Golo Mori Sunset Run: Race Menantang, UMKM Bergerak, Pariwisata Menggeliat

1 week ago 24
 Race Menantang, UMKM Bergerak, Pariwisata Menggeliat Ilustrasi(Dok Istimewa)

GOLO MORI Sunset Run (GMSR) 2026 tidak sekadar menawarkan pengalaman berlari sambil menikmati panorama matahari terbenam. Event yang akan digelar pada 22 Agustus 2026 di Kawasan The Golo Mori, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu mulai memperlihatkan wajah lain: sebagai ruang bertemunya olahraga, pariwisata dan ekonomi masyarakat lokal.

GMSR 2026 merupakan kolaborasi antara manajemen ITDC The Golo Mori, Golo Mori Convention Center (GMCC), dan komunitas lari lokal Komodo Runners. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperluas partisipasi masyarakat sekaligus memperkenalkan pengalaman berlari dengan panorama perbukitan dan laut khas The Golo Mori.

Mengusung tema Beyond The Limits, Golo Mori Sunset Run tahun ini menghadirkan dua kategori, yakni Fun Run 5K dan Fun Walk 2,5K.

Konsep tersebut mengajak peserta untuk melampaui batas kemampuan diri sekaligus menikmati pengalaman sport tourism yang berpadu dengan keindahan alam kawasan The Golo Mori.

Namun, daya tarik GMSR tidak hanya terletak pada panorama. Karakter lintasan yang memiliki kontur naik-turun menjadi tantangan tersendiri bagi para pelari.

Pelari tidak hanya dituntut mengandalkan kecepatan, tetapi juga harus mampu mengatur ritme, stamina dan strategi ketika menghadapi tanjakan maupun turunan sepanjang race.

Bagi pelari lokal, kondisi tersebut justru dapat menjadi keunggulan. Mereka telah terbiasa dengan karakter alam Golo Mori yang berbukit dan menantang.

Perwakilan Komodo Run, Febria Lazuardi, mengatakan antusiasme masyarakat lokal terhadap Golo Mori Sunset Run sangat tinggi. Bahkan sejak penyelenggaraan tahun sebelumnya, peserta dari berbagai kategori banyak berasal dari warga lokal Flores dan Nusa Tenggara Timur.

“Ya, mereka sangat antusias sebetulnya, terutama warga lokal. Dari tahun lalu juga, dari tiga kategori, pelajar, master, dan umum, rata-rata yang ikut itu orang lokal Flores. Yang kategori umum saja sebenarnya banyak dari NTT,” kata Febria, Jumat (7/8).

Menurut Febria, salah satu hal menarik terlihat pada kategori master. Ada peserta yang merupakan warga lokal Golo Mori dan dalam kesehariannya bekerja mengejar atau menggembala ternak di kawasan pegunungan.

“Yang menarik lagi, yang master itu warga lokal Golo Mori sebetulnya. Setiap harinya memang mengejar ternak di gunung. Dan beliau memang langganan podium,” ujarnya.

Kebiasaan masyarakat lokal beraktivitas di medan berbukit dinilai menjadi modal tersendiri. Mereka sudah akrab dengan tanjakan dan turunan yang menjadi karakter kawasan Golo Mori.

“Jadi kalau ditanya antusias, sangat antusias. Keren, karena sudah terbiasa juga mengalami kontur seperti itu,” kata Febria.

Karakter lintasan tersebut membuat Golo Mori Sunset Run memiliki tantangan tersendiri. Bagi pelari yang tidak terbiasa dengan medan berbukit, tanjakan dan turunan dapat menguras stamina. Sebaliknya, pelari lokal memiliki keuntungan karena lebih familiar dengan kondisi medan.

Namun, tantangan race bukan satu-satunya cerita dari Golo Mori Sunset Run 2026.

Di luar lintasan, event ini juga diarahkan untuk menciptakan pergerakan ekonomi bagi masyarakat. Kehadiran peserta dalam jumlah besar membuka peluang bagi UMKM lokal untuk menawarkan makanan, minuman, produk lokal maupun berbagai kebutuhan peserta.

Roy Nale dari Bank NTT Cabang Labuan Bajo mengatakan kegiatan seperti Golo Mori Sunset Run memiliki dampak terhadap ekonomi lokal, khususnya UMKM yang terlibat.

“Menurut kami, kegiatan seperti Golo Mori Sunset Run ini sangat berdampak terhadap ekonomi lokal, khususnya UMKM yang terlibat. Ketika peserta datang, tentu ada kebutuhan untuk makanan, minuman, produk lokal maupun berbagai kebutuhan lainnya. Ini menjadi kesempatan bagi pelaku UMKM untuk mendapatkan manfaat ekonomi secara langsung,” ujar Roy.

Menurutnya, dampak ekonomi sebuah event tidak hanya terjadi di lokasi penyelenggaraan. Pergerakan peserta dan pengunjung juga dapat memberikan efek terhadap sektor transportasi, akomodasi, kuliner dan berbagai usaha jasa lainnya.

Karena itu, Roy berharap keterlibatan UMKM lokal dalam event pariwisata semakin besar. Event olahraga, menurut dia, harus dapat menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat, pelaku usaha dan wisatawan.

“Harapan kami, ke depan keterlibatan UMKM lokal semakin besar. Jadi event ini bukan hanya tentang olahraga, tetapi bagaimana kegiatan ini bisa menjadi ruang bersama untuk menggerakkan ekonomi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, General Manager The Golo Mori, Aji Munarwiyanto, melihat tingginya partisipasi masyarakat sebagai sinyal positif bagi pengembangan event tersebut.

Pada awalnya, penyelenggara menargetkan sekitar 400 peserta. Namun, jumlah pendaftar kemudian meningkat hingga mendekati 500 orang jumlah ini belum termasuk pelari undangan.

Lonjakan tersebut menunjukkan bahwa event olahraga di kawasan destinasi memiliki daya tarik tersendiri. Peserta tidak hanya datang untuk berkompetisi, tetapi juga mendapatkan pengalaman berada di kawasan Golo Mori.

Bagi penyelenggara, tantangannya kemudian adalah memastikan peningkatan jumlah peserta tersebut berbanding lurus dengan manfaat yang diterima masyarakat lokal.

Sebab, semakin banyak peserta yang datang, semakin besar pula potensi perputaran ekonomi. Peserta membutuhkan makanan dan minuman, transportasi, akomodasi serta berbagai kebutuhan lainnya.

Dari sisi pariwisata, Golo Mori Sunset Run juga menjadi cara untuk memperkenalkan destinasi melalui pengalaman langsung. Peserta yang sebelumnya mungkin hanya mengenal Golo Mori sebagai kawasan wisata, kini dapat merasakan karakter alamnya melalui lintasan lari.

Pengalaman tersebut menjadi penting dalam membangun sport tourism. Destinasi tidak hanya dijual melalui foto dan promosi, tetapi melalui pengalaman yang dirasakan langsung oleh wisatawan dan peserta.

Hal itu pula yang membuat komunitas pelari melihat Golo Mori Sunset Run memiliki peluang berkembang lebih jauh.
Running Enthusiast, Etha Jemali  menilai pengalaman mengikuti race di Golo Mori memberikan tantangan tersendiri. Ia sebelumnya sempat naik podium pada penyelenggaraan tahun lalu, meski ketika itu tidak memasang target khusus.

“Yang tahun kemarin itu buat senang-senang saja. Enggak ada mikir naik podium, enggak ada target sama sekali,” ujar Etha.

Menurutnya, kondisi race yang memiliki tanjakan dan turunan membuat peserta tidak bisa hanya mengandalkan kecepatan. Kemampuan mengatur tenaga menjadi faktor penting untuk dapat menyelesaikan lintasan dengan baik.

Karakter tersebut sekaligus membuat Golo Mori Sunset Run memiliki identitas tersendiri. Race bukan hanya tentang siapa yang paling cepat, tetapi bagaimana pelari mampu membaca medan dan mengelola stamina.

Dengan jumlah peserta yang meningkat, persaingan pada tahun ini diperkirakan semakin terbuka. Pelari lokal maupun peserta dari luar daerah akan berhadapan dengan medan yang sama, dengan tantangan kontur Golo Mori sebagai salah satu faktor penentu.

Pada akhirnya, Golo Mori Sunset Run 2026 memiliki cerita yang lebih luas daripada sekadar podium.

Di satu sisi, pelari ditantang menaklukkan lintasan naik-turun. Di sisi lain, UMKM lokal mendapatkan ruang untuk bergerak dan memperoleh manfaat ekonomi. Sementara bagi sektor pariwisata, kehadiran ratusan hingga ribuan peserta menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Golo Mori melalui pengalaman sport tourism.(H-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |