REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah mengalami koreksi hingga menembus level Rp 17.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah terjadi seiring pasar mewaspadai potensi meningkatnya tensi peperangan di Timur Tengah, setelah kelompok Houthi bergabung mendukung Iran melawan AS-Israel.
Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 22 poin atau 0,13 persen menuju posisi Rp 17.002 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (30/3/2026). Pada perdagangan sebelumnya, mata uang Garuda berada di level Rp 16.979 per dolar AS.
“Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan didukung Iran menyerang Israel pada akhir pekan lalu. Kelompok Houthi dapat membuka front baru dalam perang, mengingat mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah,” kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Senin (30/3/2026).
Ibrahim menjelaskan, Iran diketahui telah menyampaikan kesiapan menghadapi invasi darat oleh AS, terutama setelah laporan akhir pekan lalu menunjukkan Washington mengerahkan ribuan pasukan ke Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan bahwa negosiasi dengan Iran berjalan dengan baik dan kesepakatan mungkin akan segera tercapai. Namun, ia tidak menyebutkan tenggat waktu yang jelas, sambil juga memperingatkan adanya serangan lebih lanjut terhadap Teheran.
“Trump pekan lalu telah memperpanjang tenggat waktu untuk serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga awal April. Iran sebagian besar menolak gagasan pembicaraan langsung dengan AS sejak dimulainya perang pada akhir Februari,” terangnya.
Ibrahim melanjutkan, kondisi ekonomi AS dan ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve, juga turut menjadi sentimen eksternal pelemahan rupiah.
Dari segi data ekonomi, Universitas Michigan mengungkapkan rumah tangga Amerika mulai pesimis tentang kondisi ekonomi. Sentimen konsumen pada bulan Maret turun dari 55,5 menjadi 53,3, di bawah perkiraan 54. Ekspektasi inflasi untuk 12 bulan ke depan melonjak dari 3,4 persen pada Februari menjadi 3,8 persen, sementara untuk lima tahun tetap tidak berubah di 3,2 persen.
“Pasar saat ini memperkirakan langkah selanjutnya dari The Federal Reserve adalah kenaikan suku bunga, mengingat skenario harga energi yang tinggi. Menurut CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan tidak akan ada penurunan suku bunga tahun ini dan bertaruh pada peluang 50 persen akan ada kenaikan suku bunga di akhir tahun 2026, dibandingkan dengan proyeksi dua kali penurunan suku bunga sebelum perang AS-Iran dimulai,” terangnya.

2 hours ago
1

















































