Sebuah kapal terlihat berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, 1 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan agresi terhadap Iran pada 28 Februari 2026, Iran langsung melancarkan serangan balasan sekaligus menutup Selat Hormuz dan menyeleksi kapal-kapal mana saja yang diizinkan lewat. Penutupan Selat Hormuz di satu sisi membuat banyak negara mengalami gejolak di sektor energi, namun sebaliknya bagi Teheran.
Menurut analisis data The Economist, Ahad (29/3/2026), Iran melipatgandakan pendapatan hariannya dari penjualan minyak sejak akhir Februari atau sejak perang dengan AS-Israel pecah. Memasuki pekan kelima perang, menurut laporan itu, lanskap geopolitik di sektor energi telah bergeser secara dramatis.
Blokade terhadap Selat Hormuz, telah mengakibatkan kolapsnya pendapatan negara-negara di Teluk Persia dari penjualan minyak, namun membuat kas negara Iran membengkak. Data yang dikutip The Economist mengindikasikan ekspor Iran saat ini berada di angka 2,5 hingga 2,8 juta barel per hari (bpd), atau melonjak dari sebelumnya di kisaran 1,5 hingga 1,8 juta bpd.
Saat suplai minyak global mengetat akibat dari instabilitas, harga minyak pun melonjak, namun Iran berhasil mengkapitalisasi kondisi ini. Analis yang dikutip The Economist mengatakan bahwa, mesin minyak Teheran telah mendemonstrasikan ketangguhan yang signifikan, tetap beroperasi dengan beradaptasi terhadap permusuhan dan sanksi berlanjut
China tetap menjadi tujuan utama ekspor minyak Iran, di mana Beijing menyerap hingga 90 persen dari total ekspor Iran. Sementara, kilang-kilang minyak kecil independen dilaporkan juga membeli minyak mentah Iran di harga mendekati batas harga minyak mentah dunia (crude).
Dalam sebuah pergeseran penting dari tahun-tahun sebelumnya di mana minyak Iran diperdagangkan pada harga diskon akibat sanksi, kini minyak Iran dijual di level harga premium. Menurut laporan The Economist, dinamika saat ini memberikan Teheran kekuatan finansial yang belum pernah terjadi sebelumnya selama tekanan ekonomi dan militer dari AS dan Israel.
"Perkembangan ini menjadi sebuah kasus ketangguhan dan adaptasi strategis, yang membuat Republik Islam memitigasi dampak dari ancaman imperialis atas usaha mengisolasi sektor energi Iran," ujar salah satu analis dikutip The Economist.

4 hours ago
5

















































