rp1,5 juta dan menandatangani perjanjian commitment fee. Setelah itu, DSN menunjuk kontraktor untuk membangun dapur MBG dengan skema pembayaran bertahap.
DSN menjanjikan seluruh biaya pembangunan dapur akan diganti setelah program berjalan. Namun, setelah berbulan-bulan, janji tersebut tak kunjung terealisasi. Uang pembangunan tidak diganti, sementara kantor DSN diketahui telah berpindah dan para pengurusnya tidak lagi dapat dihubungi.
Salah satu pengasuh pesantren asal Cirebon, KH Ade Abdurrahman mengungkapkan pola yang digunakan terhadap setiap pesantren korban serupa. Menurut dia, para kontraktor bersedia membangun karena proyek tersebut melibatkan yayasan pesantren.
"Saya pribadi sudah menjual mobil dan aset lainnya. Jadi kami dari pesantren benar-benar sudah tercemar ditengah masyarakat bahkan banyak warga yang berharap bisa bekerja di dapur MBG tersebut," ujarnya dalam keterangan pers yang diterima pada Sabtu (2/5/2026).

6 hours ago
8

















































