Gempa Bitung M7,6, Pakar Ungkap Fenomena Subduksi Ganda Laut Maluku

1 hour ago 2

Makassar, CNN Indonesia --

Gempa bumi kuat mengguncang wilayah Laut Maluku berkekuatan magnitudo 7,4 hingga 7,6 dengan pusat gempa berada sekitar 126 kilometer barat laut Ternate pada kedalaman sekitar 30-35 kilometer.

Peneliti Pusat Studi Gempa Sulawesi (CSES) Ardy Arsyad menjelaskan berdasarkan analisis mekanisme sumber gempa dari USGS dan BMKG, gempa ini diinterpretasikan sebagai sesar oblique-reverse (kombinasi sesar naik dan geser) yang terjadi di dalam lempeng (intraslab), bukan pada bidang kontak antar lempeng utama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia peristiwa ini terjadi di kawasan Laut Maluku yang dikenal sebagai zona subduksi ganda, tempat dua lempeng samudera saling menunjang dari arah berlawanan, yakni sistem Sangihe dan Halmahera.

"Kondisi ini menciptakan sistem tegangan yang kompleks, sehingga gempa yang terjadi tidak selalu mengikuti pola klasik gempa subduksi (megathrust) dengan kedalaman sekitar 30 km," kata Ardy

Guncangan gempa memicu tsunami lokal berskala kecil di beberapa wilayah pesisir. Ketinggian gelombang dilaporkan relatif rendah, namun tetap menjadi peringatan bahwa potensi tsunami dapat terjadi meski bukan dari sumber gempa dangkal.

"Hal ini menegaskan bahwa potensi tsunami tetap dapat muncul, meskipun dengan tingkat bahaya yang lebih terbatas dibandingkan gempa sesar naik dangkal," katanya.

Gempa berkekuatan besar ini berpotensi menimbulkan guncangan kuat terutama di wilayah dengan kondisi tanah lunak yang dapat memperkuat getaran.

"Wilayah dengan sedimen jenuh air tetap memiliki potensi terhadap likuefaksi, yang perlu diwaspadai," jelasnya.

Pusat Studi Gempa Sulawesi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.

"Masyarakat tidak perlu panik, namun tetap waspada terhadap gempa susulan (aftershocks) serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait," katanya.

Selain itu, pemerintah daerah di wilayah terdampak diminta segera melakukan langkah mitigasi, di antaranya evaluasi infrastruktur penting, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat pesisir, serta penguatan upaya mitigasi berbasis peta risiko dan kondisi geologi setempat.

"Kami akan terus melakukan analisis lanjutan terkait kejadian ini, termasuk kaitannya dengan dinamika tektonik regional dan potensi risiko kebencanaan di kawasan Indonesia timur," pungkasnya.

(mir/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |