Karya Seni Berbahan Limbah Tekstil Hadir di Pameran Purana 17: Renjana Perca

2 days ago 8
 Renjana Perca Ilustrasi(MI/RIFALDI PUTRA)

SEBUAH permadani berukuran cukup besar menggantung di salah satu sisi Main Atrium Grand Indonesia, Jakarta. Dari kejauhan, permadani yang menampilkan objek pulau dengan birunya lautan itu terpajang cantik dan mencuri perhatian. Menambah kesan tersendiri, permadani itu ternyata dibuat dari limbah tekstil, jadi sebuah gambaran bagaimana sang seniman memberikan kehidupan kedua bagi material yang terlupakan 

Karya seni itu milik Hana Surya, seorang seniman yang telah lama berupaya mengubah limbah tekstil menjadi barang baru yang bisa dimanfaatkan seperti seni dinding, permadani, maupun aksesoris lainnya. Permadani itu menjadi salah satu karya seni daur ulang yang terpanjang dalam gelaran bertajuk ‘Purana 17: Renjana Perca’, berlangsung dari 14 - 23 Agustus 2026,

”Gelaran ini merupakan perayaan dari 17 tahun perjalanan Purana Perca, ini lebih daripada sebuah selebrasi perjalanan kami, melainkan sebagai sebuah kebebasan untuk terus berkarya tanpa batas. Seluruh karya di pameran ini 100 persen dibuat dari bahan-bahan daur ulang, seperti kardus bekas, kayu bekas, dan juga sisa-sisa kain dari tim produksi kami,” ucap Founder Purana Nonita Respati, dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (14/8).

Bukan hanya karya seni milik Hana Surya, belasan seniman lainnya juga turut terlibat dalam gelaran ini, termasuk diantaranya seniman Sutjipto Adi, Francisca Puspitasari, Arief Susanto, Ruth Marbun, hingga Hendra Harsono. Maestro lukis Sutjipto Adi hadir membawa sebuah karya seni berbahan denim dengan ukuran cukup besar.

Menggantung di tengah ruang eksibisi, lewat karya seni itu, Sutjipto Adi dengan cermat memanfaatkan limbah denim yang disambung membentuk persegi berukuran 6x6 meter untuk kemudian dilukis dengan pola-pola khusus dengan cat berwarna-warni dan membuatnya tampak indah saat dipandang.

”Beliau membuat sebuah karya besar yaitu di tengah-tengah kita, ini karya 6x6 meter dan ini dari perca denim yang disambung-sambung dan kemudian Pak Sujipto melukis di atas perca denim tersebut,” ujar Nonita.

Ubah Limbah Botol Plastik Jadi Kain

Salah satu hal spesial dalam kegiatan ‘Purana 17: Renjana Perca’, Nonita memperkenalkan inovasi yang telah dilakukan oleh Purana, sebuah inovasi mengubah limbah botol plastik menjadi kain, salah satu yang ditampilkan adalah sarung bantal. Jadi gambaran bagaimana limbah bisa diolah sedemikian rupa untuk dimanfaatkan kembali.

”Kami menghadirkan inovasi 'Waste to Fabric'. Di mana kami mengolah limbah botol plastik menjadi fiber kemudian dipintal menjadi benang yang selanjutnya ditenun menjadi kain,”

Lebih jauh Nonita menjelaskan bahwa proses transformasi limbah botol plastik menjadi kain memerlukan sejumlah proses, pertama botol plastik dicacah menjadi bagian-bagian kecil untuk kemudian diproses menggunakan mesin untuk mengubahnya menjadi fiber atau kapas.

”Mesinnya itu kami menggunakan mesin pembuat gulali, jadi cacahan botol pelastik yang pastinya sudah dibersihkan kami masukan ke dalam mesin untuk kemudian mesin itu akan mengubah plastik tadi menjadi fiber atau kapas. Untuk kemudian fiber dipintal menjadi benang,” terang Nonita.

Memiliki tahapan yang cukup sederhana untuk mengubah limbah botol plastik menjadi kain, dia pun berharap inovasi ini bisa jadi rujukan untuk masyarakat luas tanpa harus merogoh kocek yang dalam. Dengan tentunya diharapkan inovasi ini bisa memberdayakan lebih banyak masyarakat di luar sana.

“Cita-cita saya adalah agar ini bisa diproduksi secara massal dan saya berharap ini bisa dikelola oleh teman-teman di desa-desa atau kelurahan sehingga mereka punya motivasi untuk mengelola sampah,” tukasnya. (H-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |