Jakarta, CNN Indonesia --
Nilai tukar rupiah masih berada dalam bayang-bayang tekanan ketidakpastian global yang belum mereda. Kombinasi sentimen global dan dinamika dalam negeri membuat arah pergerakan rupiah terhadap dolar AS kian sulit diprediksi, dengan potensi pelemahan dan penguatan sama-sama terbuka dalam jangka pendek.
Mata Uang Garuda bahkan sudah beberapa kali bergerak di atas Rp17.000 per dolar AS. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung lama, apalagi kondisi perang di Timur Tengah masih memanas.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, dalam waktu dekat rupiah masih berpeluang melemah hingga kisaran Rp17.200-Rp17.300 per dolar AS. Namun, arah pergerakan selanjutnya sangat bergantung pada sejumlah faktor kunci.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangka pendek Rp17.200-Rp17.300 bisa. Penguatan tergantung apakah karna intervensi, data ekonomi atau perdamaian di Timteng. Kalau damai bisa balik ke Rp16.500-Rp16.700. Di luar itu Rp16.900-Rp17.000," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (13/4).
Ia menekankan bahwa sentimen geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, masih menjadi penentu utama pergerakan rupiah. Meski demikian, tekanan dari dalam negeri juga tidak bisa diabaikan.
"Sentimen eksternal geopolitik masih yang utama. Walau domestik juga ikut menekan rupiah, seperti cadev yang menurun, surplus mengecil, defisit angggaran," imbuhnya.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M Rizal Taufikurahman. Ia menilai, posisi rupiah di atas Rp17.000 per dolar AS saat ini masih tergolong aman secara fundamental, tetapi sudah masuk dalam zona rentan.
"Rupiah di atas Rp17.000 per dolar AS saat ini masih relatif aman secara fundamental, tetapi jelas berada dalam zona rentan. Pelemahan lebih dipicu faktor eksternal yaitu menguatnya US dollar, suku bunga global tinggi, dan capital outflow," jelas Rizal.
Namun demikian, Rizal menilai tekanan terhadap rupiah belakangan tidak hanya datang dari faktor global, tetapi juga semakin dipengaruhi oleh persepsi pasar terhadap kondisi domestik.
"Terapresiasinya rupiah ini bukan karena faktor eksternal saja, justru karena didominasi oleh faktor domestik isu. Meskipun sementara indikator makro Indonesia masih cukup solid seperti pertumbuhan sekitar 5 persen, rasio utang sekitar 40 persen PDB, dan cadangan devisa di atas US$150 miliar," ujarnya.
Ia menambahkan, tekanan juga datang dari sisi fiskal yang semakin ketat serta menurunnya kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN). Hal ini membuat stabilitas rupiah sangat bergantung pada kepercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah.
"Tekanan tetap ada dari sisi fiskal yang makin ketat dan penurunan kepemilikan asing di SBN, sehingga stabilitas rupiah sangat bergantung pada kepercayaan pasar dan respons kebijakan," lanjutnya.
Dalam proyeksinya, pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut, meski level Rp18 ribu per dolar AS bukanlah skenario dasar, melainkan skenario stres jika terjadi kombinasi shock global dan penurunan trust domestik.
Untuk skenario normal, ia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.800-Rp17.300 per dolar AS. Sementara jika tekanan meningkat, pelemahan bisa berlanjut hingga Rp17.500-Rp18 ribu.
Di sisi lain, ruang penguatan rupiah dinilai cukup terbatas dalam jangka pendek. Kembali ke level Rp15 ribu per dolar AS dinilai sulit terealisasi dalam waktu dekat.
"Apabila ruang penguatan terbatas kembali ke Rp15 ribu hampir tidak realistis dalam jangka pendek, dengan kisaran penguatan optimal hanya paling di sekitar Rp16 ribu-Rp16.500. Intinya, isu utama bukan level rupiah, tetapi daya tahannya terhadap tekanan eksternal dan kemampuan menjaga kepercayaan pasar domestik," tegasnya.
Rizal menambahkan, pelemahan rupiah yang cenderung persisten belakangan ini mencerminkan meningkatnya peran faktor domestik, terutama terkait arah kebijakan fiskal dan kebutuhan pembiayaan.
"Tidak hanya eksternal, namun dalam beberapa waktu terakhir pelemahan rupiah juga semakin dipengaruhi faktor domestik terutama persepsi pasar terhadap arah kebijakan fiskal, meningkatnya kebutuhan pembiayaan, serta penurunan kepemilikan asing di SBN," katanya.
Meski demikian, ia menilai fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat, ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil, rasio utang yang terjaga, serta cadangan devisa yang relatif tinggi.
Ke depan, Rizal menekankan pentingnya menjaga disiplin fiskal, misalnya dengan defisit tetap di bawah 3 persen dan memperkuat koordinasi kebijakan untuk meredam tekanan terhadap rupiah.
"Koordinasi fiskal dan moneter harus diperkuat agar kebijakan tidak saling meniadakan. Dalam kondisi saat ini penguatan rupiah bukan hanya soal intervensi pasar, tetapi sangat bergantung pada kemampuan pemerintah memulihkan kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi," tutupnya.
(ins)
Add
as a preferred source on Google

10 hours ago
2

















































