Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun 2026 baru berjalan empat bulan, tetapi sejumlah perusahaan di Amerika Serikat (AS) telah melakukan PHK besar-besaran. Beberapa perusahaan menggunakan AI sebagai alasan melakukan pemangkasan pekerja.
Salah satu yang melakukan PHK adalah Meta pada Januari lalu. Perusahaan itu memangkas sekitar 10% dari divisi Reality Labs, unit yang bekerja untuk menciptakan teknologi seperti virtual reality (VR) dan augmented reality (AR).
Bulan lalu, Meta juga dikabarkan akan melakukan PHK pada 15.800 pekerja. Kebijakan baru ini dilakukan karena AI menyita banyak dana perusahaan, termasuk untuk menarik talenta, membangun pusat data dan mengakuisisi perusahaan terkait.
Reuters mencatat ada beberapa perusahaan lain yang melakukan PHK, seperti Pinterest yang memecat kurang dari 780 orang atau 15% dari total pekerja. Begitu juga Amazon yang memangkas 16 ribu pekerja.
Pada April ini, Snap dan Disney juga mengumumkan akan memecat banyak pekerjanya. Keduanya akan memangkas 1.000 posisi pada masing-masing perusahaan.
PHK tak hanya terjadi di sektor teknologi. Sektor lain yang terhantam badai PHK termasuk ritail, manufaktur, hingga keuangan.
Berikut daftar perusahaan teknologi yang melakukan PHK selama 2026, dikutip dari Reuters, Kamis (16/4/2026):
Januari
Pinterest: kurang dari 780 orang
Autodesk: sekitar 1.000 orang
Meta: 10% dari divisi Reality Labs
Amazon: sekitar 16 ribu
AngiL: sekitar 350
Februari
Washington Post: jumlah tidak diketahui
Workday: jumlah tidak diketahui
C3.ai: sekitar 307
Maret
Atlassian : sekitar 1.600
Meta: sekitar 15.800 atau lebih
April
Disney: Diabarkan sekitar 1.000 pekerja
Snap: sekitar 1.000 pekerja.
Perusahaan Ogah Rekrut Karyawan Baru
Bukan cuma dihantui ancaman PHK, para lulusan kuliah (fresh graduate) dan pengangguran yang masih berjuang mendapat pekerjaan juga kian tertekan.
Sebelumnya, Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari mengungkapkan AI membuat perusahaan besar memperlambat perekrutan karyawan baru. Kondisi tingkat perekrutan dan PHK yang rendah diperkirakan bakal terus berlanjut di pasar tenaga kerja. Hal ini berpotensi membuat pengangguran makin sulit mendapat pekerjaan baru.
Kendati demikian, dampak perlambatan perekrutan karyawan baru dikatakan tidak terlalu terlihat pada perusahaan kecil. "AI benar-benar berdampak ke perusahaan besar," ungkapnya, dikutip dari CNBC Internasional, beberapa saat lalu.
Pernyataan Kashkari sejalan dengan fenomena yang terjadi di Inggris. Morgan Stanley menyebutkan pekerja di Inggris lebih terdampak adopsi AI dibandingkan pekerja di tempat lain.
Tahun lalu saja, perusahaan di wilayah tersebut memangkas 8% dari tenaga kerja dan jadi yang terburuk di antara negara lain, seperti Jerman, AS, Jepang, dan Australia.
Perusahaan-perusahaan di Inggris Raya memang mengalami peningkatan produktivitas akibat AI rata-rata 11,5%. Namun dampak negatif seperti PHK dan perlambatan perekrutan karyawan baru menjadi momok bagi perekonomian.
Dikutip dari Cryptopolitan, lowongan pekerja mengalami penurunan di Inggris, khususnya untuk posisi yang ditangani oleh AI, misalnya pengembang software atau konsultan,
Data dari Kantor Statistik Nasional menyebutkan lowongan pekerjaan yang rentan pada AI turun 37%. Sementara posisi lainnya mengalami penurunan mencapai 26%.
"Meningkatnya biaya memperkerjakan staf mendorong makin banyak bisnis kecil untuk menggunakan AI dan solusi outsourcing untuk memenuhi peran tradisional diisi penduduk lokal yang sekarang kehilangan kesempatan ini," jelas Justin Moy dari EHF Mortgages.
Morgan Stanley mengatakan perusahaan-perusahaan di Inggris telah memangkas atau tidak mengisi kembali seperempat posisi yang ada di dalamnya. Semua itu diakibatkan karena AI, yang juga dialami oleh negara-negara lain.
(fab/fab)
Addsource on Google

13 hours ago
3

















































