Kado Rumi untuk sang Nabi

2 hours ago 6
MI/Seno MI/Seno(Dok. Pribadi)

GOMISHAN sebuah nama yang mungkin tidak akan pernah saya dengar seumur hidup jika tidak menghadiri undangan maulid. Kota kecil di Bandar Turkaman, jauh di utara Iran, itu menyimpan wajah yang jarang dibayangkan dunia ketika mendengar nama Iran. Penduduknya suku Turkaman dengan mayoritas pengikut Ahlusunah. Mereka hidup berdampingan di negeri yang lebih dikenal sebagai negeri Syiah beretnik Persia.

Acara maulid baru dimulai selepas Isya. Saya duduk di antara perempuan Turkaman yang bahasanya sama sekali tidak saya pahami. Hanya Atefeh, perempuan muda yang paling fasih berbahasa Persia di sana, yang sesekali menerjemahkan jalannya acara. Ketika tavashih, puji-pujian untuk Nabi dalam bahasa Turkaman, mulai dilantunkan, mata Atefeh berkaca-kaca. Saya menatapnya dan tiba-tiba menyadari, ada jenis kerinduan yang tidak membutuhkan penerjemah.

Di pengujung majelis, saya berpelukan dengan Atefeh dan perempuan-perempuan Turkaman itu. Bahasanya tak saya mengerti, tetapi kehangatannya terasa akrab, seperti pelukan sesama jemaah selawatan di kampung saya. Dua kebudayaan, dua bahasa, tetapi satu napas yang sama: kerinduan kepada seorang manusia yang wafat 14 abad lalu, tetapi tidak pernah benar-benar pergi dari hati orang-orang yang mencintainya.

Pengalaman tersebut membawa saya kembali pada masa kecil, ketika saya duduk berdesakan di lantai surau, mendengarkan selawat yang bersahut-sahutan, sementara ibu-ibu membagikan nasi dan lauk yang mereka masak sejak subuh. Ternyata, kerinduan yang saya temukan di pelosok Iran itu bukan sesuatu yang asing. Namun, kerinduan yang pernah tumbuh bersama saya sejak kecil.

Lalu pertanyaan itu muncul, apa yang membuat kerinduan kepada seseorang yang telah berjarak 14 abad silam mampu menembus sekat bahasa, suku, bahkan mazhab? Barangkali jawabannya bukan semata pada seremoni maulid, melainkan pada sosok yang teladan cintanya tetap hidup jauh setelah ia wafat.

Salah satu suara yang paling kuat menghidupkan kerinduan itu seorang penyair sufi bernama Jalaluddin Rumi. Menariknya, keluasan cinta dan pandangan Rumi yang sering dianggap toleran dan inklusif justru tidak lahir dari sikap menjauh dari Islam. Franklin D Lewis, dalam Rumi: Past and Present, East and West, menunjukkan bahwa spiritualitas Rumi berakar kuat pada tradisi Islam yang ia pelajari sejak kecil, termasuk pada teladan Nabi Muhammad. Kerinduan spiritual Rumi, dengan demikian, jalan yang semakin dalam menuju Nabi yang menjadi teladannya.

Rumi sendiri menyatakannya dengan sangat tegas dalam salah satu rubainya dari Divan-e Syams,

“Aku hamba Al-Qur’an selama nyawa masih ada dalam diriku, aku debu di ambang pintu Muhammad sang Terpilih. Jika seseorang mengutip perkataanku selain ini, aku berlepas diri darinya dan dari ucapan itu.”

Pernyataan itu hampir seperti sebuah ikrar. Di balik keluasan pemikiran dan bahasa cintanya, Rumi menempatkan dua hal sebagai pijakan yang tak tergoyahkan: Al-Qur’an dan kesetiaan kepada Nabi Muhammad.

RUH SEMESTA: MELAMPAU SOSOK HISTORIS

Bagi Rumi, pembicaraan tentang Nabi Muhammad tidak berhenti pada kehidupannya sebagai manusia yang lahir di Mekah, menerima wahyu, dan menyampaikan risalah. Di balik sosok historis itu, Rumi melihat hakikat yang jauh lebih dalam, dimulai bukan dari sejarah, melainkan dari cinta.

Dalam kisah Mikraj, Rumi menuliskan bahwa cinta Tuhan dan rahasia kecintaan-Nya kepada sang Kekasih menjadi sebab utama tersingkapnya seluruh tabir penciptaan. Pada malam pertemuan itu, tulis Rumi, Tuhan berfirman kepada Nabi: “Jika bukan karenamu, tidak akan Kuciptakan semesta.” Ungkapan yang dikenal sebagai Laulaka ini, bagi Rumi, bukan sekadar pujian tentang keutamaan Nabi, melainkan penegasan bahwa penciptaan bukan peristiwa kosmologis yang berdiri sendiri, melainkan peristiwa cinta dan Muhammad ialah titik tempat cinta itu mencapai kesempurnaannya.

Di tempat lain dalam Matsnawi, Rumi menggambarkan cinta sebagai kekuatan yang mampu mendidihkan lautan, melumatkan gunung menjadi debu, membelah langit, dan mengguncang bumi. Namun, di antara segala kedahsyatan itu, ia menulis satu baris yang menjadi inti pandangannya: bersama Muhammad, cinta menemukan pasangan sejatinya. Karena cinta itulah, tulis Rumi, langit dan bumi diciptakan, agar manusia memahami betapa tingginya cinta itu sendiri. Rumi bahkan menyebut Muhammad sebagai 'sang Penguasa Laulak' rahasia yang menjadi inti seluruh alam semesta.

Dari titik itulah pandangan dunia Rumi tentang Nabi menemukan bentuknya yang paling utuh: jika alam semesta ada karena cinta Tuhan kepada Muhammad, kehadiran Nabi bukan sekadar peristiwa yang telah berlalu, melainkan energi yang terus-menerus menghidupkan seluruh eksistensi. Rumi menuliskannya dengan lugas:

“Sibaklah tabirmu, wahai Muhammad, sebab dunia hanyalah jasad, dan Engkaulah ruh yang menghidupkannya.” (Matsnawi, jilid 4, bait 1454)

Dalam kosmologi Rumi, jasad tanpa ruh hanyalah bangkai. Ia ada, tapi tidak hidup, tidak bergerak, tidak merasa. Dengan menyebut dunia sebagai jasad dan Nabi sebagai ruhnya, Rumi menempatkan Muhammad sebagai sumber kehidupan yang terus mengalir sampai hari ini.

WAJAH HUMANIS SANG NABI

Dari cinta yang menciptakan semesta itulah, Rumi kemudian menunjukkan sisi lain dari Mustafa yang barangkali paling menyentuh: bukan hanya Nabi sebagai kekasih Tuhan atau ruh yang menghidupkan dunia, melainkan juga Nabi yang hadir begitu dekat dengan penderitaan manusia biasa.

Rumi menulis dalam Matsnawi jilid 6, bait 482.

“Sebaik-baik manusia adalah dia yang bermanfaat bagi manusia lain, wahai tuan. Jika engkau bukan batu, mengapa berada di padang tandus?”

Perumpamaan itu sederhana, tetapi tajam. Batu ada, tetapi tidak memberikan keteduhan, ia hanya diam. Bagi Rumi, menjadi manusia berarti menghadirkan sesuatu bagi kehidupan orang lain dan Mustafa ialah teladan tertinggi dari prinsip itu. Ia menerima wahyu dari langit, tetapi wahyu itu selalu dibawanya kembali kepada manusia di bumi.

Humanisme Nabi dalam pembacaan Rumi tidak berhenti pada gagasan abstrak tentang kebaikan. Ia masuk ke wilayah yang sangat konkret: bagaimana seseorang memperlakukan orang yang kedudukannya lebih rendah. Dalam Matsnawi jilid 6, bait 3974-3975, Rumi menulis, dengan nada menegur dirinya sendiri:

“Sungguh aku malu di hadapan Nabi yang mulia, ketika beliau berkata, ‘Berilah mereka pakaian sebagaimana pakaian yang kalian kenakan.’ Mustafa juga berwasiat kepada umatnya, ‘Berilah makan mereka yang berada di bawah tanggungan kalian, sebagaimana makanan yang kalian makan’.”

Pesan yang tampak sederhana itu menyimpan gagasan mendalam tentang martabat manusia: bahwa perbedaan posisi sosial tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi kemanusiaan seseorang. Ukuran kemanusiaan seseorang terletak pada bagaimana ia memperlakukan mereka yang berada di bawah kuasanya.

Ada pula bentuk kasih yang lebih hening, mengetahui sesuatu tentang seseorang, tetapi memilih untuk tidak mempermalukannya. Dalam Matsnawi jilid 3, bait 162-163, Rumi menulis:

“Ketika Mustafa mampu mencium sesuatu dari kejauhan, bagaimana mungkin ia tidak mengetahui apa yang keluar dari mulut kita? Ia tentu mengetahuinya, tetapi memilih menutupinya dari kita.”

Nabi memberi manusia sesuatu yang sangat berharga: ruang untuk berubah. Seseorang boleh memiliki masa lalu yang kelam, tetapi masa lalu bukan berarti seluruh dirinya.

Pada titik paling mendalam, Rumi menautkan kenabian dengan kebebasan. Dalam Matsnawi

 jilid 6, bait 4540-4542, ia bertanya, “Siapakah Maula? Dialah yang membebaskanmu, yang melepaskan belenggu perbudakan dari dirimu.” Belenggu yang dimaksud jauh lebih dalam, yaitu ego, keserakahan, dan ketakutan akan penilaian orang lain.

Semua gambaran ini, kebermanfaatan, martabat, perlindungan, kebebasan, mengarah pada satu pusat yang sama: manusia. Semakin dekat Mustafa kepada langit, semakin dalam pula kepekaannya terhadap bumi.

MAULID SEBAGAI PERAYAAN KEMANUSIAAN

Mungkin di sinilah maulid menemukan maknanya. Dari selawatan di surau kampung hingga tavashih di desa-desa Iran, kita tidak hanya mengenang kelahiran Nabi, tetapi juga mengingat kembali cara beliau memperlakukan manusia. Bagi Rumi, mencintai Mustafa tidak cukup dengan mengaguminya. Cinta itu semestinya membuat kita lebih peduli kepada mereka yang lemah, menjaga martabat orang lain, dan memberikan ruang bagi mereka untuk bangkit.

Di Indonesia, kerinduan itu bisa diwujudkan dengan cara yang sederhana: hadir untuk saudara yang sedang kesulitan, membantu mereka yang terdampak oleh bencana. Misalnya, peristiwa gempa bumi baru saja mengguncang Flores dan sekitarnya di NTT, ada saudara-saudara kita yang kehilangan rumah, rasa aman, bahkan orang-orang yang mereka cintai. Pada saat seperti itu, hadir dan membantu mereka, tanpa terlebih dahulu bertanya tentang agama atau latar belakang mereka, menjadi cara menerjemahkan cinta yang selama ini kita lantunkan dalam selawat.

Bagi Rumi, mencintai sang Nabi bukan hanya tentang seberapa sering kita menyebut namanya, melainkan juga tentang kemampuan kita untuk peka dan merasakan penderitaan sesama. Jika maulid hanya membuat kita semakin fasih melantunkan selawat, tetapi tidak membuat kita semakin peka terhadap penderitaan orang lain, barangkali ada sesuatu yang belum selesai dalam cara kita mencintai Nabi.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |