REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pagi itu, jalanan belum sepenuhnya terang, tetapi arus manusia sudah mengalir seperti sungai yang tak terbendung. Dari kota ke desa, dari pusat ke pinggiran, jutaan orang bergerak dalam satu ritme yang sama, mudik.
Di balik wajah-wajah lelah dan kendaraan yang penuh sesak, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar perjalanan pulang, ada denyut ekonomi yang sedang berpindah arah.
Data Kementerian Perhubungan mencatat, sejak H-8 atau 13 Maret 2026 hingga hari H Lebaran, sebanyak 10.887.584 orang menggunakan angkutan umum. Angka ini meningkat 8,58 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 10.027.482 orang.
Lonjakan ini bukan hanya statistik mobilitas, melainkan isyarat bahwa Lebaran kembali menjadi momentum kolektif yang menggerakkan banyak hal sekaligus.
Di balik angka itu, ada kereta yang penuh, pesawat yang padat, kapal yang sarat penumpang, dan bus yang berderet panjang. Angkutan kereta api mencatat 3.349.343 penumpang atau naik 13,46 persen. Penyeberangan tumbuh 14,01 persen menjadi 2.664.004 penumpang.
Bus meningkat 9,37 persen dengan 1.693.931 penumpang, sementara angkutan udara melayani 2.397.192 penumpang. Semua moda bergerak naik, seolah menegaskan bahwa Lebaran bukan sekadar tradisi, melainkan mesin ekonomi yang bekerja secara senyap namun masif.
Namun, yang sesungguhnya bergerak bukan hanya manusia. Uang juga ikut pulang kampung.
Setiap pemudik membawa sesuatu, entah dalam bentuk amplop, oleh-oleh, atau sekadar belanja kebutuhan keluarga. Dari Jakarta dan kota-kota besar lainnya, perputaran uang yang biasanya terpusat kini mengalir ke daerah. Desa yang biasanya tenang mendadak hidup, pasar kembali riuh, dan warung-warung kecil menjadi pusat transaksi yang tak henti.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M Rizal Taufikurahman, menyebut momentum Ramadhan dan Idul Fitri mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 5,1–5,2 persen secara tahunan pada kuartal I 2026. Bahkan pemerintah menargetkan pertumbuhan mencapai 5,5–5,6 persen, dengan Lebaran sebagai salah satu penggeraknya.
Lonjakan konsumsi menjadi kunci. Belanja pakaian baru, makanan khas, hingga biaya transportasi dan wisata menciptakan efek berlapis. INDEF mencatat tambahan konsumsi selama periode ini dapat menyumbang hingga 0,5 persen terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal pertama, sementara konsumsi rumah tangga meningkat 15–20 persen dibandingkan periode normal.
sumber : Antara

9 hours ago
4

















































