Ketika Negeri Minyak Bersiap Hidup Tanpa Minyak

1 hour ago 1

Oleh: Ahmad Dumyathi Bashori, Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Selama puluhan tahun, Arab Saudi dibaca dunia melalui dua simbol besar: minyak bumi dan konservatisme sosial. Namun, perubahan geopolitik, tekanan transisi energi, serta ketidakpastian pasar global memaksa kerajaan itu meninjau ulang fondasi kekuatannya. Riyadh kini tidak lagi ingin sekadar dikenal sebagai pemasok energi, tetapi sebagai negara yang mampu bertahan ketika minyak kehilangan dominasi.

Di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman melalui Visi Saudi 2030, kerajaan menjalankan transformasi ekonomi dalam skala besar. Ketergantungan pada pendapatan minyak mulai dikurangi dengan membangun sektor-sektor baru, mulai dari pariwisata, industri, teknologi, hiburan, pertambangan, hingga energi terbarukan. Bagi Saudi, diversifikasi bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan strategis untuk menghadapi masa depan pascaminyak.

Ujian terbesarnya justru datang ketika harga minyak kembali melonjak. Pada masa lalu, kenaikan harga komoditas kerap menjadi jebakan yang membuat negara-negara kaya sumber daya menunda reformasi karena terlena oleh pendapatan besar. Namun, Riyadh berusaha mengambil jalan berbeda: menggunakan keuntungan minyak untuk membiayai transformasi, bukan untuk kembali bergantung kepadanya. Di situlah paradoks baru Saudi terlihat, kekayaan dari energi fosil justru dipakai untuk mempersiapkan kehidupan ketika minyak tak lagi menjadi pusat dunia.

Windfall profit dari komoditas fosil tidak lagi dihamburkan untuk subsidi konsumtif, melainkan dialirkan secara terukur oleh Dana Investasi Publik (PIF) untuk mempercepat mega-proyek non-minyak. Saudi membuktikan bahwa lonjakan harga fosil bukanlah alasan untuk memutar balik arah atau memperlambat langkah, melainkan bahan bakar finansial utama untuk mempercepat perpindahan ke era ekonomi baru.

Gebrakan 'Saudi Made' dan Alih Teknologi Masif

Wujud paling konkret dari diversifikasi ini tidak hanya terlihat dari panggung hiburan, pembukaan bioskop, atau transfer pemain sepak bola megabintang dunia yang kerap dikritik sebagai aksi sportswashing semata.

Di balik sorotan panggung megah dan diplomasi lunak itu, ada fondasi industri yang sedang dibangun secara sistematis melalui inisiatif nasional bertajuk "Saudi Made" (Made in Saudi) di bawah pengawasan Saudi Export Development Authority. Program ini bukan sekadar pameran simbolis, melainkan peta jalan strategis untuk mengerek target porsi ekspor non-minyak dari 16% menjadi 50% terhadap PDB Non-Minyak pada tahun 2030.

Pencapaian lapangan program ini terbukti substantif. Hingga saat ini, lebih dari 1.740 perusahaan lokal telah bergabung dalam ekosistem Saudi Made, membawahi lebih dari 7.600 produk bersertifikasi yang telah menembus pasar ekspor ke lebih dari 180 negara.

Dengan demikian, kalau belanja di toko kelontongan di sekitar Masjid al-Haram produk-produk yang dahulu produk impor sekarang sudah berubah menjadi Saudi Made atau Made in Saudi. Dan mengaitkan brand nasional dengan standar mutu global ini terbukti ampuh mengubah persepsi dunia: Kerajaan tidak lagi hanya menjual minyak mentah, melainkan mengekspor ragam produk manufaktur canggih, bahan kimia bernilai tinggi, hingga teknologi terapan.

Strategi utama yang diusung dalam pilar industri ini adalah alih teknologi secara masif (technology transfer) dan penetapan kriteria kandungan lokal (local content requirement). Saudi secara tegas mengubah posisinya dari sekadar pembeli pasif produk asing menjadi mitra manufaktur strategis. Setiap investasi asing yang masuk, proyek pengadaan pertahanan, hingga manufaktur otomotif dan energi terbarukan kini wajib diikat dengan klausul ketat berupa lokalisasi rantai pasok dan transfer pengetahuan kepada tenaga kerja lokal.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |