Deretan Sektor Prospektif di Tengah Gejolak Tensi Geopolitik Iran-AS

3 hours ago 2

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

01 March 2026 20:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat menyusul gelombang serangan militer terbaru yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Situasi makroekonomi ini secara langsung memicu fluktuasi di pasar komoditas global, dengan harga minyak mentah Brent melonjak di atas level USD 73 per barel, serta harga emas dunia yang terus menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa hari terakhir.

Meskipun secara fundamental pasar saham domestik di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini berada dalam kondisi yang positif dan stabil, sentimen eksternal berupa ancaman disrupsi rantai pasok global ini tetap menjadi variabel penting yang dicermati oleh para pelaku pasar.

Serangan rudal Iran menghantam wilayah Tel Aviv, Israel, pada Sabtu (28/2) waktu setempat. Total ada 20 orang terluka dan satu lainnya tewas. (REUTERS/Gideon Markowicz)Foto: (REUTERS/Gideon Markowicz)
Serangan rudal Iran menghantam wilayah Tel Aviv, Israel, pada Sabtu (28/2) waktu setempat. Total ada 20 orang terluka dan satu lainnya tewas. (REUTERS/Gideon Markowicz)

Preseden Krisis Iran Juni 2025

Secara historis, krisis geopolitik yang melibatkan Iran pada bulan Juni 2025 memberikan landasan analisis yang relevan mengenai respons pasar modal terhadap syok eksternal.

Pada periode tersebut, kepanikan pasar memicu arus keluar modal (capital outflow) secara umum, namun pada saat yang bersamaan mendorong arus masuk (inflow) yang sangat masif ke saham-saham berbasis komoditas sebagai instrumen pelindung nilai (safe haven).

Sektor hulu minyak dan gas (migas) merupakan garis depan yang merespons risiko gangguan pasokan. Ancaman terhadap jalur logistik maritim strategis, terutama Selat Hormuz, berkorelasi langsung dengan lonjakan harga minyak mentah.

Pada krisis Juni 2025, saham-saham energi domestik menerima akumulasi beli spekulatif yang konsisten. Emiten seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mencatatkan apresiasi nilai yang solid sejak awal bulan hingga mencapai titik puncaknya tepat saat eskalasi memanas pada 23 Juni 2025.

Emiten penunjang energi lainnya, seperti PT Elnusa Tbk (ELSA) dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), turut mengalami penguatan temporal yang sejalan dengan lonjakan komoditas acuan global walaupun ketika terjadi berita tensi geopolitik yang memanas terdapat koreksi kecil.

Korelasi Sektor Logam Mulia dan Emas

Selain energi, emiten pertambangan logam mulia juga mendapatkan katalis positif. Emas secara fundamental berfungsi sebagai instrumen lindung nilai utama di tengah ketidakpastian yang terjadi hingga saat ini dengan proyeksi harga hingga US$ 6,000-an menurut analis bank investasi global.

Tren kenaikan harga emas global yang terjadi dalam beberapa hari terakhir memiliki korelasi yang searah dengan valuasi saham emiten emas di dalam negeri dengan korelasi seperti penambahan leverage 2 hingga 4 kali.

Berdasarkan preseden tahun lalu, kepanikan geopolitik mendorong saham emiten emas melampaui rata-rata kinerja sektor lainnya. Saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) terakumulasi secara signifikan, mengkonfirmasi status sektor ini sebagai opsi utama investor untuk memitigasi risiko portofolio.

Fase Akumulasi dan Koreksi: Data Historis Saham

Karakteristik utama pergerakan saham berbasis sentimen geopolitik adalah fluktuasinya yang sangat cepat. Berikut adalah data historis pergerakan enam emiten komoditas dari awal bulan, puncak eskalasi (23 Juni), hingga fase aksi ambil untung atau koreksi masif (profit taking) pada 25 Juni 2025:

Berdasarkan data di atas, terlihat jelas adanya siklus spekulasi jangka pendek. Setelah memuncak pada 23 Juni 2025, valuasi emiten mengalami koreksi tajam dalam kurun waktu dua hari akibat aksi profit taking massal pada tanggal 24 dan 25 Juni 2025.

Menghadapi situasi saat ini, kendati fundamental pasar saham domestik yang masih tidak pasti sejak pengumuman MSCI pada Januari kemarin, investor harus tetap menerapkan disiplin pembatasan risiko dan menghindari spekulasi jangka panjang yang tidak berlandaskan sentimen makroekonomi.

Apabila krisis ini berkepanjangan dan sulit untuk mampu menemukan titik terangnya, hal ini dapat memicu outflow tambahan hingga berpotensi meningkatkan kembali tensi geopolitik di Timur Tengah sehingga supply chain dunia terganggu yang berujung pada menurunnya valuasi pasar global hingga mampu meningkatkan ketidakpastian dunia.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |