Indonesia Berwibawa

6 hours ago 3

Oleh: Achmad Tshofawie, Keluarga ICMI dan FKPPI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wibawa sebuah bangsa tidak lahir pertama-tama dari kerasnya suara pejabat, banyaknya baliho politik, atau parade seremonial yang megah. Wibawa juga tidak otomatis muncul hanya karena kekayaan sumber daya alam, luas wilayah, atau jumlah penduduk yang besar. Dalam sejarah peradaban, banyak negeri kaya justru dipermainkan kekuatan asing, sementara ada bangsa yang wilayahnya kecil tetapi dihormati dunia karena kualitas manusianya, ketegasan institusinya, dan kejernihan arah moralnya.

Karena itu, Indonesia berwibawa bukan sekadar Indonesia yang ditakuti. Indonesia berwibawa adalah Indonesia yang dipercaya, dihormati, didengar, dan memiliki pengaruh moral maupun strategis dalam percaturan dunia. Dan semua itu berakar dari kualitas manusianya. Di titik inilah, bangsa ini membutuhkan figur pemimpin berkarakter ulil albab.

Dalam Al-Qur’an, istilah ulil albab merujuk pada manusia yang memiliki kejernihan akal, kedalaman hikmah, dan kemampuan membaca realitas secara utuh. Mereka bukan sekadar cerdas secara teknokratis, tetapi mampu menghubungkan ilmu, moral, dan tanggung jawab sosial. Pemimpin seperti ini tidak mudah mabuk pujian, tidak gampang terseret emosi massa, dan tidak silau oleh gemerlap kekuasaan.

Sosiolog Jerman, Max Weber, pernah menjelaskan bahwa legitimasi kekuasaan bertahan bukan hanya karena hukum atau kekuatan koersif, tetapi juga karena kharisma dan kepercayaan publik. Namun Weber juga mengingatkan bahwa kharisma tanpa etika dapat berubah menjadi otoritarianisme. Karena itu, figur ulil albab penting sebagai penyeimbang antara kecerdasan strategis dan tanggung jawab moral.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Kampus melahirkan ribuan sarjana setiap tahun. Teknologi berkembang cepat. Informasi bertebaran di mana-mana. Tetapi bangsa ini sering kekurangan manusia yang mampu menyatukan ilmu dengan amanah. Kita memiliki banyak orang yang pandai berbicara, tetapi tidak semua mampu menjaga integritas ketika kekuasaan dan kepentingan datang menghampiri.

Di sinilah pentingnya lembaga syura modern seperti MPR, DPR, dan DPD diisi oleh figur yang amanah dan kompeten. Majelis permusyawaratan tidak boleh berubah menjadi arena transaksi elite semata. Dalam teori manajemen modern, kualitas organisasi sangat ditentukan oleh kualitas pengambilan keputusan kolektif. Peter Drucker menegaskan bahwa institusi yang sehat lahir dari kombinasi kompetensi dan karakter. Kompetensi tanpa karakter melahirkan manipulasi, sedangkan karakter tanpa kompetensi melahirkan ketidakmampuan.

Karena itu, parlemen ideal bukan hanya dipenuhi orang populer, melainkan orang yang: memahami persoalan bangsa, mengerti dampak kebijakan, mampu berpikir jangka panjang, dan tidak menjadikan jabatan sebagai investasi pribadi.

Bangsa yang besar memerlukan mekanisme check and balance yang sehat, bukan sekadar oposisi gaduh tanpa solusi. Dalam tradisi Timur, terutama pemikiran Confucius, pemimpin dan penasihat negara dituntut memiliki kebajikan moral sebelum menjalankan administrasi pemerintahan. Sebab negara yang kehilangan moralitas akan dipenuhi kepura-puraan politik dan birokrasi yang hanya sibuk menjaga citra.

Karena itu pula, para pembantu presiden memegang peranan sangat strategis. Menteri bukan sekadar pelengkap kabinet atau representasi kompromi politik. Mereka adalah pengelola amanah publik. Dalam teori manajemen sistem, organisasi besar akan runtuh bila terjadi disfungsi koordinasi antarbagian. Presiden sehebat apa pun akan kesulitan jika pembantunya tidak kompeten, haus pencitraan, atau sibuk bermain agenda pribadi.

Psikologi organisasi modern menjelaskan bahwa budaya kerja pemimpin akan menular ke bawah. Jika elite gemar manipulasi data, bawahan belajar memanipulasi laporan. Jika elite anti kritik, bawahan belajar menyembunyikan masalah. Tetapi jika elite bekerja dengan disiplin dan integritas, kultur itu perlahan mengakar ke seluruh sistem.

Karena itu Indonesia berwibawa membutuhkan: pemimpin yang visioner, parlemen yang amanah, birokrasi yang profesional, dan kabinet yang berintegritas. Namun negara tidak akan sehat bila rakyat hanya menjadi penonton pasif.

Di era digital, masyarakat sering terjebak dua ekstrem: fanatisme membabi buta, atau kebencian tanpa arah.

Padahal bangsa besar membutuhkan rakyat yang dewasa secara psikologis dan politik. Rakyat yang mendukung program baik pemerintah, tetapi juga berani mengoreksi kebijakan buruk dengan cara yang hikmah dan beradab.

Dalam teori psikologi sosial, masyarakat yang sehat adalah masyarakat dengan critical loyalty: memiliki loyalitas terhadap bangsa, tetapi tetap kritis terhadap penyimpangan. Ini berbeda dengan kultus individu ataupun kebencian destruktif.

Erich Fromm pernah mengingatkan bahwa manusia mudah menyerahkan kebebasan berpikirnya kepada figur otoritas ketika dilanda ketakutan atau ketidakpastian. Karena itu bangsa yang matang harus membangun budaya dialog, bukan sekadar budaya sorak-sorai politik.

Dalam konteks ekonomi, Indonesia berwibawa juga berarti Indonesia yang berdiri di atas fondasi produktivitas dan keadilan. Ekonom seperti Amartya Sen menekankan bahwa pembangunan sejati bukan hanya pertumbuhan angka, tetapi perluasan kemampuan manusia untuk hidup bermartabat. Pertumbuhan ekonomi tanpa pemerataan hanya melahirkan ketimpangan sosial yang menjadi bom waktu.

Sebaliknya, pemerataan tanpa produktivitas juga berbahaya karena menghasilkan populisme jangka pendek. Maka bangsa ini membutuhkan keseimbangan: industrialisasi yang sehat, pertanian yang kuat, teknologi yang berkembang, dan keberpihakan kepada rakyat kecil tanpa mematikan inovasi.

Di sinilah konsep ulil albab kembali relevan. Sebab tantangan bangsa modern bukan sekadar teknis, melainkan moral dan peradaban. Indonesia membutuhkan elite yang mampu membaca data sekaligus membaca nurani. Mampu memahami geopolitik global sekaligus penderitaan rakyat kecil. Mampu berpikir strategis tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.

Wibawa bangsa pada akhirnya bukan dibangun dari ketakutan, melainkan dari kepercayaan. Dunia menghormati negara yang: pemimpinnya tidak mudah diatur oligarki, lembaganya bekerja, rakyatnya matang, ekonominya produktif, dan moral publiknya terjaga.

Sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang kehilangan integritas elite dan kesadaran rakyat akan mudah dipecah oleh propaganda, korupsi, dan konflik internal. Tetapi bangsa yang dipenuhi manusia berakal jernih, amanah, dan mau bermusyawarah dengan hikmah akan memiliki daya tahan peradaban yang jauh lebih kuat.

Indonesia berwibawa bukan mimpi kosong. Ia bisa tumbuh ketika: pemimpin berkarakter ulil albab hadir, majelis syura modern dijaga amanahnya, para pembantu negara bekerja dengan integritas, dan rakyat memilih jalan kritik yang beradab, bukan kebencian yang membakar bangsa sendiri.

Karena pada akhirnya, wibawa sejati tidak lahir dari teriakan kekuasaan, tetapi dari kepercayaan kolektif bahwa negeri ini dipimpin oleh manusia-manusia yang berpikir jernih, berhati bersih, dan bekerja sungguh-sungguh untuk kemaslahatan bersama.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |