Pengunjung menikmati hidangan di Rumah Makan Batang Gadis, Cibubur, Jakarta Timur.(Dok.Istimewa)
KULINER khas Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), Sumatra Utara, dihadirkan di Jakarta melalui Rumah Makan Batang Gadis, Cibubur, Jakarta Timur. Rumah makan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat asal Mandailing dan Tabagsel di perantauan untuk menikmati kembali makanan yang lekat dengan kampung halaman.
Kisah kuliner dan budaya Batang Gadis dibahas dalam program “Bincang Tipis-Tipis” yang dipandu Erman Tale Daulay dengan tema “Dari Sungai Batang Gadis Mengalir ke Meja Makan di Ibu Kota”. Hadir sebagai narasumber pemilik Rumah Makan Batang Gadis Muhammad Nuh Nasution dan dosen Universitas Indonesia sekaligus peneliti budaya Tabagsel Akhir Marua Harahap.
Muhammad Nuh mengatakan pemilihan nama Batang Gadis tidak semata-mata berkaitan dengan bisnis. Nama tersebut diambil dari sungai yang memiliki banyak kenangan bagi masyarakat Mandailing. “Batang Gadis ini penuh kenangan,” ujar Muhammad Nuh.
Menurut dia, Batang Gadis dahulu menjadi tempat anak-anak berkumpul, memancing, menjala ikan, berenang, hingga menjadi jalur menuju sawah. Kenangan tersebut kemudian dibawa ke Jakarta melalui nama dan menu rumah makan. “Dengan melihat nama Batang Gadis, maka teringatlah Tabagsel, teringatlah Mandailing,” katanya.
Rumah makan itu menyajikan sejumlah makanan khas Tabagsel, seperti daun ubi tumbuk, ikan mas bakar, ikan mas gulai, ikan sale, holat, dan sambal tuktuk. Hidangan tersebut ditawarkan untuk memenuhi kerinduan perantau terhadap makanan yang mereka kenal sejak kecil. “Harapannya, tanpa berpanjang lebar, dengan melihat Batang Gadis maka sudah terbayang kampung halaman,” tuturnya.
PERAN BATANG GADIS
Akhir Marua menjelaskan, Batang Gadis tidak hanya penting dari sisi ekologis, tetapi juga memiliki peran dalam perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam bahasa setempat, “batang” merujuk pada sungai. Istilah serupa juga digunakan pada Batang Angkola, Batang Toru, Batang Barumun, dan Batang Pane.
Menurut dia, daerah aliran sungai Batang Gadis sejak dahulu menjadi jalur pergerakan manusia dan barang. Sungai berfungsi sebagai penghubung wilayah hulu dan pesisir sekaligus menjadi ruang perdagangan serta pertukaran pangan dan budaya. “Sebagai jalan tol, berarti lalu lintas yang paling padat dan paling cepat melalui daerah aliran sungai tersebut,” jelas Akhir Marua.
Interaksi masyarakat dengan lingkungan kemudian membentuk tradisi kuliner Tabagsel. Kesuburan kawasan aliran Batang Gadis menyediakan beragam tumbuhan dan bahan pangan yang diolah menjadi makanan, termasuk daun ubi tumbuk dan holat.
“Dari wilayah lokal di daerah aliran sungai, tanahnya subur, tanamannya beragam. Dari situlah terbentuk warisan kuliner kita sampai sekarang,” ujarnya.
Akhir Marua juga menyoroti ikan merah yang hidup di sungai berarus deras. Ikan tersebut sulit diperoleh sehingga pada masa lalu memiliki nilai khusus dalam tradisi kuliner masyarakat. “Dia menjadi makanan para raja-raja di zaman dulu,” katanya.
KREATIVITAS KULINER
Selain bahan pangan, sambal tuktuk disebut sebagai contoh kreativitas kuliner masyarakat Tabagsel. Sambal berbahan cabai dan garam tersebut menggunakan ikan gadapang dari kawasan pesisir. Nama tuktuk berasal dari proses menumbuk bahan-bahan tersebut.
Menurut Akhir Marua, keberadaan sambal tuktuk menunjukkan hubungan antara masyarakat pedalaman dan pesisir melalui jaringan perdagangan masa lalu.
“Di zaman dulu, sambal tuktuk adalah produk baru, hasil pemikiran orang-orang kita. Karena diterima secara umum dan rasanya enak, dia tetap lestari sampai sekarang,” jelasnya.
Di Jakarta, makanan tradisional tersebut menjadi sarana mempertahankan identitas budaya masyarakat perantauan. Muhammad Nuh mengatakan pelanggan tidak hanya datang untuk menikmati makanan, tetapi juga mencari suasana kampung halaman. “Rata-rata tamu kita sangat menikmati dan mengatakan rasanya enak dan serasa di kampung halaman,” katanya.
Rumah Makan Batang Gadis menjadi salah satu ruang bagi kuliner Tabagsel untuk tetap hidup di perantauan. Melalui makanan, ingatan tentang sungai, lingkungan, perdagangan, dan kehidupan masyarakat Mandailing terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (E-2)














































