Field Visit bertajuk Diplomasi Dekarbonisasi yang Berdaya Ungkit: Merumuskan Strategi Kemitraan Transformatif di KEK Industropolis Batang.(KEK Industropolis Batang)
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang didorong untuk mengadopsi konsep Eco Industrial Park (EIP) secara konsisten sebagai bagian dari upaya memperkuat pertumbuhan ekonomi sekaligus menekan emisi karbon. Dorongan tersebut menjadi salah satu kesepakatan dalam rangkaian Diskusi Terpumpun, Stakeholder Engagement, dan Field Visit bertajuk Diplomasi Dekarbonisasi yang Berdaya Ungkit: Merumuskan Strategi Kemitraan Transformatif di KEK Industropolis Batang yang berlangsung pada 6-7 Agustus 2026.
Forum tersebut membahas peluang dan tantangan transformasi KEK Industropolis Batang menuju kawasan industri yang lebih hijau dan berkelanjutan. Para pemangku kepentingan menilai penerapan konsep EIP perlu menjadi bagian integral dari pengembangan kawasan agar pertumbuhan investasi dapat berjalan beriringan dengan agenda dekarbonisasi.
Jawa Tengah menjadi salah satu daerah yang mendapat sorotan dalam diskusi tersebut. Provinsi ini merupakan salah satu kontributor penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, dengan laju pertumbuhan yang sempat mencapai 7,79% sebelum melandai menjadi 7,74%. Angka tersebut masih berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.
KEK Industropolis Batang turut dipandang sebagai salah satu magnet investasi yang mendukung aktivitas ekonomi Jawa Tengah. Namun, di sisi lain, provinsi tersebut juga tercatat sebagai penyumbang emisi karbon terbesar kedua secara nasional setelah Jawa Barat.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada investasi industri tanpa intervensi dekarbonisasi yang memadai dapat meningkatkan beban emisi di kawasan industri. Karena itu, transformasi KEK Industropolis Batang menuju model Eco Industrial Park dinilai semakin relevan.
Konsep EIP sendiri merupakan bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan global yang berkembang sejak Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan (UNCED) di Rio de Janeiro pada 1992. Dalam pengembangannya, model kawasan industri hijau di Shenzhen, Tiongkok, kini menjadi salah satu rujukan yang relevan, terutama seiring kerja sama Two Countries Twin Park (TCTP) antara Indonesia dan Tiongkok. Nota kesepahaman kerja sama tersebut telah ditandatangani di Batang pada 20 Maret 2025.
Staf Ahli Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri, Zelda Wulan Kartika, mengatakan pemerintah memiliki peran penting dalam membangun kemitraan internasional untuk mendukung transformasi ekonomi yang berkelanjutan.
"Kementerian Luar Negeri berperan sebagai fasilitator, katalisator, sekaligus problem solver dalam membangun kemitraan internasional. Ini semua untuk memperkuat ketahanan nasional yang adaptif, atau yang kami sebut dynamic resilience," kata Zelda.
Sementara itu, Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri (BSKLN) Kementerian Luar Negeri, Muhammad Takdir, menilai Indonesia perlu bergerak cepat dalam mengadopsi prinsip ESG dan mengembangkan kawasan industri hijau agar tetap kompetitif dalam memperebutkan investasi global.
"Indonesia punya dua pilihan: menawarkan diri sebagai destinasi investasi dengan menjadi bagian ESG atau kehilangan kesempatan terbaik karena tidak berada dalam ekosistem tersebut. Untuk masuk ke rantai pasok global, jendela kesempatannya singkat dan persaingannya semakin ketat. Transisi ke industri energi terbarukan dan pengembangan Eco Industrial Park adalah kunci untuk merebut peluang itu," ujar Muhammad Takdir.
Ia juga mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk memberikan dukungan kepada pelaku usaha yang telah lebih dahulu mengembangkan praktik bisnis dan pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan.
Dari kalangan akademisi, Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Negeri Semarang (UNNES) sekaligus perwakilan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Semarang, Prof. Dr. Sucihatiningsih DW Prajanti, mengatakan perguruan tinggi dapat mengambil peran dalam membangun ekosistem EIP melalui kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah.
"Sebagai perwakilan di daerah KEK Industropolis Batang, ISEI juga berpotensi berkontribusi atas ekosistem yang dapat mendukung dengan pelibatan Akademisi, Bisnis, dan Government (ABG). Penerapan Eco Industrial Park ini akan terus menjadi perhatian khusus ISEI Semarang. Kami akan mengawal agenda ini agar benar-benar terwujud di Batang," ujarnya.
Dukungan juga disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Mohammad Noor Nugroho. Menurutnya, transformasi KEK Industropolis Batang sejalan dengan agenda ekonomi hijau yang menjadi salah satu perhatian di tingkat daerah.
"Hal ini sejalan dengan agenda ekonomi hijau yang menjadi perhatian khusus kami di daerah," ujarnya.
Direktur Eksekutif Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja, selaku inisiator kegiatan, mengatakan forum tersebut menjadi ruang untuk merumuskan hubungan yang lebih produktif antara kawasan industri dan masyarakat di sekitarnya.
"Forum ini menjadi bahan refleksi penting bagi kita semua untuk menyusun simbiosis antara industri dan masyarakat sekitar KEK Industropolis Batang, agar hubungan keduanya menjadi lebih produktif dan berkelanjutan," jelas Dinna.
Setelah rangkaian diskusi, para delegasi melakukan kunjungan langsung ke KEK Industropolis Batang. Dalam kunjungan tersebut, mereka meninjau sejumlah fasilitas strategis kawasan, antara lain gedung pengelola, instalasi pengolahan air limbah (PAL), reservoir, serta jetty.
Delegasi juga berdialog dengan 14 perwakilan tenant kawasan, di antaranya PT Yih Quan, PT Rumah Keramik Indonesia, PT KCC Glass, PT Wavin, dan PT Indoprowel. Dialog tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kesiapan pelaku industri dalam menerapkan prinsip-prinsip industri hijau di kawasan.
Hasil diskusi dan kunjungan lapangan selanjutnya akan menjadi bahan masukan bagi Kementerian Luar Negeri RI dalam menyusun strategi diplomasi dekarbonisasi dan kemitraan transformatif. Sejumlah aspek yang akan menjadi perhatian mencakup regulasi, pembiayaan, infrastruktur, kelembagaan, hingga pelibatan masyarakat dan institusi pendidikan.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem Eco Industrial Park di KEK Industropolis Batang sekaligus mendukung pengembangan kawasan sebagai model twin park dengan Shenzhen, Tiongkok, yang dikenal sebagai salah satu kawasan yang berhasil menarik investasi global berbasis industri hijau.
Kegiatan tersebut diselenggarakan Synergy Policies bersama Kementerian Luar Negeri RI melalui Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri (BSKLN), dengan dukungan ViriyaENB serta menggandeng ISEI Pusat dan ISEI Semarang.
Sejumlah pihak turut terlibat, antara lain Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Bank Indonesia Institute, UNNES, Universitas Diponegoro (UNDIP), pengelola KEK Industropolis Batang, pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, dan unsur masyarakat. (E-3)















































