Gempa Flores Picu Longsor di Gunung Ebulobo, Kelimutu, Anak Ranakah

1 day ago 3
Gempa Flores Picu Longsor di Gunung Ebulobo, Kelimutu, Anak Ranakah Wisatawan asing mengemasi barang dari gedung Hotel Jayakarta usai gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026).(Antara/Gecio Viana)

BADAN Geologi melaporkan kejadian gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores memicu longsoran massa batuan di tiga gunung api aktif. Ketiga gunung tersebut ialah Gunung Ebulobo, Gunung Kelimutu, dan Gunung Anak Ranakah.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa longsoran atau runtuhan massa batuan tersebut terdeteksi terjadi pada kawasan puncak dan kawah di ketiga gunung itu. Meski demikian, ia memastikan bahwa fenomena ini merupakan dampak mekanis dan bukan aktivitas magmatik.

"Kejadian longsoran tersebut belum disertai indikasi perubahan ada aktivitas vulkanik atau peningkatan aktivitas erupsi," ungkap Lana Saria dalam keterangannya, Minggu (16/8).

Lana menambahkan bahwa berdasarkan hasil pemantauan, seluruh parameter vulkanik di Gunung Ebulobo, Kelimutu, dan Anak Ranakah saat ini masih berada dalam kondisi normal. Kejadian longsoran di kawasan puncak atau kawah dikategorikan sebagai dampak sekunder dari guncangan gempa bumi terhadap kestabilan massa batuan.

"Kejadian itu tidak bisa secara langsung diinterpretasikan sebagai indikasi peningkatan aktivitas vulkanik," tegasnya.

Kendati kondisi vulkanik stabil, Badan Geologi tetap melakukan pemantauan intensif secara berkala terhadap perkembangan kegempaan, kondisi visual kawah, serta perubahan parameter lainnya. Hal ini dilakukan terutama pada periode gempa susulan guna mengantisipasi perubahan kondisi yang dapat memengaruhi kestabilan lereng maupun aktivitas vulkanik ke depan.

Faktor Pemicu Longsoran

Selain faktor guncangan gempa bumi, Lana memaparkan bahwa ketidakstabilan massa batuan di kawasan puncak dan kawah gunung dipengaruhi oleh kondisi geologi dan morfologi setempat. Beberapa faktor predisposisi yang memperlemah kestabilan lereng antara lain:

  • Keberadaan lereng yang sangat terjal hingga hampir tegak.
  • Adanya rekahan dan bidang diskontinuitas pada batuan vulkanik.
  • Proses alterasi hidrotermal dan pelapukan batuan.

"Sebagian massa batuan memiliki tingkat kestabilan relatif rendah. Guncangan gempa bumi berperan sebagai faktor pemicu terhadap kondisi lereng yang telah memiliki faktor predisposisi tersebut," lanjut Lana.

Secara teknis, guncangan dinamis akibat gempa menyebabkan perubahan tegangan pada massa batuan. Hal ini mengakibatkan blok atau massa batuan yang sebelumnya sudah berada dalam kondisi kritis mengalami pelepasan dan bergerak menuruni lereng. (I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |