Ekonom: Kondisi Ekonomi Saat Ini Bukan Sinyal Krisis

3 hours ago 3

Sejumlah karyawan perkantoran mengenakan batik saat berjalan di kawasan pedestrian Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (2/10/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memicu kekhawatiran di tengah masyarakat terkait kondisi ekonomi nasional. Ekonom mengingatkan masyarakat tak perlu panik karena sejumlah indikator makro menunjukkan ekonomi Indonesia masih cukup kuat dan belum mengarah pada krisis.

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede mengatakan, pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor eksternal, seperti kebijakan suku bunga tinggi di negara maju serta ketidakpastian geopolitik global.

“Yang perlu dipahami, kondisi saat ini merupakan fase penyesuaian terhadap dinamika global, bukan sinyal krisis,” ujar Josua di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Josua menjelaskan, sejumlah indikator ekonomi nasional masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global. Inflasi pada Mei 2026 tercatat 3,08 persen secara tahunan dan masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia.

Sementara itu, cadangan devisa Indonesia per April mencapai 146,2 miliar dolar AS yang setara dengan 5,8 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Cadangan devisa tersebut menjadi bantalan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026. Angka tersebut menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Pertumbuhan ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen serta investasi yang tetap kuat di level 5,96 persen.

Adapun dari sektor keuangan, ketahanan perbankan masih kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 25,83 persen dan rasio kredit bermasalah (NPL) gross hanya 2,17 persen.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |