KAI: Jalur Rel Nonaktif di Sumbar Berpotensi Direaktivasi

4 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyebut jalur rel nonaktif di Sumatera Barat berpotensi direaktivasi untuk mendukung konektivitas wilayah, memperkuat distribusi logistik, serta membuka akses menuju kawasan wisata dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan Sumatera Barat memiliki posisi strategis dalam pengembangan konektivitas perkeretaapian di Pulau Sumatra. Selain memiliki sejarah panjang perkeretaapian, provinsi tersebut juga didukung aset prasarana yang masih cukup luas.

Menurut Anne, jaringan rel di Sumatera Barat sejak awal berperan menghubungkan kawasan tambang, pelabuhan, kota, dan masyarakat. Hingga kini, keberadaan kereta api masih menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat maupun distribusi barang.

"Sumatera Barat menunjukkan bagaimana kereta api sejak awal menjadi penghubung ekonomi, kota, pelabuhan, dan masyarakat. Jejak itu tetap relevan untuk membaca kebutuhan konektivitas Sumatra hari ini," ujar Anne dalam keterangannya.

Berdasarkan data Divre II Sumatera Barat, wilayah tersebut memiliki jaringan rel sepanjang sekitar 312,2 kilometer. Dari total panjang tersebut, sekitar 110,9 kilometer merupakan jalur aktif, sementara sekitar 201,3 kilometer lainnya masih berstatus nonaktif.

Saat ini layanan kereta api di Sumatera Barat meliputi KA Pariaman Ekspres, KA Minangkabau Ekspres, KA Lembah Anai, serta KA wisata Mak Itam. Selain melayani angkutan penumpang, KAI juga mengoperasikan layanan angkutan barang untuk mendukung distribusi semen dan klinker.

Kinerja layanan kereta api di wilayah tersebut menunjukkan tren positif. Pada Januari-Mei 2026, layanan kereta api penumpang di Divre II Sumatera Barat melayani 913.674 pelanggan. Sementara untuk angkutan barang, volume yang dilayani mencapai 492.220 ton.

Dalam lima tahun terakhir, jumlah pelanggan kereta api di Sumatera Barat juga terus meningkat. Pada 2025, volume pelanggan mencapai 1,98 juta orang atau meningkat sekitar 81 persen dibandingkan 2021 yang tercatat sekitar 1,09 juta pelanggan.

Anne menjelaskan, kedekatan layanan kereta api dengan kebutuhan masyarakat menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan tersebut. Kereta api tidak hanya melayani perjalanan harian, tetapi juga mendukung akses menuju bandara, kawasan wisata, pusat pendidikan, hingga aktivitas distribusi barang.

"Kereta api di Sumatera Barat dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia melayani perjalanan harian, akses bandara, wisata, sekaligus mendukung distribusi barang," katanya.

Potensi pengembangan perkeretaapian di Sumatera Barat juga didukung keberadaan sejumlah jalur nonaktif yang masih memiliki peluang untuk direaktivasi. Beberapa di antaranya meliputi lintas Naras-Sungai Limau, Kayu Tanam-Padang Panjang-Bukittinggi-Limbanang, Muarokalaban-Sawahlunto, Padang Panjang-Batubual, Batubual-Solok, hingga Solok-Muarokalaban.

Salah satu lintas yang dinilai memiliki prospek kuat adalah jalur Kayu Tanam-Padang Panjang-Bukittinggi-Payakumbuh. Jalur tersebut berpotensi memperkuat konektivitas antardaerah, mendukung sektor pariwisata, serta memperlancar mobilitas masyarakat dan distribusi barang.

KAI menilai pengembangan jaringan rel di Sumatera Barat sejalan dengan upaya memperkuat konektivitas Pulau Sumatra. Kehadiran transportasi berbasis rel dinilai dapat membantu menekan biaya logistik, memperluas akses masyarakat, serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.

"Sejarah rel Sumatera Barat memberi pelajaran penting bahwa konektivitas bukan sekadar jalur, tetapi juga akses, pertumbuhan wilayah, dan kesempatan yang lebih merata bagi masyarakat," ujar Anne.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |