Kemenkes Soroti Promosi Vape di Medsos yang Picu Minat Remaja

4 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan menyoroti maraknya promosi rokok elektronik atau vape di platform digital. Promosi ini dinilai menjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya penggunaan, terutama di kalangan remaja.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Aji Muhawarman mengatakan promosi vape di media sosial dan platform perdagangan elektronik menjadi salah satu tantangan utama dalam pengawasan produk tersebut. “Masifnya promosi rokok elektrik di media sosial dan platform e-commerce menjadi tantangan dalam pengendalian,” kata Aji, dalam keterangan tertulis yang diterima dan dikonfirmasi, Rabu (16/4/2026).

Ia menjelaskan, paparan iklan yang luas di ruang digital membuat produk vape semakin mudah dijangkau oleh masyarakat, termasuk kelompok usia muda yang menjadi target pasar. Menurut dia, strategi promosi yang mengangkat gaya hidup modern serta penggunaan visual yang menarik turut membentuk persepsi bahwa vape adalah produk yang aman dan wajar digunakan.

Untuk mengatasi hal tersebut, dalam rangka menegakkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024, Kementerian Kesehatan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk menekan paparan iklan vape di ruang digital. Langkah tersebut mencakup sosialisasi regulasi kepada penyedia platform serta penindakan berupa pemutusan akses atau takedown terhadap konten iklan yang melanggar ketentuan.

Sementara itu, Guru besar di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Dr Faisal Yunus, PhD, SpP(K) menilai promosi yang menyasar gaya hidup menjadi faktor utama yang mendorong minat remaja terhadap vape. Faisal menilai pencegahan penggunaan vape pada remaja perlu dilakukan melalui pendekatan yang menyeluruh, tidak hanya melalui larangan.

Menurut dia, pembatasan akses menjadi langkah penting, termasuk penegakan batas usia serta pengawasan distribusi, terutama pada penjualan daring.

“Pembatasan atau pelarangan penggunaan zat perasa juga penting karena rasa menjadi faktor utama yang menarik minat remaja,” ujarnya, saat dihubungi.

Selain itu, ia menekankan pentingnya edukasi berbasis bukti yang menyoroti risiko nyata seperti adiksi nikotin dan dampaknya terhadap perkembangan otak. Peran keluarga, lanjut dia, dan sekolah juga menjadi kunci dalam pencegahan.

“Program di sekolah perlu tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga melatih keterampilan siswa untuk menolak tekanan sosial dari teman sebaya,” katanya. Ia menambahkan, strategi paling efektif adalah mencegah penggunaan sejak awal sebelum remaja mulai mencoba.

sumber : Antara

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |