Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)
SENIN malam lalu, sekitar pukul 20.00 Bandar Udara El Prat lebih ramai daripada biasanya. Pesawat Pilatus PC-24 dengan nomor penerbangan PTN27B menjadi pesawat yang paling banyak dipantau di aplikasi flight radar.
Pesawat dari Manchester menuju Barcelona itu memang 2 jam terlambat dari jadwal. Banyak orang ternyata menunggu kedatangan salah satu penumpang pesawat itu. Penumpang itu ialah kapten kesebelasan Spanyol Rodrigo Hernandez.
Rodri yang beberapa hari sebelumnya terbang dari Madrid ke Manchester ternyata harus kembali lagi ke Spanyol. Dalam beberapa hari terakhir itu ada perkembangan yang menarik. Pemain Terbaik Piala Dunia 2026 diputuskan untuk dilepas Manchester City dan klub yang mendapatkan Rodri ialah Barcelona.
Sebenarnya Real Madrid mengincar juga Rodri. Sebagai orang yang berasal dari kota itu, gelandang bertahan terbaik dunia itu senang kalau bisa bergabung dengan 'Los Blancos'. Namun, perkembangan terakhir ternyata Real Madrid fokus mencari pemain penyerang, bukan gelandang.
Barcelona mencoba mencuri kesempatan. Mereka membutuhkan seorang gelandang yang bisa berperan seperti halnya Sergio Busquets dulu. Selama ini posisi Busquets diisi pemain asal Belanda Frenkie de Jong.
Selama ini De Jong berperan baik untuk menjaga keseimbangan lapangan tengah Barca. Hanya saja, sosok Rodri jauh lebih cocok karena mempunyai daya jelajah yang lebih jauh serta kukuh menjadi jangkar.
Untuk itulah, Barca berani membayar 60 juta pound sterling untuk mendapatkan Rodri, yang masih satu tahun terikat kontrak dengan 'the Citizens'. Itu masih ditambah 15 juta pound sterling untuk iklan dan 11 juta pound sterling untuk pendapatan produk virtual.
Kepada Rodri sendiri Barca berani memberikan gaji 15 juta pound sterling, jauh di atas gaji yang ia terima dari City. Kontrak itu berlaku untuk empat musim ke depan.
Kehadiran Rodri diyakini akan membuat Barcelona semakin solid. Dengan komposisi yang lebih seimbang, Barca yakin akan bisa mengembalikan kejayaan mereka setelah ditinggal Lionel Messi dan kawan-kawannya.
Kepulangan Rodri ke La Liga dianggap terlambat karena seharusnya ia kembali lebih awal. Di usia yang memasuki 30 tahun, tinggal sebentar lagi masa kejayaannya bisa bertahan.
Rodri menyambut gembira kepulangan ke tanah airnya. Ia berjanji untuk memberikan yang terbaik untuk mengembalikan kejayaan Barcelona.
NASIB MANCHESTER CITY
Pada saat Barcelona menyambut musim kompetisi dengan penuh antusiasme, masa depan Manchester City justru menjadi pertanyaan. Bukan hanya Rodri yang meninggalkan Stadion Etihad, melainkan juga kapten kesebelasan Kevin de Bruyne, Bernardo Silva, John Stones, dan Nathan Ake.
Tidak hanya itu, City dikabarkan melepas gelandang asal Belanda Tijjani Reijnders dan gelandang bertahan Nico Gonzalez. Bahkan dua pemain lain yang siap-siap untuk dilepas ialah Omar Marmoush dan Savinho.
Kepergian pelatih Josep Guardiola menimbulkan pertanyaan besar atas masa depan Manchester City. Pep Guardiola harus diakui sebagai pelatih terbaik yang pernah dimiliki City karena tidak hanya membawa klub itu menjadi yang terbaik di Inggris, tetapi juga di Eropa dan dunia.
Ketajamannya melihat potensi pemain dan meramunya menjadi satu membuat Manchester City sangat disegani dalam satu dekade terakhir. Kevin de Bruyne dan kawan-kawan bisa mendikte permainan kesebelasan lawan dan sulit untuk bisa dikalahkan.
Meski pernah menjadi asisten Pep Guardiola, Enzo Maresca beda kelas dari gurunya. Maresca sepertinya ingin keluar dari bayang-bayang pendahulunya sehingga merombak total tim asuhannya.
Ia merekrut gelandang Elliot Anderson dari Nottingham Forest dan menjadikannya sebagai pemain termahal Inggris sekarang ini. Namun, Anderson yang bersinar di tim nasional Inggris masih kalah kelas jika dibandingkan dengan Rodri. Masih butuh waktu untuk membuat Anderson bisa menyamai permainan pendahulunya.
Penampilan perdananya di 'the Citizens' saat tampil di Charity Shield menghadapi juara Liga Primer Arsenal menggambarkan betapa memprihatinkannya Manchester City. Anderson tidak mampu menjaga keseimbangan tim, apalagi mengangkat permainan tim.
Minggu lalu tim asuhan Maresca terlihat begitu rapuh. Baru 1 menit pertandingan berjalan, gawang Gianluigi Donnarumma sudah kebobolan. Bek kiri Arsenal Riccardo Calafiori bisa bebas tidak terjaga masuk kotak penalti.
Tidak terlihat possession football yang selama ini menjadi ciri permainan Manchester City. Arsenal bisa leluasa memainkan tiki-taka dari kaki ke kaki untuk mendikte para pemain 'the Citizens'.
Puncak kerapuhan tim asuhan Maresca terlihat dari gol ketiga yang dicetak Arsenal. Kapten kesebelasan Martin Odegaard bisa dengan mudah menyambut umpan Christos Tzolis dan berhadapan langsung Donnarumma. Yang lebih memalukan, Odegaard masih sempat mengecoh kiper Manchester City itu dan menceploskan bola ke gawang yang sudah kosong melompong.
Dengan musim kompetisi yang akan bergulir mulai Jumat malam ini, perlu ada perbaikan besar di tubuh 'the Citizens'. Tidak mungkin mereka bersaing dengan menggunakan tim yang lemah pertahanan dan tumpul serangannya seperti sekarang.
Pada pertandingan pertama Minggu mendatang, Manchester City akan menjamu Bournemouth. Di musim lalu Bournemouth sering menjadi kuda hitam. Kehadiran pelatih asal Jerman Marco Rose bisa menjadi kejutan pahit bagi 'the Citizens'.
Juara bertahan Arsenal akan menandai bergulirnya musim kompetisi baru dengan menjamu Coventry pada Jumat malam atau Sabtu dini hari nanti. Waktu berlatih sudah berakhir, sekarang saatnya berburu gelar.













































