Kenapa Bisa Ada Gerbong Khusus Wanita di Indonesia? Begini Sejarahnya

2 hours ago 1

CNN Indonesia

Kamis, 30 Apr 2026 20:30 WIB

Gerbong khusus wanita jadi sorotan setelah kecelakaan kereta yang melibatkan KRL Commuter Line dan Kereta Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Ilustrasi. Kecelakaan kereta beberapa waktu lalu meninggalkan rasa pilu. Seluruh korban tewas merupakan perempuan sehingga publik mulai menyorot gerbong khusus wanita. Seperti apa sejarah keberadaan gerbong berstiker pink ini? (CNN Indonesia/Febria Adha L)

Jakarta, CNN Indonesia --

Gerbong khusus wanita jadi sorotan setelah kecelakaan kereta yang melibatkan KRL Commuter Line dan Kereta Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4). Simak sejarah keberadaan gerbong khusus wanita di rangkaian KRL Commuter Line di Indonesia.

Kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line Cikarang masih jadi sorotan. Publik masih menantikan kejelasan penyebab kecelakaan yang melibatkan KRL dan kereta jarak jauh tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu yang tak kalah memilukan, seluruh korban tewas adalah perempuan. Pasalnya, KA Argo Bromo Anggrek menabrak gerbong khusus wanita. 

Sejarah gerbong khusus wanita

Gerbong khusus wanita pertama kali diresmikan pada Kamis, 19 Agustus 2010 oleh Menteri Perhubungan saat itu, Freddy Numberi, di Depo Depok, Jawa Barat, bersamaan dengan peluncuran KRL seri 7000.

Menhub menegaskan bahwa operator kereta tidak hanya berfokus pada keuntungan, melainkan juga kualitas layanan. Salah satunya diwujudkan melalui penyediaan ruang aman bagi perempuan.

Sejak awal, kehadiran Kereta Khusus Wanita (KKW) ditujukan untuk menjawab kekhawatiran perempuan terhadap risiko pelecehan di transportasi umum.

"Para wanita yang bekerja dan wanita yang pergi sendirian dengan membawa anak mendapatkan jaminan keselamatan, keamanan dan kenyamanan dengan adanya kereta khusus wanita ini," ujar Freddy, dilansir dari laman resmi Kementerian Perhubungan.

Gerbong ini menyasar perempuan pekerja hingga ibu yang bepergian dengan anak kecil, dengan harapan dapat meningkatkan rasa aman sekaligus menarik lebih banyak perempuan menggunakan transportasi kereta.

Sejalan dengan itu, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak saat itu, Linda Amalia Sari, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pencegahan kekerasan berbasis gender.

"Kereta Khusus Wanita merupakan wujud kepedulian Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan dan PT. KCJ dalam pencegahan kasus kekerasan terhadap perempuan, dimana pelecehan seksual merupakan salah satu bentuk tindak kekerasan. Gerbong khusus untuk perempuan merupakan bentuk kebijakan khusus untuk melindungi perempuan dari perlakuan kekerasan di dalam kereta api," ujarnya.

Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai terlibat kecelakaan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai terlibat kecelakaan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4). Gerbong khusus wanita KRL Commuter Line pun jadi sorotan pascakecelakaan tersebut. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Dalam implementasinya, gerbong khusus wanita ditempatkan di bagian paling depan dan paling belakang rangkaian kereta, dilengkapi penanda khusus berupa stiker.

Penempatan ini mempertimbangkan kemudahan akses serta kedekatan dengan petugas, sekaligus untuk memudahkan pengawasan selama perjalanan.

Selain itu, pemerintah juga menekankan pentingnya kehadiran petugas keamanan dalam jumlah memadai guna mencegah potensi kejahatan di dalam gerbong.

Kemunculan KKW juga tidak terlepas dari meningkatnya mobilitas masyarakat perkotaan, khususnya di wilayah Jabodetabek yang mengalami lonjakan pengguna transportasi massal.

Program ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam mengoptimalkan transportasi kereta untuk mengatasi kemacetan, sekaligus meningkatkan kualitas layanan publik.

Direktur utama PT Kereta Api dan PT KCJ saat itu, bahkan menyebut bahwa ide pengadaan gerbong khusus wanita muncul dari aspirasi langsung pengguna KRL sehingga menjadikannya sebagai respons terhadap kebutuhan nyata di lapangan.

Selain itu, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasyidin menjelaskan alasan pemisahan gerbong tersebut karena adanya beberapa aspek yang dipertimbangkan.

"Selama ini kami lakukan pemisahan itu karena ada beberapa aspek, aspek pertama adalah agar tidak terjadi harassment. Kedua adalah memberi kemudahan-kemudahan akses untuk para perempuan atau wanita juga. Ketiga adalah memberikan security yang lebih karena lebih dekat dengan penjaga di ujung," ucapnya di Stasiun Bekasi Timur, (29/4).

Lebih dari satu dekade sejak diperkenalkan, gerbong khusus wanita telah menjadi bagian penting dari sistem transportasi KRL di Indonesia. Awalnya dirancang sebagai ruang aman untuk perempuan, kebijakan ini kini kembali diuji dalam konteks yang lebih luas: keselamatan sistem transportasi secara keseluruhan.

Tragedi Bekasi Timur menunjukkan bahwa perlindungan berbasis gender tidak bisa berdiri sendiri tanpa didukung sistem keselamatan yang kuat.

Meningkatnya mobilitas masyarakat, pertanyaan yang kini mengemuka bukan lagi sekadar di mana posisi gerbong wanita seharusnya berada, melainkan bagaimana memastikan seluruh penumpang tanpa memandang gender terlindungi secara optimal dalam setiap perjalanan.

(nga/els)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |