Kementan Fasilitasi Komitmen Pelaku Usaha Jaga Harga Kedelai, HAP Rp 11.500 Disepakati

7 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) memfasilitasi kesepakatan antara importir dan pengrajin tahu tempe untuk menjaga stabilitas harga kedelai melalui penerapan Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp 11.500 per kilogram di tingkat importir.

Kesepakatan ini memastikan harga kedelai di tingkat pengrajin tetap berada di bawah Rp 12 ribu per kilogram sampai adanya perubahan kebijakan berikutnya. Jadi, stabilitas harga pangan berbasis kedelai tetap terjaga di tengah tekanan geopolitik global yang berdampak pada rantai pasok dunia.

Kesepakatan tersebut dicapai dalam rapat koordinasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan bersama asosiasi dan pelaku usaha pada Kamis (9/4/2026). Ini menegaskan komitmen bersama menjaga ketersediaan pasokan kedelai sebagai bahan baku industri tahu dan tempe.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Yudi Sastro mengatakan, isu yang berkembang di masyarakat telah terverifikasi dan tidak benar, serta memastikan komitmen bersama seluruh pihak tetap terjaga.

“Kami sudah memverifikasi langsung ke pelaku usaha, dan informasi yang menyebut harga kedelai tembus Rp 20 ribu itu tidak benar. Harga tetap di bawah HAP, bahkan di level importir masih sekitar Rp 11.500,” tegas Yudi.

Ia memastikan kondisi pasokan dan harga saat ini masih terkendali. “Persediaan masih cukup, harga juga masih terkendali sesuai acuan pemerintah. Jadi tidak perlu dikhawatirkan,” ujarnya.

Yudi menjelaskan, dinamika global memang memberikan tekanan, terutama pada biaya logistik, transportasi, hingga komponen penunjang lainnya.

“Memang ada dampak dari perubahan geopolitik yang menyebabkan ongkos produksi dan distribusi meningkat. Tapi untuk kondisi saat ini pasokan masih cukup dan harga masih terkendali. Ini yang perlu kami sampaikan agar tidak terjadi kekhawatiran di masyarakat,” jelasnya.

Ia juga menegaskan pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan. “Kita sudah berkomitmen bersama untuk menjaga implementasi HAP di lapangan tetap berjalan. Ini penting agar stabilitas pangan tetap terjaga,” katanya.

Berdasarkan data Gakoptindo yang diolah Badan Pangan Nasional per 8 April 2026, harga kedelai di berbagai wilayah masih berada dalam rentang yang wajar dan sesuai dengan HAP.

Di Jakarta, rerata harga kedelai di kisaran Rp 10.500-Rp 11.000 per kg, Jawa Rp 10.555 per kg, Bali dan NTB Rp 10.550 per kg, Sumatra Rp 11.450 per kg, Sulawesi Rp 11.113 per kg, dan Kalimantan Rp10.908 per kg. Angka ini masih berada di bawah HAP kedelai impor di tingkat konsumen (pengrajin tahu tempe) yang ditetapkan maksimal Rp 12 ribu per kg.

Dari sisi importir, Direktur PT FKS Multi Agro Tbk, Tjung Hen Sen, menyampaikan, harga dan pasokan kedelai masih dalam kondisi terkendali meskipun menghadapi tekanan global.

“Saya rasa di tingkat importir saat ini sudah wajar, mungkin di sekitar Rp 10.100 sampai Rp 10.300 per kilogram tergantung wilayah. Di tingkat pengrajin mungkin sekarang ini sekitar Rp 10.500 sampai dengan Rp 11 ribu per kilogram,” ujarnya.

Ia menegaskan, pelaku usaha terus berupaya menjaga stabilitas di tengah tantangan eksternal. “Saat ini kami mencoba dengan sangat keras menjaga kestabilan dari harga komoditas kedelai. Tapi perlu dicatat ada beberapa faktor seperti geopolitik yang berdampak pada ongkos logistik, asuransi kapal, hingga bahan penunjang,” ungkapnya.

Menurut dia, semua pihak harus terus bersinergi untuk menjaga stabilitas harga kedelai. “Menjaga stabilitas bukan tanggung jawab satu pihak saja, melainkan semua pihak baik swasta maupun pemerintah. Perlu saling bekerja sama supaya suasana usaha menjadi lebih kondusif,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Gakoptindo, Wibowo Nurcahyo, mengatakan, harga produk tahu dan tempe di tingkat pengrajin masih stabil.

“Kami jamin tahu tempe tidak naik harganya, tapi mungkin ada penyesuaian dari sisi volume. Dari sisi rasa dan kualitas tetap kami jaga. Hasil pantauan kami harga tahu tempe tetap stabil di kisaran Rp 12 ribu sampai Rp 13 ribu, tidak ada kenaikan yang cukup signifikan,” kata Wibowo

Ia memastikan pula, harga kedelai sebagai bahan baku utama masih berada dalam batas aman. “Untuk kedelainya kami beli dari importir itu di harga Rp 10.200 dan itu masih sangat jauh di bawah HAP (harga acuan penjualan), jadi kalau dari harga kami masih stabil. Justru sebenarnya yang menjadi sedikit masalah bukan dari kedelainya tapi dari penunjangnya yaitu plastik,” jelasnya.

Menurut Wibowo, pihaknya bersama para importir telah berkomitmen menjaga stabilitas harga dan pasokan. “Ya ada komitmen kami sepakat dari HAP Rp11.500 di tingkat para importir dan Rp 12 ribu di tingkat kami (pengrajin tahu tempe) dan menurut kami itu angka yang masih wajar. Kami harap masyarakat tidak terpancing dengan isu-isu berita yang tidak sesuai,” ucapnya.

Secara terpisah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya peran importir dalam menjaga stabilitas harga di tengah situasi global yang tidak menentu.

“Terkait kedelai, kami sudah minta teman-teman importir jangan mengambil keuntungan besar. Naik bolehlah naik tetapi jangan sampai itu menekan saudara-saudara kita yang membutuhkan,” tegas Mentan.

Menurutnya, situasi saat ini menjadi momentum bagi seluruh pelaku usaha untuk menunjukkan keberpihakan kepada bangsa. “Kapan lagi kita mau berbuat baik pada bangsa, ini kesempatan emas untuk berbuat baik pada negara kita yang kita cinta,” pungkasnya.

Kementan memastikan akan terus memantau implementasi kesepakatan ini serta mendorong peningkatan produksi kedelai dalam negeri.

“Tahun ini kita punya program pengembangan kedelai sekitar 37.500 hektare. Ini akan terus kita dorong sehingga ke depan ketergantungan terhadap impor bisa kita kurangi,” ucap Yudi.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |