Ditunjuk Trump, Pemasok Senjata Baru AS Mendadak Berubah Pikiran

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - OpenAI baru saja meneken kesepakatan dengan Kementerian Pertahanan/Perang (Department of War/DoW) sebagai pemasok tool AI untuk kebutuhan militer Amerika Serikat (AS). Kesepakatan itu dibuat setelah Presiden AS Trump secara tegas menghentikan penggunaan tool AI Anthropic di seluruh lembaga federal AS.

Sebelumnya, Anthropic merupakan perusahaan AI pertama yang mengoperasikan modelnya di jaringan rahasia militer AS. Namun, negosiasi lanjutan kontrak gagal setelah perusahaan itu meminta jaminan bahwa teknologinya tidak digunakan untuk mengembangkan senjata otonom penuh maupun pengawasan massal warga AS.

Permintaan Anthropic ini membuat pemerintahan Trump murka. Bahkan, Trump terang-terangan menyebut Anthropic sebagai perusahaan radikal kiri yang 'woke' dan membahayakan nyawa warga AS, serta keamanan nasional.

Trump juga mengatakan pemerintah tidak akan membiarkan perusahaan mana pun menentukan cara militer AS bertempur dan memenangkan perang. Di sisi lain, Anthropic tak gentar dan berencana menggugat keputusan pemerintah yang memasukkannya dalam daftar "risiko rantai pasokan".

Terlepas dari ketegangan antara pemerintah AS dan Anthropic, Wall Street Journal melaporkan militer AS masih menggunakan AI buatan Anthropic saat menyerang Iran pada Sabtu (28/2) pagi waktu setempat. WSJ mengatakan AI buatan Anthropic digunakan untuk kepentingan intelijen, membantu pemilihan target, serta menjalankan simulasi pertempuran di medan perang.

OpenAI Berubah Pikiran

Kembali ke penunjukan baru OpenAI sebagai pengganti Anthropic, CEO OpenAI Sam Altman tiba-tiba berubah pikiran. Pada Senin (2/3) waktu setempat, Altman mengatakan OpenAI tengah berkoordinasi dengan DoW untuk melakukan beberapa perubahan dalam kesepakatan mereka.

"Kami berdiskusi dengan DoW untuk membuat beberapa penambahan dalam kesepakatan kami. Tujuannya memastikan prinsip-prinsip kami sangat jelas di awal," tulis Altman dalam unggahan di akun X personalnya, dikutip dari Reuters, Selasa (3/3/2026).

Altman mengatakan salah satu tambahan dalam kesepakatan tersebut menyatakan Pentagon telah menegaskan layanan OpenAI tidak akan digunakan oleh badan intelijen DoW, misalnya NSA.

Layanan apa pun kepada badan-badan di bawah DoW akan memerlukan modifikasi lanjutan pada kontrak OpenAI.

Sebagai informasi, perseteruan antara pemerintah AS dan Anthropic mulanya dipicu oleh penggunaan Claude AI milik perusahaan dalam operasi militer AS pada Januari 2026 untuk menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.

Anthropic menolak keterlibatan dan menegaskan bahwa ketentuan layanannya melarang penggunaan AI untuk tujuan kekerasan, pengembangan senjata otonom, maupun pengawasan. Sejak saat itu, hubungan antara Gedung Putih, Pentagon, dan Anthropic terus memburuk.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam unggahan di platform X menuduh Anthropic melakukan kesombongan dan pengkhianatan. Ia menegaskan bahwa prajurit AS tidak akan pernah disandera oleh keinginan ideologis raksasa teknologi.

Hegseth menuntut akses penuh tanpa pembatasan terhadap seluruh model AI Anthropic untuk tujuan yang sah. Namun ia juga mengakui bahwa pemisahan sistem militer dari Claude tidak bisa dilakukan secara instan karena teknologi tersebut telah digunakan secara luas.

Pentagon disebut masih akan menggunakan layanan Anthropic selama maksimal enam bulan untuk memastikan transisi berjalan mulus.

(fab/fab)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |