REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG - Pembatasan kuota pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat dibatasi mulai 12 Januari 2026 lalu. Di tengah tekanan pembatasan tersebut, penerapan kebijakan zero waste di Pasar Induk Caringin melalui pemanfaatan mesin pengelolaan sampah dinilai menjadi langkah strategis dalam pengelolaan sampah.
Guru Besar Fakultas Perternakan Departemen Nutrisi Ternak Dan teknologi pakan bidang keahlian teknologi pakan Unpad, Prof Dr Ir Iman Bernama M. Si Ipu menjelaskan sekitar 70 persen limbah pasar merupakan limbah organik.
"Limbah sayuran ini kan 70 persen secara umum dari total limbah pasar, paling besar dibandingkan limbah lain. Jika plastik seperti botol sudah diselesaikan pemulung, yang bingung adalah membuang limbah sayuran ini karena mudah membusuk," ujar Iman saat ditemui Republika.co.id setelah ekspos pengelolaan sampah di Pasar Induk Caringin(15/1/2026).
Iman menjelaskan kondisi TPA yang kian jenuh membuat pengelolaan sampah di sumbernya menjadi krusial. Ia menilai, limbah sayuran sejatinya adalah sayuran yang tidak lolos grade untuk konsumsi manusia, namun masih memiliki kandungan nutrisi seperti protein dan karbohidrat yang sangat baik untuk ternak.
"Logikanya, jika sayuran itu baik untuk manusia, maka baik juga untuk ternak. Limbah ini hanya tidak lolos grade, bukan barang rusak total," kata dia.
Dalam prosesnya, Iman memaparkan pengolahan sampah di Caringin menggunakan metode fermentasi. Tantangan utama limbah sayuran adalah kadar air yang tinggi mencapai 90 persen, yang kerap memicu pembusukan jika dibiarkan.
Teknologi yang diterapkan meliputi pengepresan untuk mengurangi kadar air, pencacahan, hingga pemberian probiotik bakteri baik. Limbah tersebut kemudian disimpan dalam wadah kedap udara (silo) selama 21 hari.
"Tujuannya agar bakteri pembusuk kalah oleh bakteri baik. Setelah dipres dan difermentasi, hasilnya menjadi pakan yang awet dan bernutrisi tinggi," kata Iman.
Iman menyebutkan, potensi limbah di pasar tersebut bisa mencapai kurang per hari. Dengan teknologi ini, puluhan ton sampah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan kini dapat dikonversi menjadi pakan untuk ribuan sapi.
"Ini menjadi zero waste. Yang tadinya 40 ton lalu dipres kandungan airnya sehingga bersisa kurang lebih 28 ton bingung membuang ke mana, dengan adanya ini sudah selesai. Bisa dilempar ke peternak, jadi daging, jadi susu," kata dia.
Berdasarkan hasil uji coba selama dua bulan, pakan olahan limbah pasar ini terbukti aman dan mampu menggantikan silase jagung yang harganya lebih mahal. "Hasilnya tidak ada masalah. Ternak yang hamil juga tidak keguguran, artinya pakan ini aman dan berkualitas," kata Iman.
Kepala Badan Pusat Pedagang Pasar Caringin (BP3C), Asep Syarief Hidayat mengatakan pihaknya harus melakukan inovasi pengelolaan sampah sendiri. “Kami tidak bisa menunggu di tengah ketidakpastiaan dalam pembukaan TPA Legok Nangka, dan pembatasan TPA Sarimukti, oleh karena itu kita melakukan inovasi dalam hal pengelolaan sampah,” ucapnya.
Asep juga berharap agar TPA Legok Nangka segera dibuka mengingat banyak oknum warga sekitar pasar yang masih membuang sampah ke Pasar Induk Caringin.

2 hours ago
2















































