Ini Penyebab Harga Tiket Pesawat Naik Gila-gilaan

10 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Harga tiket pesawat terpantau naik secara signifikan akibat lonjakan harga avtur yang melesat hingga lebih dari 70 persen.

Kenaikan harga juga terjadi setelah pemerintah menyetujui maskapai penerbangan untuk mengerek harga tiket pesawat maksimal 13 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan kebijakan ini merupakan langkah mitigasi agar harga tiket pesawat tidak melonjak terlalu tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk menjaga kenaikan harga tiket domestik agar tetap terjangkau oleh masyarakat, maka pemerintah menjaga kenaikan harga tiket hanya di kisaran 9-13 persen," kata Airlangga di kantornya, Senin (6/4).

Airlangga mengatakan terdapat tiga langkah mitigasi tersebut terlebih harga avtur berkontribusi cukup besar hingga 40 persen terhadap harga tiket pesawat.

Langkah pertama, pemerintah akan memberikan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP). Adapun total anggaran yang disiapkan mencapai Rp2,6 triliun.

"Dengan perhitungan tersebut jumlah subsidi yang kita berikan oleh pemerintah itu sekitar Rp1,3 triliun per bulannya. Jadi kalau kita persiapkan untuk 2 bulan maka ini Rp2,6 triliun," ujarnya.

Kedua, pemerintah akan menyamaratakan fuel surcharge atau biaya tambahan yang selama ini dikenakan perusahaan transportasi kepada pelanggan menjadi 38 persen untuk semua jenis pesawat. Dengan demikian, maskapai bisa merevisi Tarif Batas Atas (TBA) untuk menutupi kenaikan harga avtur.

Ketiga, pemerintah juga memberikan insentif untuk Bea Masuk pembelian suku cadangan pesawat. Di mana, ini juga berkontribusi terhadap komponen harga tiket.

"Pemerintah juga memberikan insentif penurunan biaya masuk untuk suku cadang pesawat menjadi 0 persen. Jadi suku cadang pesawat itu diberikan biaya masuk 0 persen, sehingga diharapkan bisa juga menurunkan biaya operasional daripada maskapai penerbangan," pungkasnya.

Berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com, harga tiket rute Jakarta-Surabaya untuk periode 17-19 April 2026 berada di kisaran Rp2,4 juta hingga Rp2,5 juta untuk penerbangan pulang-pergi.

Angka ini melampaui harga normal yang biasanya berada di rentang Rp1,65 juta hingga Rp2,15 juta.

Untuk rute ini, maskapai Lion Air menawarkan tiket sekitar Rp2.415.174, disusul Citilink Indonesia Rp2.504.599, dan Batik Air Rp2.551.725. Seluruhnya berada di atas batas atas harga historis yang tercatat di platform tersebut.

Kenaikan serupa juga terjadi pada rute Jakarta-Medan. Harga tiket pulang-pergi tercatat mulai dari Rp3,5 juta hingga Rp4,6 juta, jauh di atas kisaran normal Rp2,7 juta hingga Rp3,3 juta. Lion Air tercatat menawarkan tiket Rp3.519.874, Citilink Rp3.668.549, dan Garuda Indonesia bahkan mencapai Rp4.656.265.

Kenaikan paling mencolok terjadi pada rute Jakarta-Bali. Harga tiket tercatat di kisaran Rp3,6 juta hingga Rp4 juta, padahal harga normal berada di rentang Rp1,95 juta hingga Rp2,45 juta.

Garuda Indonesia menawarkan tiket Rp3.681.817, Citilink Rp3.690.812, Lion Air Rp3.744.186, dan Batik Air mencapai Rp4.084.284.

Tidak hanya domestik, lonjakan harga juga terlihat pada rute internasional jarak dekat. Rute Jakarta-Singapura tercatat di kisaran Rp4 juta hingga Rp4,3 juta, lebih tinggi dari harga normal Rp1,75 juta hingga Rp2,65 juta.

Maskapai Scoot menawarkan Rp4.004.876, Indonesia AirAsia Rp4.090.255, dan Batik Air Rp4.211.855.

Rute Jakarta-Kuala Lumpur juga mengalami kenaikan, dengan harga tiket sekitar Rp2,7 juta hingga Rp2,8 juta, dibandingkan harga normal Rp1,55 juta hingga Rp2,3 juta.

Sementara rute Jakarta-Bangkok melonjak hingga Rp6,5 juta hingga Rp7,8 juta, jauh di atas kisaran normal Rp3,25 juta hingga Rp4,85 juta.

[Gambas:Youtube]

(fln/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |