Dapur MBG Unhas Dinilai Jadi Model Integrasi Riset dan Program Gizi Nasional

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) menilai pengoperasian Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Universitas Hasanuddin menjadi contoh integrasi antara riset akademik dan implementasi program publik. Model ini dinilai dapat memperkuat pelaksanaan program pemenuhan gizi berbasis ilmu pengetahuan.

Ketua Umum DPP APPMBGI Abdul Rivai Ras mengatakan dapur MBG di kampus menghadirkan pendekatan baru dalam tata kelola program Makan Bergizi Gratis melalui kolaborasi dunia akademik dan praktik lapangan. Penilaian tersebut disampaikan setelah kunjungan ke dapur MBG Universitas Hasanuddin bersama Anggota Dewan Pakar APPMBGI Prof. Sukri Palutturi dan Ketua DPD I Sulawesi Selatan APPMBGI Sri Asri Wulandari Aksa Mahmud.

“Kami melihat secara langsung bagaimana perguruan tinggi mengambil peran strategis dalam mendukung program prioritas nasional di bidang pemenuhan gizi masyarakat,” kata Abdul dalam keterangannya pada Senin (4/5/2026).

Abdul menilai keberadaan dapur MBG di lingkungan kampus bukan sekadar fasilitas pelayanan makanan, tetapi menjadi ruang integrasi ilmu, inovasi, dan praktik kebijakan publik.

“Ini bukan hanya dapur dalam pengertian operasional. Ini adalah laboratorium hidup. Di sinilah ilmu, riset, inovasi, dan praktik bertemu dalam satu ekosistem yang utuh,” kata Abdul.

Menurut Abdul, pendekatan yang dilakukan Universitas Hasanuddin mencerminkan model ideal pembangunan yang mampu menjembatani kesenjangan antara penelitian akademik dan implementasi di lapangan. Mahasiswa, peneliti, dan praktisi terlibat dalam satu siklus mulai dari perumusan konsep, pengujian, hingga evaluasi program secara langsung.

“Selama ini kita sering melihat riset berhenti di meja akademik, sementara praktik berjalan tanpa basis ilmiah yang kuat. Model seperti ini memutus mata rantai tersebut. Apa yang diteliti langsung diuji, dan apa yang dijalankan langsung bisa diperbaiki secara ilmiah,” kata Abdul.

Abdul menambahkan pola integrasi tersebut telah lama diterapkan di berbagai negara maju melalui kedekatan institusi pendidikan tinggi dengan pusat produksi dan inovasi. Menurutnya, model ini memungkinkan percepatan validasi teknologi, efisiensi proses, serta peningkatan kualitas hasil secara berkelanjutan.

“Ketika pusat pembelajaran berdiri berdampingan dengan pusat produksi, maka proses inovasi menjadi jauh lebih cepat, adaptif, dan terukur. Ini yang kita lihat mulai dibangun di Unhas melalui dapur MBG,” kata Abdul.

Dapur MBG Universitas Hasanuddin juga dinilai berfungsi sebagai teaching factory yang dapat menjadi pusat pengembangan standar operasional dan model pengelolaan MBG untuk direplikasi di berbagai daerah.

“Ini adalah contoh bagaimana kebijakan publik bertemu dengan keunggulan akademik. Dan ketika keduanya berjalan bersama, maka kita tidak hanya menjalankan program, tetapi membangun sistem yang kuat,” kata Abdul.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |