Kenapa Pola Asuh Orang Tua Mempengaruhi Cara Remaja Mengelola Emosi

4 hours ago 6

Image Alifah Hibatullah

Parenting | 2026-07-11 00:47:56

Pernahkah kamu memperhatikan ada teman yang tetap tenang saat menghadapi masalah berat, sementara yang lain langsung meledak-ledak hanya karena hal kecil? Ternyata, salah satu penjelasannya bisa ditelusuri jauh ke belakang, yakni ke cara orang tua mendidik sejak kecil. Bukan hanya soal disiplin atau presentasi akademik, pola asuh ternyata punya andil besar dalam membentuk kemampuan remaja mengelola emosinya sendiri, atau dalam istilah psikologi disebut regulasi emosi.

Masa Remaja Itu Emosinya Memang Sedang 'Naik Turun'. Remaja bukan hanya soal jerawat dan galau tentang masa depan. Secara psikologis ini adalah fase dimana emosi sedang bergejolak lebih intens dibanging masa kanak-kanak. Wajar kalau remaja lebih mudah, lebih dramatis, atau lebih sulit mengendalikan diri saat marah. Yang menjadi masalah adalah jika kondisi ini tidak pernah 'terlatih' untuk dikelola dengan baik. Remaja yang kesulitan meregulasi emosi biasanya lebih rentan merasa cemas berlebihan, mudah meledak, atau bahkan terjebak dalam pola perilaku yang tidak sehat sebagai pengungsi. Di sinilah peran keluarga khususnya pola asuh orang tua menjadi krusial.

Empat Jenis Pola Asuh ( parenting) Menurut Psikolog Diana Baumrind

Psikolog Diana Baumrind membagi pola asuh orang tua berdasarkan 2 hal, yaitu seberapa hangat orang tua terhadap anak dan seberapa besar kontrol yang mereka terapkan. Dari situ muncul 4 jenis gaya pola asuh:

A. Otoritatif : hangat sekaligus tegas. Orang tua memberi kebebasan, tapi tetap ada aturan yang jelas dan bisa didiskusikan.

B. Otoriter : serba ketat, minim ruang dialog, “pokoknya harus nurut” tanpa penjelasan.

C. Permisif : serba boleh, minimal batasan. Anak dimanja tapi jarang diberi aturan.

D. Penentar : orang tua kurang terlibat sama sekali, baik secara emosional maupun dalam mengontrol perilaku anak.

Dari keempat pola asuh ini, penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa pola asuh otoritatif adalah uang paling mendukung perkembangan emosi remaja secara sehat.

Beberapa penelitian di Indonesia sudah membuktikannya secara langsung. Riset pada remaja disebuah Universitas menemukan bahwa remaja yang dibesarkan dengan pola asuh otoritatif cendering mampu mengontrol dan mengekspresikan emosinya secara tepat, bahkan dalam situasi yang menekan. Sebaliknya remaja yang dibesarkan secara otoriter, dimana orang tua justru sering menghalangi anak menunjukkan emosi negatif ternyata lebih sulit meregulasi emosinya.

Penelitian lain pada siswa SMA menemukan hal serupa. Semakin demokratis pola asuh orang tua (ada komunikasi dua arah, kebebasan yang disertai tanggung jawab, dan kedekatan emosional), semakin baik pula kemampuan siswa dalam mengelola emosi mereka. Bahkan pada anak Ramaja yang lebih muda, ditemukan pola yang sama. Anal-anak yang tumbuh dengan orang tua yang responsif, yang mau mendengarkan dan mendukung secara emosional yang lebih baik, dibandingkan mereka yang dibesarkan dengan gaya otoriter maupun permisif.

Mengapa Bisa Begitu?

Kalau dipikir-pikir, ini sebenarnya masuk akal. Bayangkan dua skenario dibawah ini:

Remaja pertama kali dibesarkan oleh orang tua yang mau mendengarkan saat ia marah atau sedih, lalu membantu memahami apa yang ia rasakan. Remaja ini akan belajar bahwa emosi itu dapat dirasakan dan ada cara yang sehat untuk menghadapinya.

Remaja kedua dibesarkan oleh orang tua yang langsung mengatakan “diam” atau “jangan cengeng” setiap kali ia menunjukkan emosi. Remaja ini tidak benar-benar belajar bagaimana cara mengelola emosi, ia hanya belajar menyembunyikannya yang justru bisa meledak di kemudian hari.

Orang tua yang hangat sekaligus tegas pada dasarnya menjadi 'contoh hidup' bagi remaja tentang bagaimana menghadapi emosi secara sehat, sekaligus memberi rasa aman untuk mencoba dan belajar dari kesalahan.

Lalu Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

Kabar baiknya, pola asuh itu bukan sesuatu yang kaku dan tidak bisa berubah. Beberapa hal sederhana yang dicoba orang tua antara lain adalah:

A. Dengarkan dulu, baru menasihati. Sebelum buru-buru memberi solusi atau menyalahkan, coba pahami dulu apa yang sedang dirasakan anak.

B. Beri ruang untuk menjelaskan. Remaja yang dilibatkan dalam diskusi keluarga cenderung lebih terbuka soal apa yang mereka rasakan.

C. Tetap punya batasan, tapi jelaskan penjelasannya. Aturan tetap penting, tapi remaja akan lebih mudah menerima kalau mereka paham kenapa aturan itu ada.

D. Jadi contoh, bukan Cuma menyuruh. Remaja belajar mengelola emosi dengan melihat bagaimana orang tuanya menghadapi stres atau kemarahan sehari-hari.

Kesimpulan

Cara kita dibesarkan memang meninggalkan jejak yang panjang, termasuk dalam cara kita menghadapi emosi sendiri saat remaja hingga dewasa. Bukan berati semua masalah emosi remaja adalah salah pola asuh saja, karna banyak faktor lain yang juga berperan. Tapi satu hal yang jelas. Kehangatan yang diimbangi dengan batasan yang jelas dari orang tua adalah kombinasi yang paling mendukung remaja untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih stabil secara emosional.

Referensi:

https://socialsci.libretexts.org/Bookshelves/Early_Childhood_Education/Parenting_and_Family_Diversity_Issues_(Lang)/04%3A_Parenting_Styles/04.1%3A_Baumrind's_Parenting_Styles

https://emotion.wisc.edu/wp-content/uploads/sites/1353/2021/11/Gross-1998-The-Emerging-Field-of-Emotion-Regulation-An-Integrative-Review.pdf

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |