Jakarta, CNN Indonesia --
Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenny Wahid, menjawab pertanyaan soal kasus lain di lingkaran atlet dan pelatih.
Yenny mengaku awalnya terkejut mengetahui soal isu pemotongan bonus yang dilakukan mantan pelatih Hendra Basir. Hanya saja Yenny menyatakan FPTI belum mendapat laporan resmi dari atlet.
"Saya juga kaget sekali begitu mendengar ada pemotongan bonus 50 persen, apalagi 50 persen. Saya kaget sekali. Dan itu juga dilakukan oleh terduga pelaku [kekerasan dan pelecehan seksual]," kata Yenny.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rupanya seperti itu, tapi belum ada pengaduan secara resmi kepada saya. Saya hanya mendengar ya, sorry saya sih enggak bisa ini ya, saya hanya mendengar dari apa namanya percakapan-percakapan informal, tetapi belum ada pengaduan resmi. Tapi dikatakan mereka semacam ada perjanjian internal, katanya. Saya enggak tahu, karena bonus kan masuk langsung ke rekening atlet.
Yenny menegaskan FPTI tidak mengetahui pemotongan yang berdasar pada kesepakatan antarindividu dalam pelatnas panjat tebing.
"Dalihnya ini sudah kesepakatan. Ya, antara mereka sendiri. Dalihnya begitu. Jadi, ini di luar kami. Saya enggak tahu sama sekali," ucapnya.
Yenny pun belum bisa menjawab soal momen dugaan praktik pemotongan bonus apakah saat SEA Games 2025 atau sudah berlangsung sejak Olimpiade 2024.
"Itu, SEA Games atau apa saya enggak tahu. Ini belum ada laporan resmi, jadi saya enggak bisa ngomong secara pasti gitu loh. Karena belum ada. Karena kita masih fokus pada proses pelecehan seksualnya," terang Yenny.
Yenny juga menegaskan bakal menindaklanjuti kasus dugaan pemotongan bonus seperti kasus kekerasan dan pelecehan seksual demi membenahi dunia panjat tebing Indonesia.
(ikw/nva)

2 hours ago
2

















































