BMKG Peringatkan Kekeringan Ekstrem di NTB, 17 Kecamatan Berstatus Awas

2 hours ago 1

Foto udara kawasan persawahan yang mengering di wilayah Lombok Timur, NTB, Rabu (12/6/2024). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) NTB menyatakan berdasarkan monitoring dan prediksi curah hujan dasarian, delapan daerah di NTB berpotensi untuk bersiaga mengalami kekeringan meteorologis di antaranya di Kabupaten Dompu (Kecamatan Kempo, Kilo, Pajo), Bima (Kecamatan Belo, Donggo, Lambitu Palibelo, Wawo, Wera), Kota Bima (Kecamatan Raba, Rasanae Timur), Lombok Barat (Kecamatan Lembar), Lombok Timur (Kecamatan Sambelia), Lombok Utara (Kecamatan Bayan), Sumbawa (Kecamatan Labuhan Badas, Lape, Moyohilir, Sumbawa, Unter Iwes) dan Sumbawa Barat di Kecamatan Jereweh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan tujuh dari 10 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat (NTB) berstatus awas kekeringan meteorologis akibat musim kemarau yang diperkuat fenomena El Nino. Kondisi tersebut meningkatkan risiko krisis air bersih hingga kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.

Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini mengatakan, Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo di Kabupaten Bima tidak mencatat hujan selama 74 hari berturut-turut.

"Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo di Kabupaten Bima tidak mencatat adanya hujan selama 74 hari berturut-turut. Kedua daerah itu masuk kategori kekeringan ekstrem karena sudah lebih dari dua bulan tanpa hujan," kata Suci di Mataram, Sabtu (1/8/2026).

Suci menjelaskan, tujuh daerah yang berstatus awas kekeringan meliputi Kabupaten Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima, serta Kota Bima.

Saat ini terdapat 17 kecamatan di tujuh daerah tersebut yang berada pada level tertinggi peringatan dini kekeringan meteorologis.

Menurut Suci, fenomena El Nino yang semakin menguat selama musim kemarau tahun ini menyebabkan periode tanpa hujan terus bertambah panjang di sejumlah wilayah.

Kondisi El Nino diperkirakan masih akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan. Sementara itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini berada pada fase netral diproyeksikan berubah menjadi fase positif pada September hingga Desember 2026.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |