Jakarta, CNN Indonesia --
Pertemuan puncak dua pemimpin dunia, Amerika Serikat Donald Trump dan China Xi Jinping jadi berita di seluruh dunia, sejak Kamis (14/5).
Namun dibalik pertemuan bersejarah tersebut terselip insiden yang menimpa para wartawan dan staf yang ikut dalam rombongan Presiden Trump.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti terekam oleh juru kamera dari sutradara Bret Ratner, yang pernah membuat film "Rush Hour".
Kekacauan pertama terjadi sekelompok wartawan China menyerbu pertemuan bilateral Trump dengan Xi di pagi hari.
Suasana yang ramai membuat seorang staf gedung putih yang tidak disebutkan namanya jatuh dan terinjak.
Staf pendahulu itu mengalami memar meski tidak mengalami luka serius. Saking kacaunya, satu anggota delegasi AS terdengar menyebutnya sebagai "kekacauan total" seperti dikutip dari New York Post.
Tidak berhenti sampai di sana, para pejabat China juga disebut berupaya untuk mengendalikan ketat tamu-tamu Amerika.
Salah satunya, wartawan AS diberi akses terbatas ke kamar mandi dan penyitaan botol air minum.
"Tidak ada minuman lain yang disediakan untuk pers Amerika meskipun matahari bersinar terang dan suhu mencapai lebih dari 80 derajat di ibu kota Tiongkok," tulis laman tersebut.
Dan yang tak kalah seru adalah ketika Trump dan Xi usai keliling "Kuil Sorga", warisan dunia berusia 600 tahun.
Setelah keduanya berfoto, mereka melanjutkan melihat-lihat kuil. Tapi pers Amerika dibawa ke ruang tunggu dan dikurung di dalamnya.
Ketika tiba waktunya Trump berangkat, para pejabat Tiongkok menolak mengizinkan para wartawan untuk bergabung kembali dengan iring-iringan mobil presiden, hingga memicu perdebatan sengit.
Di tengah seruan berulang-ulang "kami harus pergi," seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada pihak China bahwa pemerintahan Trump tidak akan pernah memperlakukan mereka jika sedang di AS.
Akhirnya, saat Trump berada di dalam iring-iringan mobil dan menunggu pers, seorang staf Gedung Putih mengumumkan: "Kita akan pergi."
Mereka pun menerobos barisan orang Tiongkok dan berlari keluar pintu.
Konfrontasi berikutnya terjadi pada sore hari di "Kuil Surga" ketika para pejabat Tiongkok menolak mengizinkan seorang agen Dinas Rahasia yang mendampingi rombongan pers kepresidenan masuk ke area aman.
Alasannya karena agen tersebut membawa senjata api, praktik standar bagi badan pengawal tersebut.
Sementara para wartawan dan delegasi Amerika menolak untuk melanjutkan perjalanan tanpa agen tersebut.
Di sisi lain para pejabat Beijing bertekad untuk mengambil senjata api milik Secret Service itu.
Setelah penundaan selama 30 menit dan banyak perdebatan, agen Dinas Rahasia lain yang sudah mendapat izin untuk melanjutkan dipanggil untuk mengawal wartawan masuk ke dalam sementara agen pertama tetap tinggal di belakang.
Rupanya, insiden tak mengenakan ini ditandai oleh para wartawan dan staf gedung putih sebagai cara China mendikte liputan peristiwa berita global.
(imf/bac)
Add
as a preferred source on Google

12 hours ago
2

















































