Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah membuka perdagangan di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (5/5/2026). Tekanan ini terjadi di tengah menguatnya dolar AS di pasar global.
Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.380/US$ atau terdepresiasi sebesar 0,09%.
Pelemahan ini sekaligus melanjutkan tekanan pada perdagangan sebelumnya, ketika rupiah ditutup melemah 0,36% ke posisi Rp17.365/US$ yang merupakan posisi penutupan terlemah rupiah sepanjang masa.
Sementara itu, indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau menguat. Per pukul 09.00 WIB, DXY naik 0,15% ke level 98,521.
Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih akan dipengaruhi oleh sentimen domestik maupun eksternal.
Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada hari ini.
Berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 lembaga/institusi, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5,40% secara tahunan atau year-on-year/yoy. Namun secara kuartalan, ekonomi diproyeksi terkontraksi 1,0% dibandingkan kuartal sebelumnya atau quarter-to-quarter/qtq).
Jika sesuai proyeksi, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 akan menjadi yang tertinggi sejak kuartal III-2022 yang saat itu mencapai 5,73%. Capaian tersebut juga berpotensi menjadi pertumbuhan ekonomi tertinggi pada era Presiden Prabowo Subianto.
Sebagai informasi, ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 tumbuh 5,38% yoy.
Dari sisi eksternal, dolar AS kembali menguat di pasar global. Kondisi ini didorong oleh permintaan aset safe haven seiring kembali meningkatnya eskalasi perang di Timur Tengah.
Ketegangan kembali meningkat setelah pasukan AS disebut berhasil menahan serangan Iran saat mengawal dua kapal berbendera AS yang melintasi Selat Hormuz.
Di sisi lain, Uni Emirat Arab melaporkan berhasil mencegat rudal jelajah yang diluncurkan Iran, sementara kebakaran besar di Pelabuhan Fujairah disebut terjadi akibat serangan drone.
Situasi tersebut kembali mengangkat harga minyak, dolar AS, dan imbal hasil US Treasury secara bersamaan. Pasar khawatir tekanan harga energi dapat kembali memicu inflasi dan membuat bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, bahkan membuka ruang kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi memburuk.
Menguatnya dolar AS di pasar global pada akhirnya mempersempit ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Kondisi ini membuat rupiah masih rentan bergerak tertekan pada perdagangan hari ini.
(evw/evw)
Addsource on Google

2 hours ago
4

















































