Habib Ali Al Habsyi: Bahaya Terbesar Bukan Musuh di Luar, tetapi Hawa Nafsu dalam Diri

4 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penulis kitab Maulid Simthud Durar, Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi, meninggalkan banyak karya berisi doa dan munajat yang hingga kini terus dibaca umat Islam di berbagai penjuru dunia.

Salah satunya adalah sebuah kasidah yang berisi permohonan agar dimudahkan dalam menjalankan niat baik, diberikan keteguhan menempuh jalan takwa, serta dilindungi dari pengaruh setan dan hawa nafsu.

Kasidah tersebut termuat dalam kitab Al Khulashah fi Adzkarin wa Ad'iyatin Waridatin wa Ma'tsuratin yang disusun Habib Umar bin Muhammad bin Salim Al Hafidz.

Sejak bait pertama, Habib Ali mengajarkan adab seorang hamba ketika berdoa. Ia berdiri di hadapan Allah SWT bukan dengan membawa kebanggaan atas amalnya, melainkan dengan kerendahan diri dan harapan akan limpahan karunia-Nya.

رَبِّ إِنِّي يَا ذَا الصِّفَاتِ الْعَلِيَّةِ

قَائِمٌ بِالْفِنَا أُرِيدُ عَطِيَّةً

Robbi innī yā dzāṣ-ṣifātil 'aliyyah, qā'imun bil-finā urīdu 'aṭiyyah.

"Wahai Tuhanku, Pemilik sifat-sifat Yang Mahamulia. Aku berdiri di hadapan-Mu mengharap sebuah karunia."

Selanjutnya, Habib Ali menggambarkan dirinya sebagai seorang hamba yang berdiri di depan "pintu harapan". Ia tidak mengetuk pintu selain pintu Allah, dan tidak menggantungkan harapan kepada selain-Nya.

تَحْتَ بَابِ الرَّجَا وَقَفْتُ بِذُلِّي

فَأَغِثْنِي بِالْقَصْدِ قَبْلَ الْمَنِيَّةِ

Taḥta bābir-rajā waqaftu bidzullī, fa aghitsnī bil-qaṣdi qablal-maniyyah.

"Di bawah pintu harapan aku berdiri dalam kerendahan diri. Maka tolonglah aku agar mencapai tujuan yang baik sebelum datang kematian."

Kasidah ini juga mengandung ungkapan cinta kepada Rasulullah SAW. Habib Ali menyebut Nabi sebagai "pintu harapan", yakni jalan yang mengantarkan umat menuju rahmat Allah SWT.

وَالرَّسُولُ الْكَرِيمُ بَابُ رَجَائِي

فَهُوَ غَوْثِي وَغَوْثُ كُلِّ الْبَرِيَّةِ

War-rasūlul karīmu bābu rajā'ī, fahuwa ghautsī wa ghautsu kullil bariyyah.

"Rasul yang mulia adalah pintu harapanku. Beliau adalah penolongku dan penolong seluruh makhluk."

Dalam bait-bait berikutnya, Habib Ali memohon agar Allah menghimpun yang tercerai-berai, menanamkan kejujuran dalam niat, serta membimbing manusia menapaki jalan orang-orang saleh yang telah lebih dahulu sampai kepada-Nya.

Namun puncak keindahan kasidah ini terletak pada bait penutupnya.

وَاحْفَظِ الْقَلْبَ أَنْ يُلِمَّ بِهِ

الشَّيْطَانُ وَالنَّفْسُ وَالْهَوَى وَالدَّنِيَّةُ

Wahfaẓil qalba an yulimma bihisy-syaithānu wan-nafsu wal-hawā wad-daniyyah.

"Jagalah hati kami dari pengaruh setan, hawa nafsu, kecenderungan yang rendah, serta segala hal yang menjauhkan dari-Mu."

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |