Jakarta, CNN Indonesia --
Tiga anggota TNI yang bertugas di Pasukan Penjaga Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) tewas hanya dalam kurun waktu dua hari akibat konflik Israel dan Hizbullah.
Terbaru, Wakil Sekretaris Jenderal PBB Jean Pierre Lacroix mengatakan dua anggota TNI tewas imbas ledakan di dekat Bani Hayyan pada Senin (31/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pagi ini, dua anggota pasukan penjaga perdamaian Indonesia tewas dalam ledakan yang menghantam konvoi logistik UNIFIL, yang menghancurkan kendaraan di dekat Bani Hayyan," kata Lacroix di Markas PBB New York.
Kedua prajurit TNI itu yakni Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan.
Lebih lanjut, Lacroix mengatakan dua anggota UNIFIL lain terluka dan satu di antaranya dalam kondisi kritis. Mereka yang terluka Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto.
Lacroix juga menyebut insiden sebelumnya yang menewaskan satu TNI dalam ledakan pada Minggu. Kejadian tersebut juga membuat anggota lain mengalami luka para dan dilarikan ke rumah sakit di Beirut.
"Kemarin, seorang anggota pasukan penjaga perdamaian dari kontingen Indonesia tewas dalam ledakan di pangkalan UNIFIL di El Tayeb," ucap Wakasejken PBB itu.
Satu anggota TNI yang tewas itu Praka Farizal Rhomadhon. Kantor berita Lebanon, National News Agency (NNA), melaporkan militer Israel menyerang markas unit Indonesia di sekitar Adchit Al Qusayr pada Minggu.
Dengan demikian, total anggota TNI di UNIFIL yang tewas dalam serangan tercatat tiga orang.
"Pada 29-30 Maret, tiga pasukan penjaga perdamaian dari Indonesia yang bertugas di UNIFIL tewas sementara yang lain mengalami luka," demikian unggahan akun resmi Pasukan Penjaga Perdamaian PBB, UN Peacekeeping.
Hingga saat ini, UNIFIL masih menyelidiki asal proyektil yang meledak dekat pos pasukan penjaga perdamaian itu.
Komunitas internasional dan beberapa pejabat negara lain ramai-ramai meminta semua pihak mematuhi hukum humaniter internasional serta Piagam PBB.
Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, marah ke Israel usai tiga TNI tewas dalam serangan Israel di Lebanon Selatan.
"Indonesia terus mengutuk keras serangan Israel di Lebanon selatan, yang secara signifikan meningkatkan risiko yang dihadapi oleh peacekeepers PBB serta melemahkan pelaksanaan mandat UNIFIL sebagaimana diatur dalam Resolusi Dewan Keamanan 1701 (2006)," demikian rilis Kemlu Indonesia pada Selasa.
Tak cuma Indonesia, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez juga meminta Israel menghentikan permusuhan.
"Spanyol menyerukan kepada pemerintah Israel untuk menghentikan permusuhan," kata Sanchez di media sosial X pada Senin (30/3).
Dia lalu berujar, "Serangan terhadap misi penjaga perdamaian PBB merupakan agresi yang tidak dapat dibenarkan terhadap seluruh komunitas internasional."
Sementara itu, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menolak dituduh jadi dalang serangan ke pos UNIFIL tersebut.
"Insiden-insiden tersebut sedang ditinjau secara menyeluruh untuk mengetahui keadaan dan menentukan apakah insiden itu diakibatkan aktivitas (kelompok milisi) Hizbullah atau IDF," demikian pernyataan IDF pada Selasa (31/3), seperti dikutip AFP.
IDF menekankan insiden ini terjadi di Lebanon selatan, yang merupakan medan perang Israel dan Hizbullah.
"Oleh karena itu, tidak seharusnya diasumsikan bahwa insiden yang menimpa personel UNIFIL disebabkan oleh IDF," lanjut pernyataan militer Israel.
Lebanon terutama Lebanon Selatan membara sejak Israel dan Amerika Serikat meluncurkan operasi brutal ke Iran pada 28 Februari.
Milisi di Lebanon yang disebut-sebut didukung Iran, Hizbullah, meluncurkan serangan balasan ke Israel usai pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta pejabat tinggi pertahanan lain tewas dalam serangan AS-Israel.
(isa)
Add
as a preferred source on Google

10 hours ago
1
















































