Skincare (ilustrasi). Nilai tukar rupiah yang kian tertekan hingga menyentuh Rp18 ribu per dolar AS pada awal Juni 2026, memicu kekhawatiran di kalangan perempuan urban. Salah satu yang dikhawatirkan adalah kenaikan harga skincare dan kosmetik.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah yang kian tertekan hingga menyentuh Rp18 ribu per dolar AS pada awal Juni 2026, memicu kekhawatiran di kalangan perempuan urban. Salah satu yang dikhawatirkan adalah kenaikan harga skincare dan kosmetik.
Industri kosmetik nasional memang tengah menghadapi tekanan biaya produksi yang berlapis, dari lonjakan harga bahan baku plastik, penguatan nilai tukar dolar, hingga kenaikan harga bahan bakar industri yang terjadi sejak awal tahun ini. Jika tekanan itu terus berlanjut, kenaikan harga skincare menjadi sulit dihindari.
Wulan (32 tahun), seorang banker di Jakarta, mengaku deg-degan mengikuti perkembangan nilai tukar belakangan ini. Pasalnya hingga saat ini dia masih mengandalkan produk skincare impor untuk perawatan kulit wajahnya sehari-hari. Namun sejauh ini ia mengaku belum membeli produk baru karena stok lama masih tersisa.
"Aku udah lama pake SK II, karena emang nyata banget hasilnya, apalagi buat aku yang 30 plus ya. Tapi terakhir beli itu dua atau tiga bulan lalu. Jadi belum terasa ada kenaikan signifikan, cuma ya jujur takut harga SK II ntar makin mahal," kata dia saat dihubungi Republika, Senin (8/6/2026).
Selain SK II, Wulan juga tetap memakai beberapa produk lokal terutama untuk lip care, hair care, dan body care. Bukan sekadar soal harga yang terjangkau, Wulan menilai kualitas lokal kini sudah jauh berkembang dan sangat cocok untuk kulitnya.
"Jelas dong aku juga pake lokal. Lip produk misalnya aku pakai lip butter Sensatia, itu enak banget, face mask lokal juga. Terus hair care, body care itu lokal semua sih. Harganya lebih terjangkau, terus kualitas udah oke punya," ujar Wulan.

12 hours ago
5
















































