Jakarta Barat Anjurkan Beternak Lele untuk Atasi Masalah Sampah

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Barat mendorong masyarakat untuk beternak lele sebagai langkah mengatasi masalah sampah organik. Kebijakan ini muncul setelah kuota pembuangan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang dikurangi dari 308 menjadi 190 truk per hari akibat insiden longsor pada 8 Maret lalu.

Kasudin LH Jakarta Barat, Achmad Hariadi, menyatakan bahwa lele efektif dalam mengonsumsi sampah organik, sehingga beternak lele dapat menjadi solusi yang praktis. "Nah lele ini kan paling gampang untuk memakan sampah organik, ya kan? Nah itu yang paling efektif, di buatlah ternak lele," ujar Hariadi.

Pengurangan kuota ini, menurut Hariadi, harus menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola sampah. "Melihat kondisi seperti ini tidak bisa lagi mengandalkan Bantar Gebang. Jadi warga harus bijak dalam mengelola sampah," katanya.

Di beberapa wilayah yang belum memiliki Tempat Penampungan Sementara (TPS), seperti di Kalianyar, Tambora, permasalahan pengelolaan sampah menjadi semakin mendesak. Warga di wilayah tersebut telah mengeluhkan penumpukan sampah di Jalan Kanal Banjir Barat yang menimbulkan bau busuk dan mengganggu pengguna jalan.

Hariadi juga menyarankan warga menggunakan metode komposter untuk mempercepat penguraian sampah organik dan mengatasi keterbatasan lahan bertani. "Warga dengan lahan yang terbatas juga bisa membuat komposter menggunakan material tertentu seperti galon-galon," tambahnya.

Bila warga mengalami kesulitan dalam pemilahan sampah, Sudin LH siap membantu. "Kalau memang warga sudah milah sampah tapi tidak bisa menyelesaikan, bisa minta tolong LH untuk menangani sampah organiknya," jelas Hariadi.

Sebelumnya, Sudin LH Jakarta Barat telah menerapkan strategi pengangkutan bertahap untuk merespons pembatasan kuota pembuangan sampah sebesar 38 persen ke TPST Bantar Gebang. Truk kecil tidak lagi dioperasikan ke Bantar Gebang; sebaliknya, daya angkut mereka dipadatkan ke truk besar.

"Kita kirim dua rit. Yang biasa satu rit jadi dua rit. Satu rit truk besar mengangkut yang sudah rutin, satu rit lagi kumpulan dari beberapa truk kecil," ujar Hariadi, menjelaskan strategi tersebut.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |