Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
07 April 2026 13:15
Jakarta, CNBC Indonesia -Pergerakan mata uang negara-negara berkembang sepanjang 2026 tengah berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupee India hingga rupiah sama-sama kesulitan menguat di tengah kokohnya mata uang Negeri Paman Sam.
Tekanan ini tercermin dari tetap kuatnya US Dollar Index (DXY), indeks yang mengukur pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia. Ketika dolar AS diburu pelaku pasar global sebagai aset aman, ruang penguatan mata uang negara lain pun otomatis makin terbatas.
Bagi negara berkembang, kondisi ini menjadi lebih berat karena mereka tidak hanya menghadapi dolar AS yang perkasa, tetapi juga arus keluar modal, kenaikan biaya impor, serta gejolak harga energi dunia.
Dalam situasi seperti ini, bank sentral pun dituntut bergerak cepat agar pelemahan mata uang tidak berubah menjadi tekanan yang lebih besar bagi stabilitas ekonomi domestik.
Rupee India
Melansir data Refinitiv, secara year to date mata uang India yakni rupee tengah mengalami tekanan sebesar 3,57% terhadap dolar AS ke level INR 93,06/US$ pada penutupan Senin (6/4/2026).
Bahkan, rupee India sempat menembus level terlemahnya sepanjang masa pada 27 Maret 2026, ketika ditutup melemah 0,57% ke posisi INR 94,77/US$.
Tekanan terhadap rupee tahun ini juga datang dari berbagai arah. Selain terdorong oleh penguatan dolar AS, mata uang India ikut tertekan oleh arus keluar dana asing, lonjakan harga minyak akibat perang Iran, serta memudarnya keyakinan investor.
Kondisi ini membuat tekanan terhadap rupee menjadi lebih berat, karena India merupakan negara pengimpor energi yang sangat sensitif terhadap kenaikan harga minyak dunia.
Lonjakan harga minyak pun menambah kekhawatiran pasar terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan India. Ketika harga energi naik, kebutuhan impor membesar dan permintaan dolar AS ikut meningkat.
Di saat yang sama, keluarnya dana asing dari pasar saham dan obligasi semakin mempersempit ruang penguatan rupee.
Dengan tren pelemahan yang terjadi pada nilai tukarnya, Reserve Bank of India (RBI) tak tinggal diam.
Kebijakan Bank Sentral India
Bank sentral India, yakni Reserve Bank of India (RBI), mulai mengambil langkah lebih agresif setelah rupee terus tertekan terhadap dolar AS di tengah perang Iran, lonjakan harga minyak, dan arus keluar dana asing.
Berikut kebijakan yang diambil RBI:
Rupiah Indonesia
Pergerakan nilai tukar rupiah pun tak jauh berbeda dari rupee India. Secara year to date rupiah melemah sekitar 2,14% ke level Rp17.030/US$ pada penutupan perdagangan Senin (6/4/2026). Kondisi itu membuat rupiah berada di level terlemahnya sepanjang sejarah, sekaligus menjadi kali pertama mata uang Garuda ditutup di atas level psikologis Rp17.000/US$.
Tekanan terhadap rupiah sepanjang tahun ini juga banyak dipengaruhi faktor eksternal. Penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak dunia, serta meningkatnya permintaan aset aman di tengah perang AS-Iran membuat ruang penguatan rupiah menjadi sangat terbatas.
Di sisi lain, faktor domestik juga ikut menambah tekanan. Pasar menyoroti kekhawatiran terhadap prospek fiskal Indonesia, terutama terkait kemungkinan defisit APBN yang bisa mendekati bahkan menembus batas 3% pada 2026 jika tekanan harga minyak bertahan tinggi.
Kekhawatiran ini membuat sentimen pasar terhadap aset domestik ikut tertekan, sehingga membebani pergerakan rupiah.
Meski demikian, Bank Indonesia (BI) juga tak tinggal diam. BI telah menempuh berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mulai dari intervensi di pasar valas hingga penyempurnaan aturan transaksi devisa agar permintaan dolar AS tetap sehat dan tidak didorong spekulasi.
Berikut kebijakan yang diambil BI:
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

4 hours ago
4
















































