REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Kenaikan harga BBM jenis Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 dikeluhkan masyarakat. Karena merasa keberatan, mereka memilih beralih ke Pertalite.
Alvin (26 tahun), warga Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), mengaku kaget dengan kenaikan harga Pertamax yang sangat tiba-tiba pada Rabu (10/6/2026). "Kemarin harganya masih 12 ribu sekian, sekarang sudah naik, itu agak berlebihan pemerintah," katanya ketika ditemui di SPBU Pertamina Ahmad Yani Semarang.
Saat ditemui, Alvin baru saja membeli Pertamax untuk sepeda motornya dengan jenis Yamaha Nmax. Sejak awal dia sudah menggunakan Pertamax untuk sepeda motornya. Hal itu karena Alvin merasa Pertamax membuat kondisi dan tarikan mesinnya lebih halus.
"Namun dengan kenaikan harga Pertamax sekarang, ke depannya mungkin saya turunkan saja ke Pertalite," kata Alvin.
Dia menambahkan, dengan beralih ke Pertalite, kondisi mesinnya mungkin tidak sehalus seperti saat menggunakan Pertamax. "Tapi yang penting pengeluarannya jadi menurun," ujarnya.
Alvin mengaku cukup khawatir dengan kenaikan harga BBM nonsubsidi yang juga diiringi lonjakan harga barang-barang. Apalagi kondisi global juga tak menentu akibat konflik. "Mungkin ke depannya bisa tak terkendali situasinya. Yang parahnya kan rakyat mungkin bisa demo besar-besaran," ucapnya.
Dia berharap pemerintah dapat mengambil kebijakan yang lebih berpihak pada masyarakat ke depannya. "Pemerintah seharusnya mengkalkulasi dan lebih bijak lagi, apalagi untuk rakyat yang tidak mampu. Mungkin dana-dana yang tidak penting bisa dialokasikan untuk yang lebih membutuhkan," kata Alvin.
Raditya (46 tahun) juga berencana beralih dari Pertamax ke Pertalite. Warga Banyumanik, Kota Semarang, itu biasanya menggunakan Pertamax untuk sepeda motornya yang berjenis Honda Vario. "Tadi saya isi Rp30 ribu. Karena hari ini naik jadi Rp16.250, yang biasanya bisa isi full, sekarang enggak," ucapnya ketika ditemui di SPBU Pertamina Veteran.
Sama seperti Alvin, Raditya pun mengaku kaget dengan kenaikan harga Pertamax yang mendadak dan cukup signifikan. "Tentunya sangat mengecewakan, apalagi kondisi kita sekarang lagi susah. Kalau kenaikannya tidak signifikan, mungkin masih oke. Seharusnya program-program yang memberatkan seperti MBG, Kopdes, itu dihapus saja, dialihkan untuk subaidi yang lebih signifikan seperti energi, pendidikan," katanya.
Raditya mengungkapkan, ke depan dia bakal beralih menggunakan Pertalite. "Jadi akan downgrade, pindah. Mungkin pakai arang besok," ujar Raditya berkelakar.
Dani (30 tahun), warga Kota Semarang lainnya, juga akan berpindah dari pengguna Pertamax ke Pertalite. "Kenaikan harga ini berat sekali. Dengan kondisi ekonomi saya sekarang, saya pilih pindah ke Pertalite saja," katanya seusai membeli Pertamax di SPBU Pertamina Ahmad Yani.
Dia mengaku memang biasa menggunakan Pertamax untuk sepeda motornya yang berjenis Honda Beat. Alasannya karena membuat mesinnya terasa lebih halus. "Saya sih berharap kalau bisa harganya turun, jangan terlalu berat," kata Dani.
Dani khawatir kenaikan harga BBM nonsubsidi, termasuk harga barang-barang, akan terus berlanjut. "Kalau begini saya khawatir ekonomi tambah anjlok, tambah hancur," ujarnya.

3 hours ago
2

















































