Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
01 April 2026 13:22
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan rupiah per hari ini Rabu (1/4/2026) sempat ambruk dan menyentuh level psikologis Rp17.000/US$1 atau melemah 0,06%. Pelemahan rupiah bisa memberi dampak positif dan negatif kepada neraca perusahaan.
Beberapa faktor penyebab anjloknya rupiah adalah sentimen ketakutan akan inflasi dunia yang kian memburuk serta rilis data inflasi Indonesia yang sudah diumumkan di angka 3,48% secara yoy bulan Maret 2026.
Selain itu potensi defisit APBN mencapai 3% karena tidak berubahnya harga BBM juga masih menjadi kekhawatiran utama sehingga menimbulkan pelemahan tambahan kepada harga Rupiah.
Kemudian, lesunya rupiah dipengaruhi oleh aliran modal keluar (outflow). Melemahnya rupiah tentunya dapat berpengaruh terhadap perusahaan-perusahaan yang melakukan ekspor dan impor.
Perusahaan yang melakukan ekspor tentu akan diuntungkan dari melemahnya rupiah dari selisih kurs yang didapatkan.
Berikut beberapa saham yang diuntungkan karena gencar melakukan ekspor.
Saham-saham berbasis komoditas seperti pertambangan dan sawit juga banyak diuntungkan jika rupiah menguat karena mereka menggunakan bahan mentah lokal tetapi diekspor sehingga pendapatannya dalam bentuk dolar AS. Di antaranya adalah PT Alamtri Resources Indonesia (ADRO), PT Bayan Resources (BYAN), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).
Dapat terlihat kejatuhan rupiah mendorong kenaikan saham-saham yang banyak melakukan ekspor. Diketahui rupiah telah melemah sebesar 1,98% sejak akhir Desember hingga perdagangan hari ini Rabu (1/4/2026) di level Rp17.000/US$1.
Selain emiten-emiten yang diuntungkan, terdapat pula emiten yang dirugikan atas kejatuhan dolar. Bukan hanya dari transaksi impor, tetapi juga dari kepemilikan hutang dalam bentuk dolar AS. Semakin meningkatnya dolar AS, tentu hal tersebut dapat mendorong tingginya beban Perseroan dalam membayar hutang dalam satuan dolar AS.
Berikut daftar saham-saham yang bunting saat rupiah anjlok.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google

3 hours ago
3

















































