Diantoro(MI/HO)
DIANTORO, gitaris dan komposer yang dikenal luas sebagai pilar band Ranaku, resmi menapaki babak baru dalam karier musiknya. Melalui label Sintesa Pro, ia merilis EP perdana bertajuk Diant yang mulai tersedia di seluruh platform streaming digital pada 21 Juni 2026.
Mini album ini menjadi manifestasi matang dari perjalanan solo Diantoro. Dengan memadukan aransemen pop koplo modern dan lirik segar bergaya Betawi, Diantoro membawa kembali semangat humor serta kecerdasan sosial yang dahulu dipopulerkan oleh sang legenda, almarhum Benyamin Sueb. Baginya, musik adalah medium untuk menyampaikan realitas kehidupan melalui tawa.
“Saya selalu percaya musik bisa menyampaikan kebenaran lewat tawa. Benyamin Sueb mengajarkan itu. Lagu-lagu di EP ini lahir dari kisah nyata di sekitar kita — pacar yang ribet, istri yang curiga, hubungan yang berantakan karena kepo WA,” ujar Diantoro dalam keterangan resminya.
Eksplorasi Lirik dan Aransemen
EP Diant merangkum tiga kisah cinta yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat urban. Ketiganya dibungkus dalam irama yang energik namun tetap accessible, sehingga mudah dinikmati oleh pendengar luas sambil sesekali memancing senyum karena liriknya yang jenaka.
| Kokom | Focus Track | Dinamika hubungan modern dan kecemburuan yang berlebihan. |
| Cemburu Buta | Track 2 | Sindiran terhadap budaya gosip tetangga yang merusak kepercayaan pasutri. |
| Cinta Berantakan | Track 3 | Dampak negatif dari rasa ingin tahu (kepo) berlebih di era digital. |
Lagu unggulan berjudul Kokom terinspirasi dari kisah nyata seorang pekerja program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kerap diganggu oleh kecurigaan tunangannya.
Sementara itu, Cinta Berantakan menutup EP ini dengan pesan yang lebih reflektif mengenai pentingnya fondasi kepercayaan dalam sebuah hubungan.
Menjaga Akar Budaya Betawi
Lahir dan besar di Jakarta, Diantoro tidak bisa melepaskan identitas Betawi dari karya-karyanya. Sebelum merilis EP ini, ia telah konsisten merilis sejumlah single seperti Bulan Puasa, Minta Ijin, Ambeyen, dan Buaya Bego.
Melalui Sintesa Pro, EP Diant diproyeksikan tidak hanya untuk pasar domestik, tetapi juga menjangkau pendengar di Malaysia dan Singapura. Diantoro meyakini bahwa meskipun dibalut dengan dialek dan humor khas Jakarta, tema yang ia angkat bersifat universal.
“Saya ingin musik ini bisa dinikmati semua orang. Bukan hanya orang Betawi atau Jakarta. Karena cerita tentang cinta dan cemburu itu universal. Yang membedakan hanya cara kita menceritakannya, dan cara saya adalah dengan tertawa bersama,” pungkasnya. (Z-1)















































