Era Suku Bunga Tinggi Belum Usai, Ini Strategi Pjs Gubernur BI Destry Damayanti

21 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, PARAPAT – Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan ketidakpastian ekonomi global masih tinggi meski bank sentral Amerika Serikat (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya. Menurutnya, sikap The Fed yang masih hawkish membuat dunia berpotensi menghadapi periode suku bunga tinggi yang berlangsung lebih lama (higher for longer).

Destry mengatakan, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, karena berpotensi memengaruhi arus modal, nilai tukar, hingga stabilitas pasar keuangan domestik.

Statement dari The Fed menunjukkan mereka masih sangat berhati-hati terhadap kondisi ekonomi, walaupun mereka memutuskan menahan suku bunga. Artinya, dunia masih akan menghadapi situasi higher for longer,” kata Destry dalam sambutanya secara daring pada acara Media Editors Gathering di Parapat, Simalungung, Sumatera Utara, Jumat  (31/7/2026).

Menghadapi kondisi tersebut, BI juga telah memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen. Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan inflasi tetap terkendali di tengah tingginya ketidakpastian global.

Menurut Destry, tantangan utama saat ini adalah menjaga stabilitas rupiah sekaligus mengantisipasi tekanan inflasi, terutama inflasi pangan yang masih berada di atas 5 persen. Sementara itu, inflasi inti dinilai masih berada pada level yang terkendali.

Destry mengatakan, BI akan mengoptimalkan instrumen moneter melalui penyesuaian imbal hasil instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Langkah itu disebut telah mendorong masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

Menurut Destry, hingga awal pekan ini aliran modal asing yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan SRBI mencapai sekitar 10 miliar dolar AS. Arus modal tersebut dinilai memperkuat cadangan devisa sekaligus mendukung stabilitas pasar keuangan domestik.

Di sisi lain, BI tetap menjalankan kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Insentif likuiditas terus diberikan kepada perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Selain itu, BI menyiapkan kebijakan makroprudensial baru untuk mendorong fungsi intermediasi perbankan. Menurut Destry, bank diharapkan lebih banyak menyalurkan kredit ke sektor riil dibandingkan menempatkan dana pada surat berharga.

Destry juga memastikan tidak ada perubahan arah kebijakan BI setelah Gubernur BI Perry Warjiyo mengundurkan diri. Sesuai ketentuan perundang-undangan, Destry yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior, menjalankan tugas sebagai Pejabat Sementara Gubernur hingga proses penunjukan gubernur definitif selesai.

“Kami akan tetap fokus menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Seluruh instrumen yang dimiliki Bank Indonesia akan kami optimalkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Destry.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |