Musim kemarau panjang menyebabkan 40 hektare lahan pertanian gagal panen terjadi di Kecamatan Kawalu.(MI/Kristiadi)
MUSIM kemarau panjang yang melanda Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, mulai berdampak serius pada sektor pertanian. Sedikitnya 40 hektare lahan persawahan di Kelurahan Cigantang, Kecamatan Kawalu, dilaporkan mengalami gagal panen atau puso. Selain itu, sekitar 230 hektare lahan lainnya yang tersebar di 10 kecamatan kini terancam gagal tanam akibat ketiadaan pasokan air.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gerakan Petani Mandiri Indonesia wilayah Jawa Barat, Yuyun Suyud, mengungkapkan bahwa kondisi di Kecamatan Kawalu sudah tidak bisa terselamatkan. Tanaman padi yang baru mulai mengeluarkan bulir menguning dan mati sebelum waktunya.
"Lahan pertanian yang puso di Kecamatan Kawalu mencapai 40 hektare. Kondisinya tidak bisa terselamatkan karena setelah tanam, pohon menguning, keluar bulir, lalu memasuki kemarau ekstrem hingga semuanya gagal panen," ujar Yuyun yang akrab disapa Abah Uyung, Selasa (7/7/2026).
Menurut Yuyun, fenomena serupa juga terjadi di wilayah Kecamatan Tamansari dengan luas lahan terdampak yang bahkan melebihi Kecamatan Kawalu, serta sebagian di Kecamatan Cibeureum. Kemarau yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir memaksa para petani meninggalkan lahan garapan mereka sembari berharap pada asuransi mikro perlindungan petani.
Kendala Perbaikan Irigasi
Selain faktor cuaca, ancaman gagal tanam seluas 230 hektare di Kota Tasikmalaya juga dipicu oleh terganggunya distribusi air. Yuyun menyebutkan bahwa aliran Sungai Cikunteun saat ini sedang dalam proses perbaikan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
"Lahan gagal tanam ini tersebar di Kecamatan Kawalu, Tamansari, Tawang, Cibeureum, Purbaratu, hingga Indihiang. Perbaikan aliran Sungai Cikunteun berdampak langsung pada ketersediaan air di lahan seluas 230 hektare tersebut," tambahnya. Saat ini, hanya sekitar 60 hingga 70 hektare lahan yang masih bisa diupayakan melalui program hilirisasi air.
Petani Andalkan Pompa dan Pembagian Air
Di tingkat lapangan, para petani berupaya keras menyelamatkan tanaman yang tersisa. Dadang Sutardi dari Kelompok Tani Sukaraja melaporkan bahwa di wilayahnya terdapat 10 hektare lahan yang terancam gagal tanam. Sebagian petani kini sangat bergantung pada bantuan pompa air dan aliran dari Sungai Cimere Cimanggung karena saluran irigasi permanen tidak berfungsi.
"Di Kampung Sakaruji, Desa Sukaraja, lokasinya memang tadah hujan. Saat ini kondisi masih relatif aman karena ada pembagian air terjadwal selama 15 hingga 20 menit. Namun, jika dalam satu bulan ke depan hujan tetap tidak turun, dipastikan akan gagal tanam," pungkas Dadang.
Data Terdampak Kekeringan Kota Tasikmalaya (Juli 2026):
- Gagal Panen (Puso): 40 Hektare (Kecamatan Kawalu).
- Terancam Gagal Tanam: 230 Hektare (Tersebar di 10 Kecamatan).
- Penyebab Utama: Kemarau 3 bulan dan perbaikan irigasi Sungai Cikunteun oleh BBWS. (I-2)
















































